Entri Populer

Jumat, 25 April 2014

A story from Oxford #part3

   Didepan toko ada jejeran buku yang dipajang dalam lemari kaca, mungkin maksudnya untuk memperlihatkan para pengunjung beberapa yang mereka miliki. Ciel juga terlihat memeriksa lemari itu, bahkan sepertinya dia sangat fokus lebih dari ia fokus saat mengisi soal ujian pagi tadi. Sepertinya ia tak menemukan apa yang ia cari, buku itu kelihatannya sangat langka sampai-sampai ia harus mencarinya ditoko seperti ini. Bisa aku pastikan ini adalah toko yang berisikan buku-buku tua karena didepan saja tertulis "The Oldest books are belong here" entah salah penulisan atau bagaimana aku juga tak mengerti tapi memang bisa aku pastikan begitu karena buku dalam lemari kaca ini saja semuanya seperti sudah setengah abad umurnya, ini bisa dilihat dari cover look yang sangat kusam dan agak berdebu. Apa sebenarnya yang Ciel inginkan, buku setua apa yang ia cari dan apakah buku itu sangat langka? Agak beberapa lama Ciel pun sepertinya bosan karena tidak menemukan buku yang ia cari, ia pun masuk kedalam toko dan langsung menuju kasir padahal ia belum berniat untuk membeli atau juga membayar.
   Maksudnya ia menanyakan kepada sikasir toko buku yang ia cari, aku hanya masuk dan melihat-lihat buku lainnya dan buku semua disini semuanya tua dan semakin menua. Ciel kelihatannya kembali kecewa, kali ini sangat berbeda karena mungkin ia telah lelah dan tidak mendapatkan bukunya. Dengan sangat kecewa ia menuju kearah rak buku dongeng, apa yang cari buku dongeng? Aku menghampirinya karena aku takut ia akan mengamuk dan merusak semua buku disini...

     "Ciel, tell me buku apa yang sebenarnya kau inginkan..."

   Ia sangat sedih dibandingkan sebelumnya, mungkin karena sudah berjalan jauh dan mencari sana-sini alamat toko ini atau adakah sesuatu dengan buku ini dengannya. Aku merasa ia sangat membutuhkan buku, tidak mungkin ada seorang yang mencari sebuah buku sampai sejauh ini kalau tidak memiliki alasan yang sangat kuat dan penting. Bahkan buku ini sangatlah tua jika dibandingkan umurnya, aku sangat merasakan hal ini tapi aku tak ingin menambah rusak suasana untuk menanyakan alasannya mengejar buku langka ini. Karena aku tak pernah melihat dia berusaha sejauh ini hanya karena sebuah buku yang tak tahu aku seberapa penting buku ini untuknya, biarlah dia menikmati dulu sejuknya toko buku ini beserta dongeng yang sedang ada dalam pegangannya.
   Kemudian ciel mengambil handphone didalam kantung jaketnya dan menunjukkan sebuah foto buku, seperti buku ini keluaran tahun 1950'an kebawah karena warnanya sangatlah kusam dan sepertinya buku itu adalah cetakan pertama dan tak dilanjutkan lagi cetakannya. Ia kembali menutup ponselnya dan kembali murung, tapi aku rasa kasir tidak akan tahu tentang apa yang ada disini karena urusannya hanyalah ketika orang datang membayar dan mengembalikan uang kembalian para pembeli. Lalu tidakkah orang ber-IQ 145 tidak sadar akan hal ini, aku menuju kasir dan menanyakan dimana sipemilik toko sebenarnya. Kasir mengatakan sipemilik telah lama meninggal dan sekarang hanya ada istrinya dilantai atas toko, lalu aku memintanya untuk memanggil istri pemilik toko untuk turun karena aku pikir kami bisa menemukannya disini. Dengan senyum ramah, sikasir naik kelantai atas dengan aku hanya pasrah menunggu. Ciel masih kecewa dan mengantungkan tangannya dirak buku, ia masih saja memandang kearah buku-buku dongeng tua didepannya itu. Sekitaran dua menit kasir turun bersama seorang nenek tua, dan ia adalah istri dari pemilik toko ini.
   Namanya adalah Mrs. Michelle yang biasanya dipanggil Mrs. Mc dan ia kelihatannya sangat rentan dan kira-kira umurnya sekitar 70tahun, ia menyambut kami dengan senyum dan bersemangat. Aku agak ragu untuk menanyakan sebuah buku langka ini kepada Mrs. Mc karena apakah ini akan menganggunya atau malah membuatnya senang karena akan ada bukunya yang terjual, tapi lebih baik aku menanyakan kepadanya tentang buku ini...

     "Glad, very happy to come here Mrs. Mc... Do you give me a favor??"
     "Sure son, proceed..."
     "I've looking for one books.. a rare book exactly, do you ever see this book...??"

   Aku mengambil ponsel Ciel dan melihatkannya buku yang sedang kami cari ini, ia sepertinya sangat terkejut setelah melihat buku ini...

     "is it really? You looking for this book?"

   Dia mengambil sesuatu dari baju hangatnya, dan luar biasa itu adalah buku yang kami cari dan seandainya kalian bisa melihat betapa gilanya ekspresi yang kami ciptakan. Ciel bahkan hampir pingsan karena melihat buku itu, buku yang sudah lama sekali ia cari dan sekarang ada didepan matanya dan hanya terpisah dalam jarak hanya satu ayunan tangan. Aku tersenyum dengan lega, namun Ciel malah menangis mungkin karena terharu. Dia memeluk nenek itu, dan aku semakin tak mengerti apa yang sedang terjadi dan apa hubungan yang menyatukan tangisan, ciel, nenek dan buku ini. Kelihatannya aku akan mengetahui apa alasan ciel sangat bersyukur setelah buku ini ia temukan, ia secara spontan merangkul tangannya kelenganku dan secara manja sekali ia menyandarkan kepalanya dibahuku. Ia sangat letih hanya karena menangis, atau mungkin ada sesuatu yang lepas dari beban batinnya. Untungnya ditoko belum ada pengunjung lain saat ciel menangis, andaikan ada mungkin mereka tak akan lagi mengunjungi toko ini.
   Sama denganku, nenek tadi juga heran apa alasan yang membuat ciel begitu mencari buku ini. Padahal buku ini hanya dicetak sekali dan sangatlah tua untuk selera anak-anak seumuran kami, dia masih menangis dan aku hanya bisa menahannya dibahuku. Dia mulai bercerita tentang buku itu, buku yang membuatnya begitu haru menangis tadi. Kata pertamanya adalah teruntuk padaku, ia ingin duduk sambil menyandarkan kepalanya dibahuku dan aku menyetujuinya. Nenek tadi mengajak kami kelantai atas, dan menyiapkan teh hangat untuk kami. Kami berjalan kelantai atas dan dia belum mau melepas lenganku. Nenek tadi dituntun oleh sikasir meniti tangga keatas, dan kami sekali lagi dibuat takjub oleh nenek ini. Ternyata dilantai atas adalah lautan buku-buku tua, luar biasa bahkan nenek ini bisa membuka perpustakaan kalau ia mau. Kami pun duduk disofa dan nenek mengambil dua gelas teh untuk kami, aku hanya bisa menenangkan ciel yang masih menangis.
   Kami pun duduk, dan mulai mendengar ciel...

     "Buku ini adalah kenanganku ketika aku mendapatkan piagam olimpiade fisika seluruh sekolah menengah akhir di Paris. Ini adalah hadiah dari nenekku, ia mengatakan simpan buku ini dan jangan sampai kau hilangkan. Tapi aku lupa dan ceroboh, aku meninggalkan disuatu hotel saat aku olimpiade tingkat dunia di London. Ketika aku pulang ke Paris, aku lupa kalau aku membawa buku itu ketika aku pulang nenek sudah masuk kerumah sakit..."

   Neneknya meninggal, saat buku itu diberikan dan itulah terakhir kali ciel bertemu dengan neneknya dan dia malah menghilangkan buku itu. Dia pun mengatakan pada ayahnya dan mereka menelpon kehotel tempat ciel menginap, mereka mengatakan buku itu sebenarnya mereka temukan dan kami mengumumkan kepada pengunjung namun tak ada yang mengakui memiliki buku itu. Mereka memeriksa daftar buku pengunjung dan ada nama ciel disana, tapi mereka beranggapan bahwa ciel tak akan mungkin bisa kembali kehotel karena ciel dari Prancis. Akhirnya mereka menyimpannya, tapi salah satu pengunjung melihat buku itu dan dan malah memintanya dan karena tak ada kabar dari ciel mereka pun menyerahkan buku tersebut. Itulah penyesalan terbesar dalam hidup ciel, makanya ia bertekad sejak itu untuk bersekolah di Oxford karena lokasinya tak jauh dari London dan berharap suatu saat menemukan kembali buku itu. Nenek pemilik toko buku ini ternyata menangis juga, ia sangat tersentuh dengan perjuangan ciel untuk mendapatkan kembali buku.
   Ia kemudian meyerahkan buku itu, judulnya adalah "The Strange Room" karya Claudia Lewis, gambar cover bukunya ada seorang anak balita melihat kedalam sebuah ruangan dari sebuah jendela. Ciel memeluk erat buku itu, aku rasa ia bukan memeluk buku itu tapi memeluk kenangan saat ia bersama neneknya. Setelah kami meminum teh tadi, kami memutuskan untuk kembali ke Oxford sebelum hari terlalu malam karena hari telah menunjukkan pukul 03.42 sambil menyerahkan uang yang jumlahnya cukup besar kepada nenek pemilik toko tadi, namun ia menolaknya karena ia merasa sudah terbayarkan dengan kisah perjuangan ciel mendapatkan buku itu. Namun ciel menaruh uang itu ketangan renta beliau karena ciel merasa bukan membeli bukunya tapi membeli kenangan ketika ciel bersama neneknya dan itu sangatlah mahal, dan nenek pemilik toko menerima uang tersebut dan mendo'akan kami untuk lancar dan tetap bersama. Mungkin dia mengira kami berpacaran, tapi kami hanya membalasnya dengan tersenyum. Kami pun turun kelantai bawah, dan mengucapkan kekasir atas bantuannya hari ini dan kembali sikasir melempar senyum ramahnya.
   Ciel sangat senang dan ia memintaku untuk menyetir kejalan pulang, namun ia ingin membeli sesuatu lagi yaitu syal untuk dekan dan istrinya. Lalu ia pun menunjukkan jalan arah kemana aku harus pergi, disepanjang perjalanan ia tak henti-henti memeluk buku itu dengan memejamkan mata. Aku tak berani menganggunya, karena itu mungkin saja adalah kenangan terbaiknya. Setelah berjalan beberapa jauh, kami sampai disebuah toko. Kelihatannya ini akan lama, makanya aku memutuskan untuk sholat Ashar terlebih dahulu selagi dia mencari syal, aku tak membawa mobil karena tadi aku melihat masjid tak jauh dari tempat kami berhenti sekarang. Ciel dgn riangnya masuk ketoko dan aku menuju masjid, karena waktu ashar telah masuk. Untuk mencapai masjid cukup dgn berjalan kaki saja sudah sampai, disamping sehat orang yang berjalan kemasjid dgn niatan ibadah akan berlimpah pahalanya dan juga menikmati pemandangan kota London adalah alasan lainnya.
   Setelah menghabiskan waktu sekitaran lima menit aku selesai sholat ashar dan kembali kearah parkiran mobil, ciel kelihatannya belum selesai berbelanja dan aku putuskan saja untuk menunggunya diluar mobil. Sambil meng-check keadaan mobil dan barang yang kami bawa tadi, aku juga sedikit khawatir membawa barang-barang sejauh ini. Setidaknya tadi aku usul untuk menaruh dulu barang dirumah dekan dan barulah berjalan ke London, tapi semuanya terlambat karena ciel selalu lebih cepat dariku dan usul ini pun menguap dgn terlambatnya aku mengutarakan usul ini. Aku beranggapan semuanya baik-baik saja, dan semoga saja lancar saat kembali pulang ke Oxford. Kelihatannya ciel begitu lama hanya untuk membeli syal saja, sedari tadi aku duduk dibangku parkiran sudah lebih dari lima belasan menit dan dia belum juga kembali. Aku curiga kalau tidak hanya membeli syal, mungkin saja dia membeli perkara lain lagi. Ini sudah hampir jam Empat sore ciel, ayolah kita harus kembali ke Oxford dan merapikan kamar kita dirumah dekan.
   Ciel datang dan kelihatannya ia tak membawa syal karena yang ia bawa adalah beberapa kantong plastik dan aku pastikan dia melihat diskon didalam toko tadi, bukan namanya ciel kalau ia tak belanja besar ketika ada diskon walau diskon itu hanya sepuluh persen. Kelihatannya ia membeli makanan dan beberapa minuman, tapi untuk apa aku juga tak merasa perlu tahu untuk apa ia membeli itu. Ia memintaku membuka pintu belakang dan menaruh kantong plastik tadi, aku tak mengerti dengan anak ini. Padahal tadi ia menangis dan hampir pingsan, sekarang hormonnya sudah berubah lagi seperti ia menderita kelainan hormon saja. Sekali lagi ia memintaku untuk menyetir, ia sangat letih karena menangis tadi dan juga belanja dan aku tak akan menolaknya kalau sudah begini karena ia menawarkanku sarapan esok pagi sebagai bayarannya.

     "Fine ciel, but tomorrow must be a big sandwich"

   Ia mengiyakan janjinya, dan kami pun memacu mobil kembali ke Oxford kembali. Aku tak sabar untuk berdiam diri dikamar dekan, dan juga dipenuhi dengan buku-buku sinar gamma untuk dibaca... 
  

