Dibagikanlah kupon penghidupan untuk para anak kelas 1 tadi, kupon penyelamatan untuk lapar siang mereka. Melelahkan untuk padol mencari kumpulan ekor junior yg rada malu kepayang dari tadi, namun memang itulah yg harus ia kerjakan. Belum selesai padol berjalan kembali ke spot para panitia yg telah ditentukan ada suara teriakan yg menganggu telinganya, suara ini lebih penting dibandingkan suara orang yg menjerit kehilangan dompet !
"Padol...! Tunggu, snack kita belum sampai, toko belum buka ! Pinjam uang semua panitia, kita beli seadanya dulu, cepatt...!" Teriak lantang Adi, ketua konsumsi dalam kepanikan memang keliatannya...
"Ok boss...!"
Lari dengan langkah terhela padol pun berteriak meminta para panitia mengumpulkan uang seadanya untuk konsumsi seadanya pula yg nanti ia akan beli, urusannya bukan mengumpukan uang atau mengumpulkan panitia tapi uang panitia agak susah untuk ditarik
"Cepatlah, seadanya keluarin kita darurat siaga empat...! Dari pada Hotpin nyayok lagi, cepat" memang padol pintar dalam mendesak orang atau mendesak orang melahirkan?
"Kumpulkan dikardus minuman tu nah, cepat cepat"
Setelah uang terkumpul ternyata semua yg memberi menganggap itu hanya sumbangan ala kadarnya, semua dalam kardus hanya uang lusuh seribu dua ribu. Tapi untungnya uang bisa mencapai hitungan dua ratus ribuan, karena tombokan padol 200 ribuan, semua yg terkumpul sebenarnya hanya 36 ribu. Ternyata banyak panitia yg tidak di spot panitia, dari pada bingung padol pun dgn segera menghadap adi.
"Cepat kita ke toko yg bukak, yg penting rombongan tamu yg gak penting itu kena sedikit dari pada gak ada... Motor ada dimana dol?"
"Itu dia masalah lanjutannya di, motor ada kunci gak ada"
"Hais! motor aku ada nah, cepet ke parkiran depan"
Satu hal yg meragukan padol, motor adi kadang bertingkah. Ini bisa dilihat dari adi yg sering terlambat datang masuk, alesannya monoton dan selalu itu saja padol pikir, Motornya bertingkah kegatelan, motornya selalu ingin disentuh dulu gusi atau apapun agar mau hidup. Kadang pula adi harus mendorong agar motornya mau hidup, tapi biarlah asal acara ini tetap "hidup" maka padol mengamini saran adi.
Betul, motor adi bertingkah dan ini sangat menjengkelkan bagi fisik padol. Ia harus mendorong sambil berlari sekencang mungkin lalu menolak pantat motor, sementara adi ada diatas motor dan susah pula dibedakan waktu itu apa adi ini mengendalikan starting gas motornya atau pelanggan becak padol ? Sekitar beberapa menit dorong-dorongan akhirnya motor pun hidup kembali, dan keringat padol mulai berlahiran.
Jarak yg akan ditempuh motor ini juga meragukan, motor yg hidupnya susah pasti akan menjalani hidupnya yg susah pula. Dan apa yg logika padol dapat akhirnya menjadi nyata, ditengah perjalanan pula motor itu berhenti layaknya kehilangan nafasnya untuk berjalan. Adi yg sudah terbiasa menghadapi tingkah motornya itu hanya mengumpalkan ekspresi datar, namun lain hal dgn padol, ekspresinya seperti anak kecil yg akan menghadapi sunatannya.
"Arrrgghh...! Harusnya motor ni masuk museum ajalah, baru juga jarak seratus meteran udah betingkah lagi, udah aku naik ojeklah. Besok beli becak ajalah kau di, sama aja harus didorong dulu... Ojek !!"
"Jangan dihina ni motor, dari buyut sampai ayahku pakek ni motor. Kan katanya warisan harus digunakan"
"Warisan sih warisan, tapi kalo gini sama aja kau melihara buyut kau di... Sama-sama tua, juga nyusahin.."
Lalu ojek menghampiri padol, dan mereka bergegas pergi ketoko snack mana yg bukak saja dulu. Urusan lain nantilah pikir padol, ia pun bingung harus kemana ia pergi. Kearah pasar baru atau pasar ikan?
"Kemana kita dek? Rapi bener? Kondangan mana ni?"
"Toko snack pak, bukan kondangan -_- eh toko snack yg mantep dimana ya pak?"
"Mau yg seribu dapet dua atau dua ribu dapet tiga atau gimana ini dek?"
"Haduh pak, bukan snack untuk anak TK bapak... Snack untuk tamu penting gituu"
"Ohhh, bapak tau dek... Mau kesitu?"
"Ok pak, kesana aja cepet pak"
Entah dimana alamatnya padol pun tak dijelaskan, tapi ya sudahlah yg penting ia dapet snack untuk pagi ini saja dulu. Berkebutanlah mereka dgn waktu, agak memakan waktu memang namun akhirnya padol sampai ditempat yg bapak ojek tadi maksudkan. Tempatnya memang kurang dikenal, tapi padol pernah datang disini sebelumnya. Ia ingat-ingat dan ternyata ini toko tetangga sebelah kiri rumahnya...
Tanpa pikir panjang padol langsung masuk kedalam sasaran dan melihat semuanya telah tersedia dari kue ijo, gorengan dan apapun itu. Lalu terlihat sesosok bayangan mengambang dari kasir,
"Selamat pagi pelanggan pembawa hoki, mau yg mana nih? Kue ijo beserta lelehan kelapa didalamnya atau...."
"Bapak stop, saya kesini bukan untuk dengerin bapak promosi bahan tapi tolong uang saya ada 236 ribu dapet aja ni?"
"HOKI ! HOKI ! Pagi-pagi sudah kedatengan Sukarno-Hatta beserta 36 yang lain, oke adek kami bisa memberikan yg terbaik...."
"Bapakkk, cepet bungkus ajalah...."
'"Oke ! Silahkan tunggu diruang tunggu, sebelah kanan ini yaa"
Ruang tunggu yg dimaksukan hanyalah kursi usang, memang jika dilihat toko bapak ini sedikit tua...
Agak 10 menitan bapak tadi datang dan menyodorkan pesanan padol tadi...
"Ini nak HOKI..."
"Cukup pak, ini uangnya pak. Terima kasih banyak bapak, salam HOKI !!"
Selesailah padol dengan urusan ini dan tinggal kembali ke SMA lagi, naik ojek lagi dan tak lupa dibayar sampailah padol lagi. Ini sudah sangat menyiksa padol rasanya, dan dilihatnya adi juga sama susahnya menahan perasaan dicaci maki hotpin yg menganggap kerja adi kurang, tapi setibanya padol semua berubah
"Bos ini snacknya, semuanya 236 bos..."
"Mantap padol ! Nah coba kau lihat kerja padol, luar biasa ini yg harusnya jadi ketua... Bawa ini keruangan itu dan sajikan ketamu nyusahin itu, ini ganti uang kamu, ambil ajalah kembaliannya"
Hoki bagi padol karena uang yg dikembalikan hotpin lebih 4ribuan sih cuman, namun ini sudah untung bagi padol. Berkebutanlah lagi mereka dgn waktu untuk menyajikan snack tadi untuk para tamu undangan,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar