Hujan pagi itu menusuk nadi lelapku untuk terbangun dari nyenyak tidurku, betapa nyenyak tidurku malam itu ketika semua tugas telah selesai terkirim kealamat e-mail Sir Wayne. Dosen berkacamata lensa rangkap yang tak mau lagi bermasalah dgn kertas ketika mengoreksi tugas para siswanya, ia mengajarkan semua tentang radioaktif, sinar gamma dan lainnya. Aku pikir beliau sudah cukup untuk menjadi seorang ilmuwan, namun dia lebih memilih untuk menjadikan para muridnya yang menjadi ilmuwan.
Pagi buta, aku harus bangun sesubuh mungkin agar aku bisa menghapal bahan ujianku pagi ini. Beginilah pekerjaanku yang sekarang menjadi mahasiswa dimimpiku selama ini, University of Oxford dengan program studi fisika dasar. Melelahkan sekali, pulang saja paling cepat setelah buka puasa jam Indonesia. Belum lagi tugas dan tugas yang semakin hari semakin menjamur dan beranak, aku sekarang harus menyelesaikan program doctorku untuk kembali ketanah air secepatnya. Agar peluang menjadi dosen tetap UI atau ITB tak lepas tangan, aamiin.
Pukul menunjukkan ia telah ada disekitaran 03.55 waktu Oxford, aku harus memaksa mataku berjaga agar nanti ujian setidaknya aku bisa menyelesaikan persamaan-persamaan yang ada. Menyedihkan, jika saja aku mendapat B+ lagi karena kemarin aku mendapat tiga B+ dan tujuh nilai A. Setidaknya kali ini aku harus mendapatkan sembilan nilai A karena mungkin saat semester selanjutnya tidak akan ada lagi ujian semester seperti ini, kini perkaranya aku harus melawan suhu yang cukup dingin untuk belajar dan belajar.
Sebenarnya persamaan semester ini lebih sederhana dari yang kemarin, namun aku harus mencari soal dan jawaban sendiri karena kali ini sistem ujian Oxford adalah kemandirian dan kemampuan para siswa. Nantinya kami hanya diberi tiga lembaran kertas kosong dan itu sangat sulit, kami harus membuat persamaan dan pemecahannya secara bersamaan. Mau tak mau, harus aku kerjakan...
Buku catatanku ada disebelah tempat tidurku, buku tak pernah jauh dari tempat tidurku. Mungkin tampat tidurku ini beralaskan buku semua, karena semua buku harus dekat dari jangkauanku.
Menghapal ini dan itu, mencoba mengerjakannya dan menghapalkannya kembali. Setidaknya ada 17 soal yang aku kerjakan sebelum solat subuh aku kerjakan, ya jadinya aku kekurangan tidur. Tapi untunglah ada saja kiriman kopi ginseng dari ibuku, karena kopi disini begitu mahal. Bila disini hanya dapat satu cup kopi, di Indonesia bisa mendapat tiga kopi gelasan dan lebih nikmat rasanya. Mungkin kopi disini sudah tercemar dengan polusi asap pabrik kopi itu sendiri, mungkin...
Kali ini aku mampu mengerjakan 23 soal dan semuanya sudah aku hapal betul, tinggal apa yang diperintahkan saat ujian nanti, Kini aku harus sholat subuh dulu, aku disini wudhu hanya dengan air dingin karena uang bulananku tidak cukup memanaskan air. Mahalnya pemanas air disini lebih mahal dari pada mencicil motorku dulu, suhu disini kalau subuh bisa mencapai -1 derajat celsius dan aku pernah hampir pingsan karena dinginnya air. Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah kewajiban bukan?
Setelah selesai subuhan, aku makan seadanya. Kadang roti dan kadang sandwich dari temanku Brian, dia sangat kaya. Bahkan ia pernah membelikanku tiket untuk menonton Chelsea vs Man.City untuk kelas VIP hanya karena bantuanku mengerjakan tugasnya saat ia berlibur kepantai Bahamas, gila bukan?
Namun pagi ini aku hanya akan meminum kopi lagi, kopi dan kopi. Sejak aku kelas tiga SMA hanya kopilah pendamping paling setia, kopi itu bisa dikatakan nyawa keduaku. Mungkin tanpa kopi, aku akan terkapar tidur dikelas. Selesai dan aku harus berangkat, jarak antara asramaku dan Oxford hanya 500meter, aku lebih memilih berjalan dan harus sebelum jam 7 pagi karena jika lebih dari itu aku akan melewatkan berita sore Indonesia. Ya, aku mampir kewarnet gratis dan membuka berita apa yang sedang terjadi diIndonesia dan tentunya membuka E-mail, Fb, dan Tweet. Sesudah itu, barulah aku akan kekampus... Dikampus semuanya sangat ramah, namun ada beberapa murid yang memang liar. Tapi, mereka tak pernah mengangguku karena mereka tak sekelas denganku.
Didalam kelas ada 14 siswa pilihan dari seluruh dunia, mereka rata-rata dari Eropa karena banyak siswa dari Asia melanjutkan bukan kesini tapi kearah benua Amerika sana. Mungkin Harvard memang lebih memiliki rating tinggi dari sini, namun menurutku lebih baik aku melanjutkan disini. Perkara perilaku dan moral disini lebih sopan menururtku dibandingkan Amerika, tentunya orang-orang Inggris lebih sopan dan menghargai. Sekarang aku sudah ada didalam kelas, sebagaimana bisa aku selalu muncul paling awal dari teman-teman lainnya. Mungkin mereka disini sangat tidak terbiasa bangun jam lima pagi, karena mereka tak memiliki kewajiban sebagaimana muslim sepertiku.
Dosen sebenarnya telah mengatakan kepada kami Ujian akan dilaksanakan pukul 08.00 waktu Oxford, tapi aku selalu datang 07.15 atau paling lambat 07.30 karena disini aku bisa menghangatkan badan dan menghapal setidaknya beberapa soal sebelum ujian. Mulailah datang teman-teman kelas, kali ini Brian datang lebih awal rupanya. Kelihatannya ia agak letih, ia menyapaku dan membuka bukunya. Lalu muncul satu-satunya anak Afrika dalam kelas pilihan ini, Thabo Al dari Senegal. Namanya malah mirip dengan Presiden Afrika Selatan setelah Nelson Mandela, Thabo Mbeki. Dia juga terlihat letih, mungkin saja terlalu banyak belajar tadi malam. Berangsur-angsur penuh kelas dengan para siswa, disini jarang sekali kami menyapa karena kami sibuk sekali dengan tugas-tugas dengan pengembangan pendapat sendiri sekarang. Dulu kami saling menyapa, namun semakin hari kesempatan menyapa semakin habis karena beban untuk menyelesaikan pendidikan kami ini.
Ada satu lagi teman dari Asia yang belum datang, Takahasi dari Jepang. Ia belum sampai dari tadi, padahal lima menit lagi ujian akan mulai. Dosen sudah terlihat dari jendela, kami pun bersiap untuk ujian. Ada dari kami yang sibuk meletakkan tas, menyiapkan lagi kertas-kertas ataupun buku dan Taka pun sampai. Dia terlihat lusuh, mungkin terlambat lagi. Kali ini dosen yang datang tidak kami kenal, mungkin dosen dari kelas lain yang sengaja ditukar. Ujian dilaksanakan, seperti yang dikatakan kami hanya diberi kertas kosong berlogo Oxford. Waktu kami hanya satu jam untuk menyelesaikan 15 soal pengembangan sendiri dengan persamaan yang telah ditentukan, bagiku ini sangat mudah karena aku sudah menghapalnya. Sekitar 45 menit berlalu, dan aku telah selesai hanya tinggal mengoreksi beberapa hitungan saja. Aku harus mengumpulkan pertama kali, karena siapapun yang akan menjadi yang pertama akan mendapatkan nilai tambahan.
Tapi sial, gadis itu mengumpulkannya pertama kali lagi dan aku menjadi yang kedua lagi. Aku selalu ragu kalau belum mengoreksi pekerjaanku ini, dan selalu aku kehilangan kesempatan mengumpulkan pertama kali. Gadis itu asalnya dari Prancis, ia sangat cepat karena kabarnya IQ yang ia miliki 145 dan aku jelas sangat kalah. Shannelle Ciel yang ia katakan artinya alur dari surga, apa itu betul aku tak pernah mau mencari tahu. Kami pun berdua keluar dan menuju tempat yang kelas kami sering kunjungi, Coffee Side namanya. Setiap ujian selesai kami akan selalu kesana, siapapun yang pertama dia harus memesan lima belas cup kopi dan membooking tempatnya. Aku dan Ciel pun berjalan kesana, jaraknya hanya dua blok dari kampus.