Rabu, 23 April 2014

A story from Oxford #part2

   Barang-barangnya hanyalah dua koper baju dan beberapa buku-buku kuliahnya, perabotan jelas akan ditinggalkannya. Tapi tiba-tiba ada suara dari dalam rumah, aku jelas kaget bagaimana bisa ada suara dari dalam rumah. Ternyata ada seorang ibu yang keluar dari rumah Ciel, kelihatannya itu adalah orang yang bekerja dirumahnya sebagai pembantu. Ia terburu-buru ingin memberikan sesuatu kepada Ciel. Aku tak memperhatikan secara sempurna, tangan kanan dan kiriku telah memegang koper dan segera membawanya keluar menuju kemobil, Ciel menghampiriku dengan membawa beberapa buku kuliahnya. Kami mencoba untuk mengaturnya agar semua barang kami termuat didalam bagasi mobil, aku bahkan belum bertanya kepada Ciel sejak kapan ia mendapatkan mobil ini. Urusan mengatur tempat barang-barang pun selesai dan kami pun sekarang siap untuk kerumah dekan, aku diminta Ciel untuk masuk terlebih dahulu sementara ia masuk kedalam rumahnya kembali beberapa saat. Didalam mobil aku memikirkan kalau Ciel adalah orang kaya, tapi dia hanya menceritakan tentang kakaknya sedangkan bercerita tentang orang tuanya adalah hal yang ia selalu hindari.
   Didalam mobil ia memutarkan lagu-lagu berbahasa prancis, nadanya bersemangat dan dapat aku mengerti kalau ia memang saat ini sangat bersemangat untuk pindah. Ia sepertinya melupakanku kalau aku ada didalam mobil, baguslah jika seandainya ia tahu maka pasti aku akan mendengar lagi ocehan mimpinya lagi. Aku hanya menikmati bangunan-bangunan tua kota Oxford, sangat kokoh dan begitu kuat menurutku. Apalagi dengan lagu prancis yang sedang berputar ini, aku hanya bisa menikmatinya tanpa tahu arti sebenarnya. Ciel dari tadi fokus menuju jalan kerumah dekan, namun tiba-tiba ia kembali menepuk pundakku. Ah habislah aku, ia pasti akan berbicara tentang mimpi barunya lagi. Tapi kali ini tidak, ia malah menanyakan jam berapa sekarang dan aku lihat ini jam 12.48 tanpa mengingat sesuatu. Kemudian ia mengatakan...

     "Bukankah kau sering izin sepuluh menit kalau siang, kau bilang kepada para dosen untuk..."
     "Astagfirlah! Sholat Dzuhur..."
     "Aku tahu dimana dimana masjid terdekat sini, aku akan menunggumu..."

   Ia tersenyum setelah mengatakan itu kepadaku, layaknya ia sangat tulus berniat untuk membantuku. Ia pun memacu mobilnya kesebuah masjid di Oxford, aku juga tahu sebenarnya disini ada masjid karena disinilah aku sholat jum'at. Ia memarkirkan mobilnya disalah satu restoran cepat saji, tempat aku sering mengambil part job seketika ada waktu.

     "Aku akan memesan beberapa makanan, selagi kau beribadah... Aku traktir ya?"
     "A.. emm... tapi Ciel.."
     "Dagingnya bisa diganti sosis, tenang. Sudah sana pergilah cepat waktumu sedikit lagi..."

   Aku keluar dari mobil dan menuju masjid, aku lihat kebelakang dan terlihat ia mengambil beberapa uang dari dompetnya. Begitulah Ciel, dia sering sekali mentraktirku makan. Memang diantara siswa dalam kelas akulah yang paling rendah ekonominya, uang yang dikirim orang tuaku akan habis jika aku membeli makanan cepat saji terus. Makanya aku hanya makan roti yang kubakar sendiri dengan resep dari tukang roti bakar depan kostku dulu di Indonesia, barulah malam aku makan nasi karena ibuku selalu mengirim beras. Aku pun sebenarnya membawa perlengkapan memasak nasi kerumah dekan, karena hanya itu perlengkapan yang aku bawa dari Indonesia. Kompor aku pinjam dari kedutaan, karena aku tak begitu suka membeli disini. Setibanya didepan masjid tak lupa aku mengambil wudhu dahulu, lalu masuk masjid dan sholat. Aku berdo'a selalu minta kelancaraan disini dan kesehatan bagi orang tuaku disana. Sekitar lima menit aku sudah selesai sholat, bergegaslah aku menuju mobil Ciel dan dia telah menunggu sambil mengunyah Sandwichnya.

     "Ciel, kau mengunyah seperti bayi. Berikan aku tisu..."
     "Ada dibelakang, untuk apa..."

    Setelah mendapatkan beberapa helai tisu, dan melipatnya agar lebih pas. Aku mencoba untuk membersihkan saos tomat yang ada dipipinya, awalnya dia tetap mengunyah berantakan dan semakin merepotkan karena saosnya semakin berkembang kemana-mana...

     "Ciel berhentilah menjadi bayi, atau kau akan membiarkanku menyakiti pipimu...?"
     "It's means that you will...???"

  Ia telah tahu apa maksudku, aku tarik pipinya dan dia mengaduh kesakitan. Aku sering melakukannya kalau dia keras kepala, tapi kali ini dia sangat menikmati tarikan itu. Dia bahkan hampir membalasnya, tapi aku sudah terlebih dahulu mendapat tangannya dan tanpa sengaja mengarahkan tangannya kearah klakson mobil. Bayangkan saja bagaimana bunyinya, dan ia malah tertawa ketika hal itu terjadi. Aku pun menarik kepalanya untuk kusandarkan kebahuku, kami seperti sedang bermain gulat didalam mobil saja namun dia tak berhenti tertawa. Entah apa yang terjadi padanya hari itu, dan bahkan aku yang menjadi letih terpongah-pongah mengambil nafas. Dia sangat menyukai kelelahanku ini, dasar Ciel. Nampaknya ia letih juga, dan ia mengajakku untuk ke London beberapa saat karena ia ingin membeli sesuatu. Aku pun menyetujuinya, dan mulailah kami bergegas menuju london karena jaraknya bisa ditempuh dengan perjalanan mobil, mulailah kami berjalan dengan senangnya ia pun memacu mobilnya itu. 
   Didalam perjalanan aku menikmati sekali sandwich dan kopi yang ia belikan saat aku sholat dzuhur tadi, sesekali aku membalas apa yang ia katakan. Sepanjang jalan ia menceritakan ia akan membeli sebuah buku yang sangat langka, bahkan waktu liburan semester dan ia pulang kerumahnya di Paris ia tak menemukannya. Aku penasaran dengan buku yang ia cari, memang ia adalah kutu-buku dan apabila satu buku itu tamat dibacanya maka ia tak akan menyesal menyumbangkan buku itu keperpustakaan di Oxford baik itu perpustakaan umum maupun perpustakaan kampus.

