Semakin lama semakin padol lupa akan halnya untuk mencari kandidat si ibuk tadi, barulah ia sadar setelah karin menghilang masuk dalam kelamnya kantin mas. Rupanya ia memang sedang dimabuk, entah jenis arak yg mampu membuatnya semabuk itu. Bergegaslah ia bergerak menuju sekitaran kelas dua lainnya, ia tak mungkin lagi meminta bantuan ravi lagi. Ia ingin pilihannya ia cukup bersaing sexy atas bawah dgn si yesi pilihan kandidat ravi. Setibanya, ia langsung mengamati dari ujung paling bawah sampai puncak paling atas semua anak perempuan disana. Polanya seperti gitar spanyol itu yg agak sulit untuk padol, ia jarang sekali keluar rumah untuk hunting acara seperti itu.
Ada beberapa orang yg padol curigai sesuai dgn kriteria yg tertera, kira-kira cocoklah. Langsung saja ia tarik anak itu kearah ruangan konsumsi, jika dilihat sekilas apa yg dijelaskan kriteria memang sexy atas bawah. Cuman masalahnya yg ia adalah cowok -_- sexy diatasnya ganteng, nah sexy dibawahnya menurut padol cowok itu kancing celananya kebuka agak lebar dan itu padol anggap sexy. Padol sudah terlalu sakit keliatannya, sampai-sampai cowok tadi dikategorikan sexy.
Untungnya belum ia bawa kehadapan ibuk yg ada didalam, apa jadinya jika ibuk-ibuk didalam sexy bagian bawah si anak tadi alias kancingnya belum tertutup. Ravi yg geram melihat tingkah padol memang agak tak sampai memikirkan ini akan terjadi, ia tarik baju padol dan menatapnya dalam seakan akan ada laga tinju maha dahsyat.
"Dol yaAllah dol, selamat tuh anak gak dienter kedalam. Mungkin ibuk-ibuk guru dalam kalau kemasukan cowok yg kondisi mirip tadi senyum-senyum kecut"
"Salahnya dimana bos ravi...?"
"Salahnya...??? Kenapa kau punya otak dak you use hah...?"
"Aduh, ampun-ampun emang yg harus dibetulin yg bagian mananya...?"
"Your brain, harus didoktrin ulang jaringan kepolosan kau dol... Sexy tadi malah geli, cari cewek bukan cowok kampret...!"
"Jadi cuma harus cewek yg harus sexy?"
"Kalo cowok sexy itu homo! Cari cewek sekarang, jgn cowok lagi"
Kali ini agaknya mudah bagi padol, soalnya semua kriteria sudah terjelaskan dan yg terpenting harus cewek. Padol memutar langkah beberapa derajat kearah depan, berharap kali ini mata hatinya terbuka dan menuntunnya dgn pasti untuk mendapat c.s.a.b (Cewek Sexy Atas Bawah). Didepannya sudah ada agak lima orang cewek, cukup bisa dikatakan masuk untuk kriteria yg ada. Oke dia pilih seorang, sepertinya ia kenal. Ternyata dora anak kelas sebelah yg pilih, menurutnya sexy atas bawah sudah pasti.
"Dol ini mau dibawa kemana...?"
"Ikut aja, jgn banyak keseremannya. Gak akan aku jamah lemakmu dor, oke"
"Iya tapi ngapain...? Bukan lemak aku mungkin, tapi tulang aku yg bakal kamu sop kan bisa jadi"
Sampailah ia didepan ruangan konsumsi, ternyata ravi telah pergi dan terlihat yesi sudah ada didalam. Padol pun menginstruksikan dora untuk berjalan ke arah ibuk dan dan yesi, dan anehnya si dora tanpa sihir hanya ikut menurut apa yg padol minta tadi. Sementara dora masuk untuk penghukumannya, padol lari menjauh menuju kerumunan panitia lainnya. Apapun yg terjadi ia hanya pasrah berserah diri, terserah apalagi yg akan menimpa dirinya.
Ia duduk dikerumunan panitia, terlihat semua enjoy dgn acara tanpa ada yg menghiraukan kehadirannya. Sedemikian hari telha cukup terang, panas pagi pun memasuki pancaroba. Mereka telah memanggang atap panggung sedari tadi, juga mencoba memanggang jutaan sel dalam tubuh orang disekitarnya. Padol sembari bersantai mencoba mencari dari radar kejauhan, ya siapa lagi kalau bukan Karin yg ia cari.
Mungkin karin ada disekitaran anak kelas senior, dilihatnya semua sibuk berbedak, make up, pasang maskara dan lainnya. Bahkan padol beranggapan itu mungkin salon kaki lima. Semua terlihat berlomba untuk tampil semampu mungkin untuk menjadi beda. Maklumlah perpisahan, tapi yg paling menarik disini adalah beberapa yg pacaran ternyata memakai baju couple versi batik.
Ya inilah pacaran yg masih mengingat untuk melestarikan budaya, walaupun budaya pacaran mereka telah terjejaki budaya barat. Biarlah asal padol mendapatkan karin, semua yang ada didepannya hanya dianggap lelucon jenaka belaka. Panitia tak kalah kelas dalam hal satu ini, mungkin bisa dikatakan lebih mentereng. Ada satu ruangan memang khusus untuk panitia berkumpul untuk persiapan hari itu. Tapi yg terjadi ruangan tersebut menjadi ruangan untuk tata rias para wanita. Setidaknya lipstik dan bedak sudah sangat memenuhi ruangan. Hal ini sangat kacau, mereka bisa saja bersantai tapi tak dgn hotpin.
Dari tadi ia sibuk kesana kesini, tak ada beda lagi antara kondisi hotpin dan kondisi anak kecil yg kehilangan ibunya. Ada hasrat untuk padol untuk membantu hotpin, tapi ia takut akan sensitifnya si hotpin. Jika orang yg sedang dalam tertekan, maka tingkat kemarahannya berbanding lurus dgn emosinya. Mungkin hanya itu rumus yg ia dapatkan setelah 2tahun mempelajari fisika dan kelihatannya sih begitu. Itupun setepatnya bukan rumus, melainkan arah yg tepat untuk peribahasa. Sebuah ringam yg sulit untuk dicerna otak kecil padol , namun lebih baik ia menawarkan diri.
''Hot... sibuk kali dari tadi"
"Yang lain pada sibuk make up, ditegur malah lempar bedak tadi. Malas jadinya..."
"Wih gila...! Tegas dikitlah hot..."
"Udahlah dol, kerja ajalah kita yg mau, yg enggak mau besok-besok ada acara gak diikutin lagi"
"Ada lagi kerjaan bos...?"
"Udah kok dol, tinggal acara dimulia..."
Sejenak setelah perbincangan singkat itu, majulah dua orang dari bawah menuju keatas panggung. Itu kalo gak salah MC acara yg tadi sibuk netesin insto ke matanya, ya sudah acara pun dimulai....
Entri Populer
Sabtu, 16 November 2013
Jumat, 01 November 2013
PeDeKaTe tapi LDR #part5
Tak ada pilihan bagi padol jika memang inginkan penjelasan akan kasus mengapa karin mengerutkan bibirnya, sepertinya karin memang butuh seseorang untuk mendengarkan apa yg dia rasakan. Padol masih juga bermalu, memalingkan nervous memang agak sulit pagi padol. Ini serasa harus ia tunaikan atau karin akan semakin tenggelam dalam kesedihannya, dan juga padol serius harus menunaikan misi ini agar tak semakin larut.
Menarik napas dalam-dalam sudah seakan tiada hentinya padol lakukan, ia tutup matanya menutup pandangannya sejenak. Ia siapkan seluruh materi untuk ia sampaikan nantinya kepada karin, ia rangkaikan sedemikian rapi untuk rayuan bahkan gombalannya nanti untuk menghibur karin. Cukup sudah ia rasakan, ia pikir ia sanggup hanya untuk duduk disebelah karin dan berobral rayuan dalam imajinasi belakanya. Memuji karin yg mampu membuatnya lupa akan hal apapun, dan bahkan karin juga mampu membuatnya lupa akan mengisi ulang pulsanya *ini emang padol yg gak punya uang*.
Sekilas ia pun bersiap, get ready dan ia pun membuka matanya. Hanya saja padol bersusah-susah untuk sadar, kemana perginya karin...??? Atau dia hanya halusinasi melihat karin sedari tadi? mana mungkin sepagi itu dia sudah mabuk? Hah? lalu apa yg terjadi? Padol seperti akan hal anak kecil yg berlari-lari riang namun setelah ia berhenti untuk mengambil napas ia kehilangan orang tuanya, semua sirna layaknya semut yg diinjak sepatu boots. Tapi, tak mungkin juga karin hilang secepat itu.
Diselidikinya setiap jenjang bangku sekitar dudukan karin tadi, ternyata karin sudah berjalan meninggalkan posisi awal. Sepertinya padol kehilangan moment yg mana harusnya ia mampu manfaatkan, ini akan sulit bagi kelangsungan pedekatenya. Baru saja ia lewatkan check point pada game ini, itu artinya waktu ataupun kesempatannya telah berkurang. Sepertinya padol agak kesal, mengapa ia harus memejamkan mata dahulu hanya untuk menghampiri karin dan say hii and what's up...
Dipikirannya sekarang adalah bagaimana ia harus lebih peka lagi akan suatu hal yg mana yg tidak harus ia lewatkan seperti tadi, seperti halnya ia melewatkan peta untuk menuju kuburan harta sikarun. Andai tadi ia datang kesana, mungkin ia akan dapatkan peta tentang arah pikiran yg sedang terjadi dgn karin. Ini mungkin sangat asyik untuk didengar, seperti semudah memainkan games pes 2013/2014 ditumpukan kaset ps dirumahnya. Tapi pr untuk padol buka hal membobol, tapi tentang hal bagaimana ia harus mengatur strategi dulu sebelum ia menjebol hati karin.
Ia hanya terdiam memukau melihat karin memudar semakin jauh dari matanya, besar rasanya ia ingin kejar dan itu hanyalah sebatas hawa nafsu yg mudah untuk menguap. Padol memang agaknya sulit untuk memberhentikan tingkah groginya ini, tak terkira ada seorang datang dari samping
"Padol... Tadi beli snack uangnya udah diganti hotpin?" suara ibuk-ibuk rupanya
"Eee... sudah buk, aman. Ada apa lagi ya buk...?"
"Gini, kamu cari anak untuk taruh snack-snack itu ke tamu... Kamu cari yg sexy atas bawah yah"
"HAH...??? Maksud ibuk...???"
"Udah jgn banyak polosan kamu, cari cepat 2orang... Kalau dapet kirim keruangan si adi tadi ya"
Padol memang manusia super polos lebih dari polosnya kertas hvs, apa yg ibuk tadi maksudkan ia bahkan hanya kosong. Pandangannya masih mengarah kedepan tanpa berusaha mencerna apa yg harus ia lakukan saat dan setelah itu, mungkin itu hanya kiasan si ibuk. Tapi sejujurnya padol agak bingung juga, ia harus cari orang untuk menjelaskan apa yg sebetulnya ibu tadi inginkan. Berjalanlah ia kemana tak tentu arah juga, hanya mutar-memutar sekitar daerah itu juga. Kemudian ia lihat ravi lewat bertenteng dgn seorang yg bisa jadi itu pacarnya.
"Ravi, ravi...! Bentar vi, sinilah..."
"Heh padol, nah aku datang..."
"Gini nah vi, si ibuk tadi minta orang sexy atas bawah nah apa maksud si ibuk tuu...?"
"Oh aku tahu! cari sekarang nggak cewek kriteria gituan...?"
"Tapi yakin tahu vi...?"
"Ikutlah cepet..."
Sementara tempelan yg ia bawa tadi ia tinggal begitu saja, memang ravi dikenal cukup playboy karena memang dia raja segala jenis gombalan, rayuan, puitis, atau apapun semacam itu. Bagi ravi pacar itu semudah sms orang dan mengatakan kalau ia suka padanya dgn sedikit maka sekilas akan ada pacar baru untuk ravi, ya sudahlah ravi memang manusia yg dasarnya memang tak pernah puas. Sekejap mereka telah tiba disekitaran kelas dua, ravi lihat dan periksa untuk menyesuaikan terlebih dahulu sesuai atau tidakkah orang sekitaran situ dgn kriteria tadi.
Dapatlah ada satu yg masuk dalam apa yg ia inginkan, kalau menurut ravi oke maka padol akan polos pula akan mengatakan oke....
"Dol yg baju batik biru dol, gimana...?"
"Jujur ini nggak ngerti apa sih maksudnya vi sexy atas bawah"
"Anak smp pun nggak segini parahlah dol polosnya, maksud si ibuk itu sexy bodynya"
"Oh, harus mirip body motor gitu ya vi?"
"Body biola atau nggak gitar spanyol koplak, body motor -_-"
"Oh, eee batik biru...? Bukannya itu mantan si adi vi? siapa sih... oh si yesi tuh anak kelas kita"
"Nah, adi kan ketua konsumsi gak...?"
"Iya emang kenapa vi...?"
"Biarlah, si yesi sama adi flashback"
"Bukan... bukan, belum pacaran tapi ini siapa yg suka ya? Adi apa yesi?"
"Sama-sama suka palingan, aku kesana dululah dol, satu lagi tugas dirimu oke!"
"Okelah..."
Sementara ravi menuju kearah yesi, padol malah diam terbius ditempat yang ternyata ia lihat karin ada didepan beberapa meter didepannya. Satu hal, ia lupakan menyiapkan diri jika hal ini terjadi. Padol makan nervous, dia tak tahu apa yg harus ia lakukan. Apa yg harus ia katakan saja ia bingung, padahal karin berjalan semakin memangkas jarak antaranya dengan padol. Jika diberi kesempatan untuk lari pasti ia akan lari, tapi karin sudah didepan jarak nafas dalamnya.
"Padol, kenapa bengong gitu..."
"Eehh, karin eehh nggak kamu... kamu... kaa.. m.. uuu..."
"Emang aku kenapa sih padol"
"Ka.. m... uu... beda hari ini!"
"Beda apanya sih, ihh kamu keringatan gitu sih..?"
"Kamu beda karin, beda semuanya hari ini"
"Iya iya udah dulu ya padol, mau ikut makan gak...?"
"Udah kok"
"Ya udah, aku pergi dulu ya padol"
Polosnya padol ternyata selamat akan logikanya yg masih hidup tadi, ia masih mampu jujur namun dalam kesempatan sebenarnya ia sedikit merayu. Padol masih terbius dgn karin, dgn segala yg karin lakukan tadi seperti halnya sulap yg padol tak tahu bagaimana ia mendatangkan rasa yg tercipta dalam diri padol barusan.
Menarik napas dalam-dalam sudah seakan tiada hentinya padol lakukan, ia tutup matanya menutup pandangannya sejenak. Ia siapkan seluruh materi untuk ia sampaikan nantinya kepada karin, ia rangkaikan sedemikian rapi untuk rayuan bahkan gombalannya nanti untuk menghibur karin. Cukup sudah ia rasakan, ia pikir ia sanggup hanya untuk duduk disebelah karin dan berobral rayuan dalam imajinasi belakanya. Memuji karin yg mampu membuatnya lupa akan hal apapun, dan bahkan karin juga mampu membuatnya lupa akan mengisi ulang pulsanya *ini emang padol yg gak punya uang*.
Sekilas ia pun bersiap, get ready dan ia pun membuka matanya. Hanya saja padol bersusah-susah untuk sadar, kemana perginya karin...??? Atau dia hanya halusinasi melihat karin sedari tadi? mana mungkin sepagi itu dia sudah mabuk? Hah? lalu apa yg terjadi? Padol seperti akan hal anak kecil yg berlari-lari riang namun setelah ia berhenti untuk mengambil napas ia kehilangan orang tuanya, semua sirna layaknya semut yg diinjak sepatu boots. Tapi, tak mungkin juga karin hilang secepat itu.
Diselidikinya setiap jenjang bangku sekitar dudukan karin tadi, ternyata karin sudah berjalan meninggalkan posisi awal. Sepertinya padol kehilangan moment yg mana harusnya ia mampu manfaatkan, ini akan sulit bagi kelangsungan pedekatenya. Baru saja ia lewatkan check point pada game ini, itu artinya waktu ataupun kesempatannya telah berkurang. Sepertinya padol agak kesal, mengapa ia harus memejamkan mata dahulu hanya untuk menghampiri karin dan say hii and what's up...
Dipikirannya sekarang adalah bagaimana ia harus lebih peka lagi akan suatu hal yg mana yg tidak harus ia lewatkan seperti tadi, seperti halnya ia melewatkan peta untuk menuju kuburan harta sikarun. Andai tadi ia datang kesana, mungkin ia akan dapatkan peta tentang arah pikiran yg sedang terjadi dgn karin. Ini mungkin sangat asyik untuk didengar, seperti semudah memainkan games pes 2013/2014 ditumpukan kaset ps dirumahnya. Tapi pr untuk padol buka hal membobol, tapi tentang hal bagaimana ia harus mengatur strategi dulu sebelum ia menjebol hati karin.
Ia hanya terdiam memukau melihat karin memudar semakin jauh dari matanya, besar rasanya ia ingin kejar dan itu hanyalah sebatas hawa nafsu yg mudah untuk menguap. Padol memang agaknya sulit untuk memberhentikan tingkah groginya ini, tak terkira ada seorang datang dari samping
"Padol... Tadi beli snack uangnya udah diganti hotpin?" suara ibuk-ibuk rupanya
"Eee... sudah buk, aman. Ada apa lagi ya buk...?"
"Gini, kamu cari anak untuk taruh snack-snack itu ke tamu... Kamu cari yg sexy atas bawah yah"
"HAH...??? Maksud ibuk...???"
"Udah jgn banyak polosan kamu, cari cepat 2orang... Kalau dapet kirim keruangan si adi tadi ya"
Padol memang manusia super polos lebih dari polosnya kertas hvs, apa yg ibuk tadi maksudkan ia bahkan hanya kosong. Pandangannya masih mengarah kedepan tanpa berusaha mencerna apa yg harus ia lakukan saat dan setelah itu, mungkin itu hanya kiasan si ibuk. Tapi sejujurnya padol agak bingung juga, ia harus cari orang untuk menjelaskan apa yg sebetulnya ibu tadi inginkan. Berjalanlah ia kemana tak tentu arah juga, hanya mutar-memutar sekitar daerah itu juga. Kemudian ia lihat ravi lewat bertenteng dgn seorang yg bisa jadi itu pacarnya.
"Ravi, ravi...! Bentar vi, sinilah..."
"Heh padol, nah aku datang..."
"Gini nah vi, si ibuk tadi minta orang sexy atas bawah nah apa maksud si ibuk tuu...?"
"Oh aku tahu! cari sekarang nggak cewek kriteria gituan...?"
"Tapi yakin tahu vi...?"
"Ikutlah cepet..."
Sementara tempelan yg ia bawa tadi ia tinggal begitu saja, memang ravi dikenal cukup playboy karena memang dia raja segala jenis gombalan, rayuan, puitis, atau apapun semacam itu. Bagi ravi pacar itu semudah sms orang dan mengatakan kalau ia suka padanya dgn sedikit maka sekilas akan ada pacar baru untuk ravi, ya sudahlah ravi memang manusia yg dasarnya memang tak pernah puas. Sekejap mereka telah tiba disekitaran kelas dua, ravi lihat dan periksa untuk menyesuaikan terlebih dahulu sesuai atau tidakkah orang sekitaran situ dgn kriteria tadi.
Dapatlah ada satu yg masuk dalam apa yg ia inginkan, kalau menurut ravi oke maka padol akan polos pula akan mengatakan oke....
"Dol yg baju batik biru dol, gimana...?"
"Jujur ini nggak ngerti apa sih maksudnya vi sexy atas bawah"
"Anak smp pun nggak segini parahlah dol polosnya, maksud si ibuk itu sexy bodynya"
"Oh, harus mirip body motor gitu ya vi?"
"Body biola atau nggak gitar spanyol koplak, body motor -_-"
"Oh, eee batik biru...? Bukannya itu mantan si adi vi? siapa sih... oh si yesi tuh anak kelas kita"
"Nah, adi kan ketua konsumsi gak...?"
"Iya emang kenapa vi...?"
"Biarlah, si yesi sama adi flashback"
"Bukan... bukan, belum pacaran tapi ini siapa yg suka ya? Adi apa yesi?"
"Sama-sama suka palingan, aku kesana dululah dol, satu lagi tugas dirimu oke!"
"Okelah..."
Sementara ravi menuju kearah yesi, padol malah diam terbius ditempat yang ternyata ia lihat karin ada didepan beberapa meter didepannya. Satu hal, ia lupakan menyiapkan diri jika hal ini terjadi. Padol makan nervous, dia tak tahu apa yg harus ia lakukan. Apa yg harus ia katakan saja ia bingung, padahal karin berjalan semakin memangkas jarak antaranya dengan padol. Jika diberi kesempatan untuk lari pasti ia akan lari, tapi karin sudah didepan jarak nafas dalamnya.
"Padol, kenapa bengong gitu..."
"Eehh, karin eehh nggak kamu... kamu... kaa.. m.. uuu..."
"Emang aku kenapa sih padol"
"Ka.. m... uu... beda hari ini!"
"Beda apanya sih, ihh kamu keringatan gitu sih..?"
"Kamu beda karin, beda semuanya hari ini"
"Iya iya udah dulu ya padol, mau ikut makan gak...?"
"Udah kok"
"Ya udah, aku pergi dulu ya padol"
Polosnya padol ternyata selamat akan logikanya yg masih hidup tadi, ia masih mampu jujur namun dalam kesempatan sebenarnya ia sedikit merayu. Padol masih terbius dgn karin, dgn segala yg karin lakukan tadi seperti halnya sulap yg padol tak tahu bagaimana ia mendatangkan rasa yg tercipta dalam diri padol barusan.
Langganan:
Postingan (Atom)