Ciel sangatlah cantik, aku tak pernah menemukan ada gadis seperti dia ini begitu ramah denganku. Bukan denganku saja bahkan dengan kami, umurnya baru 23 tahun padahal rata-rata umur kami 27 tahun. Katanya ia tidak pernah belajar disekolah, ia hanya kesekolah hanya untuk ujian saja dan nilainya selalu A. Akhirnya ia mendapat beasiswa hanya dengan jalan 6 semester kuliah di Paris, namun ia menunggu tiga tahun agar ia tak terlalu muda masuk Oxford dan program doctor ini. Memang betul, diantara kami ada yang berumur 39 tahun yaitu Ramos dari Spanyol. Dia seorang dosen, ia hanya ingin menambah gelarnya makanya ia ikut kelas ini. Ada pula yang berumur 40 tahun dan seorang Ilmuwan dari Rusia, Ivanov namanya. Ini yang paling tua, Mr. Donald Dendbeld dari Latvia.
Ciel begitu sangat mirip dengan pesepak bola Prancis Louisa Necib, namun rambutnya ciel agak lebih pirang dan ia berkacamata. Ia punya kakak dan sekarang menjadi pialang saham di Amerika, namun dia tak tertarik dengan matematika tapi ia sangat mencintai fisika. Entahlah aku juga bingung dengannya, sekarang kami telah sampai di coffee side. Aku yang memesan tempat dan ia yang memesan kopi, mungkin kamilah yang selalu melakukannya karena kami selalu menjadi pengumpul tercepat saat ujian. Semuanya telah selesai dan tiba-tiba datang Hugo dan Biedl, dua orang dari Austria yang sangat kompak mungkin karena satu negara dan bahasa. Kami pun duduk dimana tempat yang telah aku pesan tadi, lalu bergabunglah Jiayi, Nichola dan Mr. Chaves dan Syekh Bura. Kami memanggil Syekh karena ia dari Oman dan umurnya telah sampai sampai 37 tahun. Inilah daftar seluruh siswa kelas Basic Physic DGo (Doctor Generation of Oxford)
1. Ridho (Indonesia) 27thun
2. Ciel (Prancis) 23thun
3. Thabo (Senegal) 29thun
4. Takahasi (Jepang) 29thun
5. Ivanov (Rusia) 40thun
6. Ramos (Spanyol) 39thun
7. Dendbeld/Mr. Db (Latvia) 42thun
8. Brian (Inggris) 29thun
9. Hugo (Austria) 32thun
10. Biedl (Austria) 33thun
11. Bura (Oman) 37thun
12. Jiayi (China) 29thun
13. Nichola (Kanada) 28thun
14. Chaves (Kuba) 39thun
Pukul 09.10 semua telah berkumpul dan merayakan akhir ujian semester tiga ini dengan riang, karena hanya akan tinggal 6 bulan lagi bagi kami untuk menyelesaikan pendidikan kami ini. Namun, Oxford sangatlah mengerti tentang masalah dikelas kami. Maka dari itu, bagi mereka yang berumur diatas 30 tahun akan diberikan gelar doctor sebulan setelah ujian ini dengan syarat mereka harus menyelesaikan skripsi mereka dalam sebulan itu juga. Menurut isu yang berkembang, kami yang dibawah 30tahun akan membantu mereka dan kami semua akan disatukan dalam satu asrama. Jelas ini akan jauh seru karena kami akan bersama selama satu bulan penuh, dan waktu menyapa kami pun akan lebih banyak. Jam 11 nanti kami diminta untuk datang keruangan dekan penanggung jawab kelas kami, karena tim akan dibagi. Ada tujuh orang yang berumur diatas 30 tahun dan tujuh orang pula dibawah itu. Makanya kami akan dibagi, apapun yang akan kami dapat kami harus membantu mereka dan kami dimasukkan dalam katagori YA(Young Agent).
Semua dari kami sangat menikmati kopi kami ini, bahkan Mr. Chaves sampai lupa bahwa kopinya sudah habis dan malah menghirup kopi Mr. Ramos, memang serasa lepas dari semua beban hari itu. Setelah seminggu lebih dengan sepuluh sub study yang harus kami selesaikan ujiannya, dan kali ini kami memutuskan untuk berkunjung ketaman bermain. Bagi yang bisa membawa keluarganya dipersilahkan untuk mnegajak serta keluarga mereka masing-masing sebelum liburan datang. Tapi kali ini agak berbeda, Thabo lebih memilih pulang ke Senegal karena khawatir dengan keadaan neneknya yang semakin tua. Mr. Ramos, Ivanov dan Mr. Db juga akan pulang karena anak-anak mereka masih bersekolah. Tersisa sepuluh orang, dan kelihatannya acara ini akan batal karena kami tak mau ada satu yang yang harus absen dari kegiatan bersama seperti ini. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat acara keliling Inggris setelah OG (Old Agent) selesai menyelesaikan skripsinya satu bulan lagi.