     "Ciel kau begitu royal dan aku ingin sekali tahu seberapa kaya keluargamu, aku pernah diberitahukan oleh wakil dekan kita dan beliau mengatakan kau adalah..."
     "Jangan dipercaya, aku ini hanyalah dari keluarga pekerja keras dan aku begini karena kakakku yang bekerja sebagai pialang saham selalu memberiku uang perminggu dan itu sudah sangat berlebihan..."
     "Dan itu adalah..."
     "Bukan, itu bukanlah kaya..."
     "Mengapa kau selalu merendah, Ciel?"
     "Karena aku belum sekalipun mewujudkan mimpi dihadapan orang yang selalu mendengar impianku ini tanpa menyela dan apa hak yang ada padaku untuk menyombongkan diri???"
     "Kata-katamu luar biasa, kurasa kau terlalu banyak membaca buku dongeng pikachu dan mabuk darat mungkin...???"
     "Sudah diamlah, sedikit lagi kita akan berhenti sebentar mobil ini juga perlu makanan"

   Aku hanya mematuhinya, dan melanjutkan mengunyah sandwich ini dan sepertinya aku kelaparan karena tadi pagi aku lupa sarapan karena ujian. Kurang lebih beberapa menit kami berhenti dan Ciel keluar untuk mengisi minyak mobilnya, aku mencoba untuk mengambil pemutar mp3 mobil ini dan menukarnya dengan lagu berbahasa inggris. Setelah aku mengatur playlistnya dengan cepat aku taruh lagi ditempatnya tadi, kelihatannya playlist tadi lagu yang Ciel tak pernah dengar. Dalam ingatanku lagu favoritnya saja dari Prancis semua dan hanya sedikit lagu berbahasa inggris, entahlah mungkin dia terlalu mencintai nada mayor yang orang prancis ciptakan. Kelihatannya ia sudah selesai dan akan segera masuk kedalam mobil lagi, tapi ia membawa beberapa makanan ringan dan aku pastikan itu untuk snack selama perjalanan. Ternyata ia tak masuk dari pintu tempat ia menyetir tadi, ia menuju kearah pintuku...

     "Sebaiknya kau yang menyetir sekarang, aku lelah..."
     "Lelah dan lapar, exactly?
     "Perhaps..."

   Aku pun keluar dan bertukar tempat duduk, kali ini giliranku menyetir dan membiarkan ia beristirahat mungkin baginya koper baju dan beberapa buku sama beratnya dengan memindahkan rumah baginya. Kupacu pedal gas mobil ini dan kembali melanjutkan perjalanan kearah London...

     "Ciel, tolong hidupkan mp3 atau aku berhenti..."
     "Iya sabar, aku sedang sibuk mengunyah..."
     "Tolong, apapun judul lagu yang terputar nanti jangan kau tukar..."
     "Iya, lihat saja jalan dan menyetirlah dengan baik..."

   Musik pun mulai masuk intro dan kelihatannya ia sangat bingung karena ia tak pernah mendengar musik awal seperti itu dari lagu prancis, dan mulailah ia sangat bingung karena lagunya ternyata bukan lagu dari prancis...

     "Kau begitu hebat, kau berhasil menipu seorang sepertiku..."
     "Of Course, dan kau terikat janji untuk tidak akan menukar lagunya..."
     "Aku akan tidur, menyetirlah dengan baik..."

   Ciel pun mengambil syal miliknya yang terlingkar dibangku belakang dan mencoba untuk mengarahkan AC mobil kearahnya, ia pun mencoba untuk tidur sedangkan aku harus tetap menyetir sampai pinggiran kota London karena saat itu kami akan bertukar posisi lagi. London belum begitu aku kenali dan aku juga belum berpengalaman mengendarai mobil disana, dibandingkan Ciel mungkin dia lebih mengerti dibandingkan denganku. Ciel ternyata telah tidur, kami telah berjalan selama lima puluh menit dan mungkin akan sampai beberapa puluh menit kedepan lagi. Aku hanya berharap ini berjalan lancar dan Ciel tetap tertidur, bayangkan saja jika dia mengoceh mimpi lagi sedangkan aku harus menyetir mungkin kosentrasiku tak akan bisa penuh untuk menyetir. Setelah
berjalan hampir cukup lama aku pun menyadari kami sudah sampai dipinggiran kota London, dan ini adalah waktu untuk bertukar posisi lagi.

     "Ciel, bangunlah kita sudah dipinggiran kota London... Kau lagi yang menyetir"
     "Baiklah, kau mau membeli buku juga...???"
     "Kita lihat nanti saja, aku tak begitu menyukai buku sepertimu"

   Ia pun mengambil posisi untuk menyetir dan aku pindah keposisi awal, dengan cepat ia memacu mobil kembali untuk masuk kekota London. Aku sangatlah bersyukur karena liburan kali inilah pertama kali kesini, karena dari kemarin aku hanya mengambil part job di Oxford. Sambil mengunyag snack punya Ciel yang masih bersisa aku sangat menikmati suasana siang dikota London, tidak terlalu ramai karena jam makan siang telah selesai. Ciel mencari-cari toko buku dari tadi, dan aku pikir ia telah melewatkan salah satu toko buku ternama disini. Lalu apa yang ia cari? Aku yang tak tahu hanya bisa mengunyah dan menikmati wajah polos Ciel, mungkin ia tak menemukan buku langka yang tadi sepanjang jalan ia ceritakan. Akhirnya mobil Ciel berhenti karena memang lampu merah, ia mengambil handphonenya dan mencoba membuka pesan. Ketika lampu sudah hijau ia pun memacu kembali mobilnya, tapi kami kembali berhenti disebuah toko buku dan ini kelihatannya berisikan buku-buku tua. Kami pun turun, dan aku hanya mengikutinya dengan polos karena aku begitu takjub dengan London.

       
    

Selasa, 22 April 2014

A story from Oxford #part1

   Hujan pagi itu menusuk nadi lelapku untuk terbangun dari nyenyak tidurku, betapa nyenyak tidurku malam itu ketika semua tugas telah selesai terkirim kealamat e-mail Sir Wayne. Dosen berkacamata lensa rangkap yang tak mau lagi bermasalah dgn kertas ketika mengoreksi tugas para siswanya, ia mengajarkan semua tentang radioaktif, sinar gamma dan lainnya. Aku pikir beliau sudah cukup untuk menjadi seorang ilmuwan, namun dia lebih memilih untuk menjadikan para muridnya yang menjadi ilmuwan.
   Pagi buta, aku harus bangun sesubuh mungkin agar aku bisa menghapal bahan ujianku pagi ini. Beginilah pekerjaanku yang sekarang menjadi mahasiswa dimimpiku selama ini, University of Oxford dengan program studi fisika dasar. Melelahkan sekali, pulang saja paling cepat setelah buka puasa jam Indonesia. Belum lagi tugas dan tugas yang semakin hari semakin menjamur dan beranak, aku sekarang harus menyelesaikan program doctorku untuk kembali ketanah air secepatnya. Agar peluang menjadi dosen tetap UI atau ITB tak lepas tangan, aamiin.
   Pukul menunjukkan ia telah ada disekitaran 03.55 waktu Oxford, aku harus memaksa mataku berjaga agar nanti ujian setidaknya aku bisa menyelesaikan persamaan-persamaan yang ada. Menyedihkan, jika saja aku mendapat B+ lagi karena kemarin aku mendapat tiga B+ dan tujuh nilai A. Setidaknya kali ini aku harus mendapatkan sembilan nilai A karena mungkin saat semester selanjutnya tidak akan ada lagi ujian semester seperti ini, kini perkaranya aku harus melawan suhu yang cukup dingin untuk belajar dan belajar.
   Sebenarnya persamaan semester ini lebih sederhana dari yang kemarin, namun aku harus mencari soal dan jawaban sendiri karena kali ini sistem ujian Oxford adalah kemandirian dan kemampuan para siswa. Nantinya kami hanya diberi tiga lembaran kertas kosong dan itu sangat sulit, kami harus membuat persamaan dan pemecahannya secara bersamaan. Mau tak mau, harus aku kerjakan...
Buku catatanku ada disebelah tempat tidurku, buku tak pernah jauh dari tempat tidurku. Mungkin tampat tidurku ini beralaskan buku semua, karena semua buku harus dekat dari jangkauanku.
   Menghapal ini dan itu, mencoba mengerjakannya dan menghapalkannya kembali. Setidaknya ada 17 soal yang aku kerjakan sebelum solat subuh aku kerjakan, ya jadinya aku kekurangan tidur. Tapi untunglah ada saja kiriman kopi ginseng dari ibuku, karena kopi disini begitu mahal. Bila disini hanya dapat satu cup kopi, di Indonesia bisa mendapat tiga kopi gelasan dan lebih nikmat rasanya. Mungkin kopi disini sudah tercemar dengan polusi asap pabrik kopi itu sendiri, mungkin...
   Kali ini aku mampu mengerjakan 23 soal dan semuanya sudah aku hapal betul, tinggal apa yang diperintahkan saat ujian nanti, Kini aku harus sholat subuh dulu, aku disini wudhu hanya dengan air dingin karena uang bulananku tidak cukup memanaskan air. Mahalnya pemanas air disini lebih mahal dari pada mencicil motorku dulu, suhu disini kalau subuh bisa mencapai -1 derajat celsius dan aku pernah hampir pingsan karena dinginnya air. Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah kewajiban bukan?
Setelah selesai subuhan, aku makan seadanya. Kadang roti dan kadang sandwich dari temanku Brian, dia sangat kaya. Bahkan ia pernah membelikanku tiket untuk menonton Chelsea vs Man.City untuk kelas VIP hanya karena bantuanku mengerjakan tugasnya saat ia berlibur kepantai Bahamas, gila bukan?
   Namun pagi ini aku hanya akan meminum kopi lagi, kopi dan kopi. Sejak aku kelas tiga SMA hanya kopilah pendamping paling setia, kopi itu bisa dikatakan nyawa keduaku. Mungkin tanpa kopi, aku akan terkapar tidur dikelas. Selesai dan aku harus berangkat, jarak antara asramaku dan Oxford hanya 500meter, aku lebih memilih berjalan dan harus sebelum jam 7 pagi karena jika lebih dari itu aku akan melewatkan berita sore Indonesia. Ya, aku mampir kewarnet gratis dan membuka berita apa yang sedang terjadi diIndonesia dan tentunya membuka E-mail, Fb, dan Tweet. Sesudah itu, barulah aku akan kekampus... Dikampus semuanya sangat ramah, namun ada beberapa murid yang memang liar. Tapi, mereka tak pernah mengangguku karena mereka tak sekelas denganku.
   Didalam kelas ada 14 siswa pilihan dari seluruh dunia, mereka rata-rata dari Eropa karena banyak siswa dari Asia melanjutkan bukan kesini tapi kearah benua Amerika sana. Mungkin Harvard memang lebih memiliki rating tinggi dari sini, namun menurutku lebih baik aku melanjutkan disini. Perkara perilaku dan moral disini lebih sopan menururtku dibandingkan Amerika, tentunya orang-orang Inggris lebih sopan dan menghargai. Sekarang aku sudah ada didalam kelas, sebagaimana bisa aku selalu muncul paling awal dari teman-teman lainnya. Mungkin mereka disini sangat tidak terbiasa bangun jam lima pagi, karena mereka tak memiliki kewajiban sebagaimana muslim sepertiku.
   Dosen sebenarnya telah mengatakan kepada kami Ujian akan dilaksanakan pukul 08.00 waktu Oxford, tapi aku selalu datang 07.15 atau paling lambat 07.30 karena disini aku bisa menghangatkan badan dan menghapal setidaknya beberapa soal sebelum ujian. Mulailah datang teman-teman kelas, kali ini Brian datang lebih awal rupanya. Kelihatannya ia agak letih, ia menyapaku dan membuka bukunya. Lalu muncul satu-satunya anak Afrika dalam kelas pilihan ini, Thabo Al dari Senegal. Namanya malah mirip dengan Presiden Afrika Selatan setelah Nelson Mandela, Thabo Mbeki. Dia juga terlihat letih, mungkin saja terlalu banyak belajar tadi malam. Berangsur-angsur penuh kelas dengan para siswa, disini jarang sekali kami menyapa karena kami sibuk sekali dengan tugas-tugas dengan pengembangan pendapat sendiri sekarang. Dulu kami saling menyapa, namun semakin hari kesempatan menyapa semakin habis karena beban untuk menyelesaikan pendidikan kami ini.
   Ada satu lagi teman dari Asia yang belum datang, Takahasi dari Jepang. Ia belum sampai dari tadi, padahal lima menit lagi ujian akan mulai.  Dosen sudah terlihat dari jendela, kami pun bersiap untuk ujian. Ada dari kami yang sibuk meletakkan tas, menyiapkan lagi kertas-kertas ataupun buku dan Taka pun sampai. Dia terlihat lusuh, mungkin terlambat lagi. Kali ini dosen yang datang tidak kami kenal, mungkin dosen dari kelas lain yang sengaja ditukar. Ujian dilaksanakan, seperti yang dikatakan kami hanya diberi kertas kosong berlogo Oxford. Waktu kami hanya satu jam untuk menyelesaikan 15 soal pengembangan sendiri dengan persamaan yang telah ditentukan, bagiku ini sangat mudah karena aku sudah menghapalnya. Sekitar 45 menit berlalu, dan aku telah selesai hanya tinggal mengoreksi beberapa hitungan saja. Aku harus mengumpulkan pertama kali, karena siapapun yang akan menjadi yang pertama akan mendapatkan nilai tambahan.
   Tapi sial, gadis itu mengumpulkannya pertama kali lagi dan aku menjadi yang kedua lagi. Aku selalu ragu kalau belum mengoreksi pekerjaanku ini, dan selalu aku kehilangan kesempatan mengumpulkan pertama kali. Gadis itu asalnya dari Prancis, ia sangat cepat karena kabarnya IQ yang ia miliki 145 dan aku jelas sangat kalah. Shannelle Ciel yang ia katakan artinya alur dari surga, apa itu betul aku tak pernah mau mencari tahu. Kami pun berdua keluar dan menuju tempat yang kelas kami sering kunjungi, Coffee Side namanya. Setiap ujian selesai kami akan selalu kesana, siapapun yang pertama dia harus memesan lima belas cup kopi dan membooking tempatnya. Aku dan Ciel pun berjalan kesana, jaraknya hanya dua blok dari kampus.
   Ciel sangatlah cantik, aku tak pernah menemukan ada gadis seperti dia ini begitu ramah denganku. Bukan denganku saja bahkan dengan kami, umurnya baru 23 tahun padahal rata-rata umur kami 27 tahun. Katanya ia tidak pernah belajar disekolah, ia hanya kesekolah hanya untuk ujian saja dan nilainya selalu A. Akhirnya ia mendapat beasiswa hanya dengan jalan 6 semester kuliah di Paris, namun ia menunggu tiga tahun agar ia tak terlalu muda masuk Oxford dan program doctor ini. Memang betul, diantara kami ada yang berumur 39 tahun yaitu Ramos dari Spanyol. Dia seorang dosen, ia hanya ingin menambah gelarnya makanya ia ikut kelas ini. Ada pula yang berumur 40 tahun dan seorang Ilmuwan dari Rusia, Ivanov namanya. Ini yang paling tua, Mr. Donald Dendbeld dari Latvia.  
   Ciel begitu sangat mirip dengan pesepak bola Prancis Louisa Necib, namun rambutnya ciel agak lebih pirang dan ia berkacamata. Ia punya kakak dan sekarang menjadi pialang saham di Amerika, namun dia tak tertarik dengan matematika tapi ia sangat mencintai fisika. Entahlah aku juga bingung dengannya, sekarang kami telah sampai di coffee side. Aku yang memesan tempat dan ia yang memesan kopi, mungkin kamilah yang selalu melakukannya karena kami selalu menjadi pengumpul tercepat saat ujian. Semuanya telah selesai dan tiba-tiba datang Hugo dan Biedl, dua orang dari Austria yang sangat kompak mungkin karena satu negara dan bahasa. Kami pun duduk dimana tempat yang telah aku pesan tadi, lalu bergabunglah Jiayi, Nichola dan Mr. Chaves dan Syekh Bura. Kami memanggil Syekh karena ia dari Oman dan umurnya telah sampai sampai 37 tahun. Inilah daftar seluruh siswa kelas Basic Physic DGo (Doctor Generation of Oxford)

1.    Ridho (Indonesia) 27thun
2.    Ciel (Prancis) 23thun
3.    Thabo (Senegal) 29thun
4.    Takahasi (Jepang) 29thun
5.    Ivanov (Rusia) 40thun
6.    Ramos (Spanyol) 39thun
7.    Dendbeld/Mr. Db (Latvia) 42thun
8.    Brian (Inggris) 29thun
9.    Hugo (Austria) 32thun
10.  Biedl (Austria) 33thun
11.  Bura (Oman) 37thun
12.  Jiayi (China) 29thun
13.  Nichola (Kanada) 28thun
14.  Chaves (Kuba) 39thun

   Pukul 09.10 semua telah berkumpul dan merayakan akhir ujian semester tiga ini dengan riang, karena hanya akan tinggal 6 bulan lagi bagi kami untuk menyelesaikan pendidikan kami ini. Namun, Oxford sangatlah mengerti tentang masalah dikelas kami. Maka dari itu, bagi mereka yang berumur diatas 30 tahun akan diberikan gelar doctor sebulan setelah ujian ini dengan syarat mereka harus menyelesaikan skripsi mereka dalam sebulan itu juga. Menurut isu yang berkembang, kami yang dibawah 30tahun akan membantu mereka dan kami semua akan disatukan dalam satu asrama. Jelas ini akan jauh seru karena kami akan bersama selama satu bulan penuh, dan waktu menyapa kami pun akan lebih banyak.  Jam 11 nanti kami diminta untuk datang keruangan dekan penanggung jawab kelas kami, karena tim akan dibagi. Ada tujuh orang yang berumur diatas 30 tahun dan tujuh orang pula dibawah itu. Makanya kami akan dibagi, apapun yang akan kami dapat kami harus membantu mereka dan kami dimasukkan dalam katagori YA(Young Agent).
    Semua dari kami sangat menikmati kopi kami ini, bahkan Mr. Chaves sampai lupa bahwa kopinya sudah habis dan malah menghirup kopi Mr. Ramos, memang serasa lepas dari semua beban hari itu. Setelah seminggu lebih dengan sepuluh sub study yang harus kami selesaikan ujiannya, dan kali ini kami memutuskan untuk berkunjung ketaman bermain. Bagi yang bisa membawa keluarganya dipersilahkan untuk mnegajak serta keluarga mereka masing-masing sebelum liburan datang. Tapi kali ini agak berbeda, Thabo lebih memilih pulang ke Senegal karena khawatir dengan keadaan neneknya yang semakin tua. Mr. Ramos, Ivanov dan Mr. Db juga akan pulang karena anak-anak mereka masih bersekolah. Tersisa sepuluh orang, dan kelihatannya acara ini akan batal karena kami tak mau ada satu yang yang harus absen dari kegiatan bersama seperti ini. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat acara keliling Inggris setelah OG (Old Agent) selesai menyelesaikan skripsinya satu bulan lagi.
   Aku tak bisa pulang, karena aku tak berani mengajukan permohonan dana untukku pulang ke Indonesia kekedutaan. Harga tiket yang mahal memaksaku tak pernah pulang walaupun liburan, setiap liburan aku hanya bekerja direstoran cepat saji di Oxford. Aku akan menabung untuk bisa membelikan tiket bagi keluargaku nanti saat aku wisuda, sekarang tabungan hampir mencapai Empat Ribu Euro. Alhamdulillah, ini karena kadang-kadang aku juga mengambil kerja part time baik sebagai pelayan, tukang pel, pencuci piring restoran cepat saji ketika aku bisa pulang cepat dari kampus. Manager restoran disini semuanya sangat senang apabila ada mahasiswa yang bekerja direstoran mereka, bahkan aku sering kali mendapat uang lebih saat hasil kerjaku dinilai memuaskan oleh mereka.
   Sepertinya kami sudah puas berbincang-bincang, seperti biasa kalau berkumpul seperi ini. Ciel hanya mau duduk dekatku, entah aku tak tahu mengapa. Aku hanya mendengar dan melihat ketika ia membicarakan apa yang ia katakan, sering kali dia marah karena aku hanya diam dan tak memberi respon. Ciel begitu nyaman kelihatannya ketika berbicara denganku, bahkan dia memanggilku "Abang" dalam bahasa Indonesia karena ia merasa memanggilku brother tidaklah pas. Makanya aku ajarkan dia memanggilku abang, namun dia kelihatannya sulit sehingga hanya beberapa kali saja ia mengatakan kata itu disaat aku sudah lama terdiam. Kali ini ia membicarakan mimpinya untuk mencari sesuatu yang baru, dan dia menginginkan aku membawanya ke Indonesia. Apakah ini serius aku pun tak tahu, beginilah percakapanku dengannya yang kurang begini jika didalam bahasa Indonesia.

     "Hey, aku ingin sekali kerumahmu di Indonesia. Katanya disitu panas?"
     "Memang panas Ciel, masih juga mau kesana?"
     "Sure!!!"
     "Kau akan menangis meminta kipas padaku jika kau ke Indonesia"
     "Jangan meremehkanku, aku bahkan pernah terdampar digurun sahara beberapa hari tanpa menangis. Dan kau tak pernah tahu itukan?"
      "Kau memang pandai bermimpi, Ciel"

   Aku ingat sekali setelah itu, setelah kalimat itu selesai terucap. Dia memukul pundakku dan waktu itu agak keras, seperti biasa ia akan selalu begitu ketika aku meremehkannya. Ciel begitu banyak memiliki mimpi, dan ini cukup tinggi dibandingkan waktu kemarin ia bermimpi bisa melihat dan menangkap Pikachu padahal itu hanya kartun dan dia bahkan mengatakan telah memiliki kandangnya. Kurang lebih pukul 10.30 kami selesai dan membayar kopi masing-masing, seperti biasa pula Ciel yang membayar kopiku karena aku mau mendengarkan cerita mimpinya. Tidak ada seorang pun yang mau mendengarkan Ciel ketika bercerita karena ia takkan berhenti berbicara sampai ia merasa haus, hanya aku yang sampai sekarang mampu mendengarkannya.
   Kami pun menuju kantor Dekan penanggung jawab kelas kami, disini kami dijelaskan tentang isu yang berkembang yaitu bagaimana caranya kami membantu dan tibalah saat pembagian tim. Awalnya kami ingin para OG yang memilih kami, namun demi keadilan kami membuat kertas seperti arisan dan para OG akan mengambil kertas-kertas itu. Apapun yang didapat para O.G. itulah yang akan membantunya dalam menyelesaikan skripsi dan tugas-tugas mereka. Mulailah pencabutan nama dimulai, kertas yang telah ada nama para Y.A. telah terlipat dan ditumpuk diatas meja dekan. Pertama kali giliran Mr. Chaves, kertasnya ternyata nama Thabo. Lalu giliran syekh Bura, dan nama Nichola yang keluar. Giliran Ivanov, dan ia mendapatkan Jiayi. Mr. Db mendapatkan Brian, Mr. Ramos menebak ia akan mendapatkan Ciel namun sayang yang ia dapatkan adalah Takahasi. Ciel dan aku sama-sama mendapat OG dari Austria. Aku harus membantu Mr. Hugo dan Ciel harus membantu Mr. Bield.
    Selesai pembagian para agent dan pasangan, kami mendapat informasi kami akan ditempatkan diasrama dekat kampus. Ternyata ada lagi yang keren, para Y.A. dibebaskan dari tugas namun tetap belajar. Tugas mereka adalah membantu para O.G. sampai satu bulan, bagi O.G. yang mendapat nilai skripsi tertinggi Y.A mereka akan mendapat hadiah dan itu dirahasiakan. Kami pun diberi libur hanya dua minggu, bagi yang tidak pulang kenegaranya bisa langsung menempati asrama. Ternyata para O.G. memilih pulang semua karena asalan pekerjaan dan kelurga, begitu juga alasan para Y.A yang pulang kenegara mereka. Ternyata tidak hanya aku yang tidak pulang, Ciel secara mengejutkan ia takkan pulang. Selebihnya pulang semua, kami pun menanyakan alasan ia tak pulang. Ia hanya tersenyum dan mengatakan ia lebih memilih tinggal di Oxford untuk bersantai. Jadi sekarang hanya aku dan Ciel yang akan tinggal diasrama karena tidak mungkin meninggalkan asrama kosong padahal asrama itu telah ditinggalkan siswa kelas lain.
   Bura menarikku dan mengatakan "Ingatlah, kau Islam... Bukankah dilarang ada dua orang laki-laki dan perempuan tinggal bersama?" Aku hanya diam, Bura menawarkan padaku untuk ikut dengannya ke Oman tapi aku tak mau merepotkannya. Aku bingung, apa aku harus tinggal diasrama atau tidak? Akhirnya dekan mengatakan asrama akan disewakan saja dalam beberapa hari ini sampai ada para siswa yang pulang dari negara mereka. Sebagai gantinya dekan menawarkan pada kami untuk tinggal dirumahnya selama dua minggu, Ciel mengedipkan matanya padaku yang memberi tanda untuk menerimanya. Yap, aku menerima tawaran itu karena aku tahu anak dekan sudah berkeluarga dan pasti ia kesepian. Setelah urusan ini semua selesai, kami pun berpelukan dan berjabat tangan. Masing-masing dari mereka kembali kerumah sewa mereka.
   Aku pun mengambil barang-barangku ditempat sewaku. Cukup banyak, aku bingung bagaimana cara aku harus membawanya kerumah dekan. Aku mengambil handphoneku dan mengirim pesan ke Ciel bagaimana ia membawa barangnya kerumah dekan, Ciel kemudian malah menelponku dan ia mengatakan katakan padanya kalau barangku sudah siap semua. Baiklah, aku kumpulkan semua barangku mulai dari beras sisa, kopi, buku, sajadah dan sarung sampai kopi ginsengku. Aku rapikan semuanya dan berpamitan dengan pemilik rumah sewa, ia mengatakan bulan ini tak usah bayar. Aku hanya mampu mengucapkan terima kasih kepadanya. Akhirnya semua urusan selesai dan ternyata Ciel tepat waktu, awalnya aku berpikir ia datang untuk menjemputku tapi ia berniat meminta bantuan untuk untuk mengangkat beberapa barang miliknya. Barangku yang sudah siap aku masukkan kemobil yang ia bawa dan kami pun mengarah kerumah sewanya.
   Sampai dan aku langsung bingung, ini tak terlihat seperti rumah sewa karena apa yang kulihat seperti itu sangat mewah. Lalu aku bertanya padanya...

     "Berapa yang kau bayar untuk menyewa ini dalam sebulan Ciel?"
     "Untuk apa aku menyewa rumah ayahku sendiri?"
      
   Aku terkejut, ternyata ini adalah rumah milik ayahnya. Aku ingat dulu ketika ia katakan ayahnya membeli sebuah rumah namun ia tak memberitahu secara jelas, dan ternyata inilah rumah yang ayahnya beli. Ini sangatlah mewah bagiku, mungkin kalau dirupiahkan harga bisa mencapai 2Millyar. Waktu aku masuk pun, rumah ini sangatlah mewah dengan isi dalamnya. Aku sangat kaget karena belum pernah sekali pun aku kesini, yang ada malah Ciel datang kerumah sewaku hanya untuk menanyakan tugas...
  

    


   

Minggu, 20 April 2014

Review Film : Skyfall (English Version)

   Hey, this is the first time I tried to review the movie. There have been many films that I collect my dilaptop this and also have a lot of movies that I watched over and over again, but there are very seized my attention. Maybe it is more than seven times I watch this movie, maybe so with you.  
I wanted to review the film is Skyfall, yes this film is remarkable to me that lay in action movies.
   With the reviews 7.8/10 IMDb given meaning is still able to say good -value , more of them about how Skyfall Bond trying to become the first Bond before he had " failed " in the MI6 mission reclaim hard drive containing important data of NATO agent throughout the world . After he became the target of one of Eve ( Naomie Harris ), which should target to Patrice . Bond fell into the river and carried away by the current of the river and initially did not know whether he will die or where .
  
M ( Judi Dench ) is so very upset about the decision, but it is a decision that directly gave the order to shoot . This is where the conflict began to be built by Sam Mendes , the real conflict is a problem that this film will always spin Area M , let M itself as the party responsible for all conflicts that occur in MI6 is a thing that is a bit stiff in my opinion . How not , if Bond does not present what could be done to save her M ?

   In my opinion, the conflict would be easily resolved when the bond comes back under the condition of no confidence from the M's were originally not he give to bond while running missions Istanbul, but what happens is the belief M must stand on a lie M where he told the bond has passed of the test to get the mission again when in fact the bond is not passed.
   Indeed, what a bond saying that he needed was a belief is true, first I am sure he will fail again after he failed to get information from Patrice disebuah building in Shanghai after Patrice prefer to jump from the building. However, finding the chip bond of a gambling house in Macau and this is where we should be aware that the real conflict is between the bond and M is still going to resolve the conflict with the help of bond.
 

   Conflict is very neatly presented here , we will not be able to guess why Patrice kill Ambassador of Yemen and why should Severine that point the way to unlock this conflict more deeply , my mind is only focused initially on the persistence bond to re-discover his true identity first . However, after Silva was caught and got away is where I understand that silva has revenge on M and it is clear that silva wants to kill M.   I very rarely get treats conflict like this, I think maybe 7.8 rating awarded IMDb wrong , maybe they are giving bond rating could expect more " action " here . But I believe , Sam Mendes has prepared something more for 24 Bond films later . Where conflicts later on in my opinion will be rotating around the bond is not around M anymore because he has bled to death bond Skyfall childhood home and now he was being replaced by Mallory . We wait for the next Bond movie , which I can confirm the bond rating for the movie 24 will be more than 8.0 ... :) 

Review film Skyfall (2012)

   Hey, ini pertama kali saya mencoba untuk mereview film. Sudah banyak film yang saya koleksi dilaptop saya ini dan juga sudah banyak film yang berulang kali saya tonton, namun ada yang sangat menyita perhatian saya. Mungkin sudah lebih dari tujuh kali saya menonton film ini, mungkin juga begitu dengan kalian. Film yang saya ingin review ini adalah Skyfall, ya film ini sangatlah luar biasa menurut saya yang awam dalam film action.
   Dengan review 7.8/10 yang diberikan IMDb yang berarti masih mampu untuk dikatakan bernilai baik, skyfall lebih mengutarakan tentang bagaimana Bond berusaha untuk menjadi Bond yang dahulu sebelum ia terpaksa "gagal" dalam misi merebut kembali harddisk MI6 yang berisikan data-data penting dari agent NATO diseluruh dunia. Setelah ia menjadi target yang salah dari Eve (Naomie Harris) yang seharusnya menargetkan kepada Patrice. Bond jatuh kesungai dan terbawa oleh arus sungai dan awalnya tak diketahui apakah ia akan mati atau kemana.
   M (Judi Dench) begitu sangat kesal akan keputusannya, namun itu adalah keputusan yang langsung memberi perintah untuk menembak. Disinilah konflik mulai dibangun oleh Sam Mendes, yang sebenarnya konflik difilm ini adalah masalah yang akan selalu berputar sekitaran M, menunggalkan M sebagai penanggung jawab seluruh konflik yang terjadi di MI6 adalah sebuah hal yang agak kaku menurut saya. Bagaimana tidak, seandainya memang Bond tak hadir apa yang bisa M lakukan untuk menyelamatkannya?
   Menurut saya, konflik akan mudah terselesaikan ketika bond hadir kembali dengan syarat harus ada kepercayaan dari M ini yang awalnya tidak ia berikan kepada bond saat menjalankan misi Istanbul, namun yang terjadi adalah kepercayaan M harus berdiri diatas sebuah kebohongan M dimana ia mengatakan kepada bond telah lulus dari test untuk mendapatkan misinya lagi padahal sebenarnya bond tidaklah lulus.
   Memang apa yang bond katakan yang ia butuhkan adalah kepercayaan itu betul, pertamanya saya yakin ia akan gagal lagi setelah ia gagal mendapatkan informasi dari Patrice disebuah gedung di Shanghai setelah Patrice lebih memilih terjun dari gedung tersebut. Namun, bond menemukan chip dari sebuah rumah judi di Macau dan disinilah harusnya kita sadar kalau konflik sebenarnya ada diantara bond dan M yang tetap akan menyelesaikan konflik dengan bantuan bond.
   Konflik yang dihadirkan disini sangatlah rapi, kita tidak akan bisa menebak mengapa Patrice membunuh Duta Yaman dan mengapa harus Severine yang menunjukkan jalan untuk membuka konflik ini lebih dalam lagi, dipikiran saya hanya tertuju awalnya pada kegigihan bond untuk kembali menemukan jati dirinya dulu. Namun setelah Silva berhasil ditangkap dan berhasil kabur disinilah saya mengerti bahwa silva memiliki dendam kepada M dan sangatlah jelas bahwa silva ingin membunuh M.
   Saya sangat jarang mendapat suguhan konflik seperti ini, mungkin menurut saya rating 7.8 yang dihadiahkan IMDb salah besar, mungkin saja mereka yang memberikan rating mengharapkan bond bisa lebih "action" disini. Namun saya yakin, Sam Mendes telah menyiapkan sesuatu yg lebih besar untuk film Bond 24 nantinya. Dimana nanti menurut pendapat saya konflik akan semakin berputar disekeliling bond bukan diputaran M lagi karena ia telah mati kehabisan darah dirumah masa kecil bond Skyfall dan kini posisinya telah digantikan oleh Mallory. Kita tunggu saja film bond selanjutnya, yang saya bisa pastikan rating untuk film bond 24 akan lebih dari 8.0... :)