Aku tak bisa pulang, karena aku tak berani mengajukan permohonan dana untukku pulang ke Indonesia kekedutaan. Harga tiket yang mahal memaksaku tak pernah pulang walaupun liburan, setiap liburan aku hanya bekerja direstoran cepat saji di Oxford. Aku akan menabung untuk bisa membelikan tiket bagi keluargaku nanti saat aku wisuda, sekarang tabungan hampir mencapai Empat Ribu Euro. Alhamdulillah, ini karena kadang-kadang aku juga mengambil kerja part time baik sebagai pelayan, tukang pel, pencuci piring restoran cepat saji ketika aku bisa pulang cepat dari kampus. Manager restoran disini semuanya sangat senang apabila ada mahasiswa yang bekerja direstoran mereka, bahkan aku sering kali mendapat uang lebih saat hasil kerjaku dinilai memuaskan oleh mereka.
Sepertinya kami sudah puas berbincang-bincang, seperti biasa kalau berkumpul seperi ini. Ciel hanya mau duduk dekatku, entah aku tak tahu mengapa. Aku hanya mendengar dan melihat ketika ia membicarakan apa yang ia katakan, sering kali dia marah karena aku hanya diam dan tak memberi respon. Ciel begitu nyaman kelihatannya ketika berbicara denganku, bahkan dia memanggilku "Abang" dalam bahasa Indonesia karena ia merasa memanggilku brother tidaklah pas. Makanya aku ajarkan dia memanggilku abang, namun dia kelihatannya sulit sehingga hanya beberapa kali saja ia mengatakan kata itu disaat aku sudah lama terdiam. Kali ini ia membicarakan mimpinya untuk mencari sesuatu yang baru, dan dia menginginkan aku membawanya ke Indonesia. Apakah ini serius aku pun tak tahu, beginilah percakapanku dengannya yang kurang begini jika didalam bahasa Indonesia.
"Hey, aku ingin sekali kerumahmu di Indonesia. Katanya disitu panas?"
"Memang panas Ciel, masih juga mau kesana?"
"Sure!!!"
"Kau akan menangis meminta kipas padaku jika kau ke Indonesia"
"Jangan meremehkanku, aku bahkan pernah terdampar digurun sahara beberapa hari tanpa menangis. Dan kau tak pernah tahu itukan?"
"Kau memang pandai bermimpi, Ciel"
Aku ingat sekali setelah itu, setelah kalimat itu selesai terucap. Dia memukul pundakku dan waktu itu agak keras, seperti biasa ia akan selalu begitu ketika aku meremehkannya. Ciel begitu banyak memiliki mimpi, dan ini cukup tinggi dibandingkan waktu kemarin ia bermimpi bisa melihat dan menangkap Pikachu padahal itu hanya kartun dan dia bahkan mengatakan telah memiliki kandangnya. Kurang lebih pukul 10.30 kami selesai dan membayar kopi masing-masing, seperti biasa pula Ciel yang membayar kopiku karena aku mau mendengarkan cerita mimpinya. Tidak ada seorang pun yang mau mendengarkan Ciel ketika bercerita karena ia takkan berhenti berbicara sampai ia merasa haus, hanya aku yang sampai sekarang mampu mendengarkannya.
Kami pun menuju kantor Dekan penanggung jawab kelas kami, disini kami dijelaskan tentang isu yang berkembang yaitu bagaimana caranya kami membantu dan tibalah saat pembagian tim. Awalnya kami ingin para OG yang memilih kami, namun demi keadilan kami membuat kertas seperti arisan dan para OG akan mengambil kertas-kertas itu. Apapun yang didapat para O.G. itulah yang akan membantunya dalam menyelesaikan skripsi dan tugas-tugas mereka. Mulailah pencabutan nama dimulai, kertas yang telah ada nama para Y.A. telah terlipat dan ditumpuk diatas meja dekan. Pertama kali giliran Mr. Chaves, kertasnya ternyata nama Thabo. Lalu giliran syekh Bura, dan nama Nichola yang keluar. Giliran Ivanov, dan ia mendapatkan Jiayi. Mr. Db mendapatkan Brian, Mr. Ramos menebak ia akan mendapatkan Ciel namun sayang yang ia dapatkan adalah Takahasi. Ciel dan aku sama-sama mendapat OG dari Austria. Aku harus membantu Mr. Hugo dan Ciel harus membantu Mr. Bield.
Selesai pembagian para agent dan pasangan, kami mendapat informasi kami akan ditempatkan diasrama dekat kampus. Ternyata ada lagi yang keren, para Y.A. dibebaskan dari tugas namun tetap belajar. Tugas mereka adalah membantu para O.G. sampai satu bulan, bagi O.G. yang mendapat nilai skripsi tertinggi Y.A mereka akan mendapat hadiah dan itu dirahasiakan. Kami pun diberi libur hanya dua minggu, bagi yang tidak pulang kenegaranya bisa langsung menempati asrama. Ternyata para O.G. memilih pulang semua karena asalan pekerjaan dan kelurga, begitu juga alasan para Y.A yang pulang kenegara mereka. Ternyata tidak hanya aku yang tidak pulang, Ciel secara mengejutkan ia takkan pulang. Selebihnya pulang semua, kami pun menanyakan alasan ia tak pulang. Ia hanya tersenyum dan mengatakan ia lebih memilih tinggal di Oxford untuk bersantai. Jadi sekarang hanya aku dan Ciel yang akan tinggal diasrama karena tidak mungkin meninggalkan asrama kosong padahal asrama itu telah ditinggalkan siswa kelas lain.
Bura menarikku dan mengatakan "Ingatlah, kau Islam... Bukankah dilarang ada dua orang laki-laki dan perempuan tinggal bersama?" Aku hanya diam, Bura menawarkan padaku untuk ikut dengannya ke Oman tapi aku tak mau merepotkannya. Aku bingung, apa aku harus tinggal diasrama atau tidak? Akhirnya dekan mengatakan asrama akan disewakan saja dalam beberapa hari ini sampai ada para siswa yang pulang dari negara mereka. Sebagai gantinya dekan menawarkan pada kami untuk tinggal dirumahnya selama dua minggu, Ciel mengedipkan matanya padaku yang memberi tanda untuk menerimanya. Yap, aku menerima tawaran itu karena aku tahu anak dekan sudah berkeluarga dan pasti ia kesepian. Setelah urusan ini semua selesai, kami pun berpelukan dan berjabat tangan. Masing-masing dari mereka kembali kerumah sewa mereka.
Aku pun mengambil barang-barangku ditempat sewaku. Cukup banyak, aku bingung bagaimana cara aku harus membawanya kerumah dekan. Aku mengambil handphoneku dan mengirim pesan ke Ciel bagaimana ia membawa barangnya kerumah dekan, Ciel kemudian malah menelponku dan ia mengatakan katakan padanya kalau barangku sudah siap semua. Baiklah, aku kumpulkan semua barangku mulai dari beras sisa, kopi, buku, sajadah dan sarung sampai kopi ginsengku. Aku rapikan semuanya dan berpamitan dengan pemilik rumah sewa, ia mengatakan bulan ini tak usah bayar. Aku hanya mampu mengucapkan terima kasih kepadanya. Akhirnya semua urusan selesai dan ternyata Ciel tepat waktu, awalnya aku berpikir ia datang untuk menjemputku tapi ia berniat meminta bantuan untuk untuk mengangkat beberapa barang miliknya. Barangku yang sudah siap aku masukkan kemobil yang ia bawa dan kami pun mengarah kerumah sewanya.
Sampai dan aku langsung bingung, ini tak terlihat seperti rumah sewa karena apa yang kulihat seperti itu sangat mewah. Lalu aku bertanya padanya...
"Berapa yang kau bayar untuk menyewa ini dalam sebulan Ciel?"
"Untuk apa aku menyewa rumah ayahku sendiri?"
Aku terkejut, ternyata ini adalah rumah milik ayahnya. Aku ingat dulu ketika ia katakan ayahnya membeli sebuah rumah namun ia tak memberitahu secara jelas, dan ternyata inilah rumah yang ayahnya beli. Ini sangatlah mewah bagiku, mungkin kalau dirupiahkan harga bisa mencapai 2Millyar. Waktu aku masuk pun, rumah ini sangatlah mewah dengan isi dalamnya. Aku sangat kaget karena belum pernah sekali pun aku kesini, yang ada malah Ciel datang kerumah sewaku hanya untuk menanyakan tugas...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar