Initially I did not want anything to happen, be it me or undermine my blasphemous. This paper is a opinion not a fact, whether there are any facts now but once again I just want to pour my opinion here. In accordance with the title, album "Jornal" Justin bieber bad or success? Looking from the side which is now presented it to say it is destroyed, for a superstar with melodious voice. How not, the expectations of all his fans clearly want something more than a single initially Baby humans are capable of millions spellbound, until the entry is published this song dichannel youtube viewers reaching 955 282 582!!!
Definitely not a cheap work, is what might be called the phenomenon the beginning of all justin footing. But what happens now? Blasphemy highly tapered kept stabbing justin defense, he was just a child who has not reached maturity without help to achieve it. The media is very cruel, the slightest I never see again good news for justin end-the end of 2013.
Will you , O blasphemers , just listen to the song dialbum " Jornal " randomly. The lyrics are very firm and no longer excessive like One Time or Baby , somehow I'm wrong here but this is my opinion . Justin
tried his maturity mengapai by flowing lyrics dialbum this together,
just that I wonder why many say this is a bad album ? Define the album did not sell well ? Different or the same ?
Bad Day lyrics say, if more or less summed up my opinion as a man who was left by a woman . But this man never thought this would happen disebuah bad day for him . Then there's All Bad , this song is sick again . Tells us that there are people who want to stab in the back , obviously this just like justin vent here . All
the lyrics assertion was buried with millions like blasphemy coming to
justin , I found it difficult now to differentiate between the original
message and where the intention to blaspheme . Once again , I just poured what my opinion here . I think this album is expected Justin to help him out of all the insults that are created , but the fact quite the opposite . Justin
even more and more discredited by people who do not clear his form ,
they simply denounce mediated media without showing a proof that they
are equivalent to blasphemy .
Entri Populer
Jumat, 27 Desember 2013
Album "Jornal" Justin bieber buruk atau sukses?
Awalnya saya tidak ingin apapun terjadi, baik itu menghujat saya ataupun meruntuhkan saya. Tulisan ini berupa opini bukan fakta, entah fakta apa terdapat sekarang tapi sekali lagi saya hanya ingin menuangkan opini saya disini. Sesuai dengan judul, Album "Jornal" Justin bieber buruk atau sukses? Melihat dari sisi yang sekarang tersaji memang bisa dikatakan sangatlah hancur, bagi seorang superstar dengan suara merdu ini. Bagaimana tidak, harapan dari semua pengemarnya jelas menginginkan sesuatu yang lebih dari single awalnya Baby yang mampu berjuta manusia tersihir, sampai entri ini dipublikasikan viewers lagu ini dichannel youtube mencapai 955.282.582 !!!
Jelas bukan sebuah karya murahan, inilah yang mungkin bisa disebut penomena awal dari segala pijakan justin. Namun apa yang terjadi sekarang? Hujatan yang sangat meruncing terus menusuk-nusuk pertahanan justin, ia hanya anak yang belum mencapai kedewasaan tanpa bantuan untuk mencapai itu. Media sangatlah kejam, sedikit pun saya tak pernah melihat lagi berita baik untuk justin diakhir-akhir tahun 2013.
Coba kalian wahai penghujat, dengarkan lagu satu saja dialbum "Jornal" secara acak. Liriknya sangat tegas dan tak lagi lebai seperti One Time atau pun Baby, entah saya salah disini tapi ini adalah opini saya. Justin mencoba mengapai kedewasaannya dengan cara mengalirkan lirik-lirik dialbum ini, cuman yang saya heran mengapa banyak yang mengatakan ini album yang buruk? Definisikan dengan album yang tak laku? Beda ataukah sama?
Lirik Bad Day sebut saja, jika disimpulkan kedalam bahasa Indonesia kurang lebih menurut saya seperti seorang pria yang ditinggal oleh wanita. Namun pria ini tak pernah menyangka hal ini akan terjadi disebuah hari yang buruk baginya. Lalu ada All Bad, lagu ini lebih sakit lagi. Menceritakan bahwa ada orang yang ingin menusuk dari belakang, jelas sekali ini seperti layaknya justin curhat disini.
Semua lirik-lirik penegasan tadi seperti terkubur dengan jutaan hujatan yang datang untuk justin, saya sulit sekarang untuk membedakan mana berita asli dan mana yang niatnya untuk menghujat. Sekali lagi, saya hanya menuangkan apa opini saya disini. Menurut saya album ini sangatlah diharapkan justin bisa membantunya keluar dari semua hujatan yang tercipta, namun kenyataan sungguh bertolak belakang. Justin justru semakin dan semakin dihujat oleh orang yang tak jelas wujudnya, mereka hanya mencela dimedia-media tanpa menunjukkan sebuah bukti yang setara dengan hujatan mereka.
Jelas bukan sebuah karya murahan, inilah yang mungkin bisa disebut penomena awal dari segala pijakan justin. Namun apa yang terjadi sekarang? Hujatan yang sangat meruncing terus menusuk-nusuk pertahanan justin, ia hanya anak yang belum mencapai kedewasaan tanpa bantuan untuk mencapai itu. Media sangatlah kejam, sedikit pun saya tak pernah melihat lagi berita baik untuk justin diakhir-akhir tahun 2013.
Coba kalian wahai penghujat, dengarkan lagu satu saja dialbum "Jornal" secara acak. Liriknya sangat tegas dan tak lagi lebai seperti One Time atau pun Baby, entah saya salah disini tapi ini adalah opini saya. Justin mencoba mengapai kedewasaannya dengan cara mengalirkan lirik-lirik dialbum ini, cuman yang saya heran mengapa banyak yang mengatakan ini album yang buruk? Definisikan dengan album yang tak laku? Beda ataukah sama?
Lirik Bad Day sebut saja, jika disimpulkan kedalam bahasa Indonesia kurang lebih menurut saya seperti seorang pria yang ditinggal oleh wanita. Namun pria ini tak pernah menyangka hal ini akan terjadi disebuah hari yang buruk baginya. Lalu ada All Bad, lagu ini lebih sakit lagi. Menceritakan bahwa ada orang yang ingin menusuk dari belakang, jelas sekali ini seperti layaknya justin curhat disini.
Semua lirik-lirik penegasan tadi seperti terkubur dengan jutaan hujatan yang datang untuk justin, saya sulit sekarang untuk membedakan mana berita asli dan mana yang niatnya untuk menghujat. Sekali lagi, saya hanya menuangkan apa opini saya disini. Menurut saya album ini sangatlah diharapkan justin bisa membantunya keluar dari semua hujatan yang tercipta, namun kenyataan sungguh bertolak belakang. Justin justru semakin dan semakin dihujat oleh orang yang tak jelas wujudnya, mereka hanya mencela dimedia-media tanpa menunjukkan sebuah bukti yang setara dengan hujatan mereka.
Selasa, 24 Desember 2013
PeDeKaTe tapi LDR #part10
Setelah membongkar seluruh isi perut lemarinya, ia jatuh kesebuah hal yang ia sangat suka. Jaket, mengapa ia tidak mengenakan jaket? Dari pada baju, baginya jaket itu seperti pembungkus yang nilainya sangat netral dan pembeda antara pemikiran mewah dan sederhana sebuah style berpakaian seseorang. Dia juga sangat teramat nyaman mengenakan jaket, lalu muncul sebuah bisikkan yang melontarkan "bukankah sederhana itu awalnya dari kenyamanan?"
Padol pun sudah yakin dengan pilihannya, ia akan mengunakan jaket dan baju oblong lusus didalamnya. Inilah kesederhanaan dirinya, dan kenyamanan dirinya. Lalu, bersiaplah ia dengan segera dan juga masih menunjukkan reflek yang cekatan. Setelah semua berlalu, ia melihat-lihat jam ditangannya. Tertera pukul 19.34 disana, jika ia pergi sekarang maka mungkin waktu yang tersedia agak lumayan.
Namun bagaimana pula jika waktu yang lumayan tadi lumayan pula untuknya kesulitan bernafas? Sedari tadi ia terlihat begitu sangat cemas seperti halnya seorang suami yang menanti kelahiran anaknya, mondar-mandir kira kanan depan atas bawah. Ini ternyata diperhatikan oleh ibunya, ya harap diketahui padol ini terbilang dibatasi walau hanya sedikit oleh ibunya. Mungkin karena juga padol belum terlalu dewasa, maka itu juga mungkin yang menyebabkan ibunya berlaku seperti itu.
"Padol...??? Kenapa lalu-lalang sih...???"
"Ah ibu, eee... mmm... gak ada sih bu, cuman pemanasan aja"
"Emang kamu mau olahraga apa malam-malam gini? Senam?"
"Hah...??? Enggak kok bu, cuman hari ini aja yang dingin jadi butuh pemanasan bu"
"Halah kamu mau nipu ibu, ibu tau kok padol kamu kenapa..."
"Emang aku kenapa bu...???"
"Kamu lagi suka sama cewek, iya kan...??? Ngaku deh kamu"
"Alah, apa sih buu -_-"
"Ibu pernah muda padol, jadi waktu itu ayah gak jauh beda sama kamu... Keliatannya tuu dari muka kamu udah mirip dibakar, mulai merah-merah gak jelas"
"Iya bu aku ngaku, ini aku juga mau kerumahnya"
"Hati-hati ya dol, jangan pulang diatas jam sepuluh dengerkan"
Setelah mengiyakan permintaan ibu, padol pun bergerak dengan penuh percaya bahwa malam ini karin akan dia luluhkan. Ia percaya kalau sudah ibunya mendukung, cuman ayahnya belum. Ayah padol memang begitu sulit, ia harus mengerti dengan pekerjaan yang ayahnya dapat. Tapi setidaknya, ibunya sudah setuju dan tanpa lama lagi ia pun sampai didepan pekarangan rumah karin. Dengan nafas sedalam sumur, ia tarik-ulur secepat mungkin untuk memulai penghukuman ini.
"Ini padol yaa...??? Masuk aja dek kedalam"
"Eh iya buk, ini ibunya karin?"
"Iya nak, silahkan-silahkan masuk dulu nak"
Entah apa yang sebenarnya terjadi padol seakan sulit menalarinya, ia seakan tak percaya apa yang ia dapati barusan. Bagaimana ibunya karin begitu mendapatinya dengan keadaan seperti tadi, dan bagaimana padol diketahui oleh ibu karin. Sepertinya ini telah lama diketahui, namun bagi padol ini mungkin awalan yang sangat baik. Cukup lama melangkah, ia pun masuk kedalam rumah karin dengan diiringi ibu karin tadi. Terlihat adik-adik karin ada didepan televisi, mereka sangat terlihat serius padahal yang mereka lihat hanyalah iklan mainan. Tak lama kemudian, keluarlah karin dapur...
"Padol, gak apa-apakan tadi ibu negur kamu...???"
"Oh karin, nggak-nggak..."
"Bentar ya aku...."
"Gak usah tuker baju rin, gitu aja bajunya"
"Hahaha... Enggak padol, aku mau ngambil minum dulu buat kamu..."
Bisakah kalian bayangkan muka padol saat itu, luar biasa pasti hal tersebut sangat memalukan baginya. Wajahnya pun mulai memerah lagi, namun ini merah yang sangat kelihatan. Ia mencoba mendapatkan alirannya kembali, mencoba untuk bertahan diantara kesulitannya untuk menyesuaikan dirinya kembali terhadap kondisi.
"Ini dol, diminum yah"
"Iyalah diminum gak mungkin dikunyahkan"
"Nah, bisa aja kamu"
"Kamu baru masak rin?"
"Nggak juga sih, cuman bantuin ibu dikit soalnya tadi ibu kedepan eh malah ketemu kamu gitu"
Sejauh ini terlihat padol dapat mengikuti jalan dan aliran yang diciptakan oleh karin, begitu juga karin juga sudah mulai terlihat mengenal umpan yang diberikan padol. Namun berdetak sehentak jantung padol, ia terkejut setelah ada abang-abang yang lewat depannya. Sekiranya karin merupakan anak tertua dikeluarganya, tapi tadi itu siapa? Penarasan terbentuk dalam pikiran padol, mampukah ia mengeluarkan suaranya untuk menanyakan kepada karin siapa beliau yang lewat barusan.
Tapi nantilah, ia hiraukan masalah ini dan lebih mencoba untuk mendapatkan cara untuk menyesuaikan diri lebih masuk lagi dalam aliran ini. Ketara sekali padol masih agak kaku malam itu, biasanya ia harus berlepas seperti bebas namun kali ini ia cukup tertekan untuk menyesuaikan dirinya. Memang begitulah dan juga mau bilang, ini juga pertama kali kakinya menjejakkan tapak dirumah seorang wanita, dan wanita ini bukanlah wanita sembarangan baginya.
"Tumben kamu gak grogi'an malam ni dol...???"
"Hah, ahaha tadi udah udah latihan tenaga dalam biar bisa nahan getar"
"Halah mana adalah gituan..."
"Nah ini buktinya aku gak getar-getar lagi"
"Emang bunyi suara hp getar-getar"
Terlihat sekali bahwa karin sebenarnya juga memperhatikan padol, dia bukan sekedar melayani pdkt padol. Juga mungkin ia akan membalas apa yang telah padol usahakan selama ini, memang cukup berat bagi padol selama ini. Mengusahakan sebuah awalan saja begitu sulit, tapi kini mulai kelihatan hasilnya. Karin mulai mencoba menghargai perkara yang selama ini dibuat padol, mungkin bukan saja menghargai ataupun membalas. Bisa saja mungkin lebih dari ini, mungkin suatu saat jawaban ini akan tersingkap.
"Eh karin, yang tadi itu abang kandung gak...???"
"Enggak, dia cuman sepupu dol. Kamu kagetan gitu sih"
"Iyalah kaget, dirapor kamu kan kamu anak pertama......"
"Ehh kamu liatin rapor aku...??? Dimana emang???"
"Kemaren aku ada ngeliat waktu dikantor"
"Ihh bahaya kamu"
"Bahaya bahaya, emang aku bom apa bahaya"
Semakin malam semakin larut, mereka semakin enjoy dengan apa saja hal yang dibawakan padol. Mulai pertanyaan aneh sekalipun bahkan pertanyaan serius nampak karin mampu dengan apik dalam menjawabnya...
Padol pun sudah yakin dengan pilihannya, ia akan mengunakan jaket dan baju oblong lusus didalamnya. Inilah kesederhanaan dirinya, dan kenyamanan dirinya. Lalu, bersiaplah ia dengan segera dan juga masih menunjukkan reflek yang cekatan. Setelah semua berlalu, ia melihat-lihat jam ditangannya. Tertera pukul 19.34 disana, jika ia pergi sekarang maka mungkin waktu yang tersedia agak lumayan.
Namun bagaimana pula jika waktu yang lumayan tadi lumayan pula untuknya kesulitan bernafas? Sedari tadi ia terlihat begitu sangat cemas seperti halnya seorang suami yang menanti kelahiran anaknya, mondar-mandir kira kanan depan atas bawah. Ini ternyata diperhatikan oleh ibunya, ya harap diketahui padol ini terbilang dibatasi walau hanya sedikit oleh ibunya. Mungkin karena juga padol belum terlalu dewasa, maka itu juga mungkin yang menyebabkan ibunya berlaku seperti itu.
"Padol...??? Kenapa lalu-lalang sih...???"
"Ah ibu, eee... mmm... gak ada sih bu, cuman pemanasan aja"
"Emang kamu mau olahraga apa malam-malam gini? Senam?"
"Hah...??? Enggak kok bu, cuman hari ini aja yang dingin jadi butuh pemanasan bu"
"Halah kamu mau nipu ibu, ibu tau kok padol kamu kenapa..."
"Emang aku kenapa bu...???"
"Kamu lagi suka sama cewek, iya kan...??? Ngaku deh kamu"
"Alah, apa sih buu -_-"
"Ibu pernah muda padol, jadi waktu itu ayah gak jauh beda sama kamu... Keliatannya tuu dari muka kamu udah mirip dibakar, mulai merah-merah gak jelas"
"Iya bu aku ngaku, ini aku juga mau kerumahnya"
"Hati-hati ya dol, jangan pulang diatas jam sepuluh dengerkan"
Setelah mengiyakan permintaan ibu, padol pun bergerak dengan penuh percaya bahwa malam ini karin akan dia luluhkan. Ia percaya kalau sudah ibunya mendukung, cuman ayahnya belum. Ayah padol memang begitu sulit, ia harus mengerti dengan pekerjaan yang ayahnya dapat. Tapi setidaknya, ibunya sudah setuju dan tanpa lama lagi ia pun sampai didepan pekarangan rumah karin. Dengan nafas sedalam sumur, ia tarik-ulur secepat mungkin untuk memulai penghukuman ini.
"Ini padol yaa...??? Masuk aja dek kedalam"
"Eh iya buk, ini ibunya karin?"
"Iya nak, silahkan-silahkan masuk dulu nak"
Entah apa yang sebenarnya terjadi padol seakan sulit menalarinya, ia seakan tak percaya apa yang ia dapati barusan. Bagaimana ibunya karin begitu mendapatinya dengan keadaan seperti tadi, dan bagaimana padol diketahui oleh ibu karin. Sepertinya ini telah lama diketahui, namun bagi padol ini mungkin awalan yang sangat baik. Cukup lama melangkah, ia pun masuk kedalam rumah karin dengan diiringi ibu karin tadi. Terlihat adik-adik karin ada didepan televisi, mereka sangat terlihat serius padahal yang mereka lihat hanyalah iklan mainan. Tak lama kemudian, keluarlah karin dapur...
"Padol, gak apa-apakan tadi ibu negur kamu...???"
"Oh karin, nggak-nggak..."
"Bentar ya aku...."
"Gak usah tuker baju rin, gitu aja bajunya"
"Hahaha... Enggak padol, aku mau ngambil minum dulu buat kamu..."
Bisakah kalian bayangkan muka padol saat itu, luar biasa pasti hal tersebut sangat memalukan baginya. Wajahnya pun mulai memerah lagi, namun ini merah yang sangat kelihatan. Ia mencoba mendapatkan alirannya kembali, mencoba untuk bertahan diantara kesulitannya untuk menyesuaikan dirinya kembali terhadap kondisi.
"Ini dol, diminum yah"
"Iyalah diminum gak mungkin dikunyahkan"
"Nah, bisa aja kamu"
"Kamu baru masak rin?"
"Nggak juga sih, cuman bantuin ibu dikit soalnya tadi ibu kedepan eh malah ketemu kamu gitu"
Sejauh ini terlihat padol dapat mengikuti jalan dan aliran yang diciptakan oleh karin, begitu juga karin juga sudah mulai terlihat mengenal umpan yang diberikan padol. Namun berdetak sehentak jantung padol, ia terkejut setelah ada abang-abang yang lewat depannya. Sekiranya karin merupakan anak tertua dikeluarganya, tapi tadi itu siapa? Penarasan terbentuk dalam pikiran padol, mampukah ia mengeluarkan suaranya untuk menanyakan kepada karin siapa beliau yang lewat barusan.
Tapi nantilah, ia hiraukan masalah ini dan lebih mencoba untuk mendapatkan cara untuk menyesuaikan diri lebih masuk lagi dalam aliran ini. Ketara sekali padol masih agak kaku malam itu, biasanya ia harus berlepas seperti bebas namun kali ini ia cukup tertekan untuk menyesuaikan dirinya. Memang begitulah dan juga mau bilang, ini juga pertama kali kakinya menjejakkan tapak dirumah seorang wanita, dan wanita ini bukanlah wanita sembarangan baginya.
"Tumben kamu gak grogi'an malam ni dol...???"
"Hah, ahaha tadi udah udah latihan tenaga dalam biar bisa nahan getar"
"Halah mana adalah gituan..."
"Nah ini buktinya aku gak getar-getar lagi"
"Emang bunyi suara hp getar-getar"
Terlihat sekali bahwa karin sebenarnya juga memperhatikan padol, dia bukan sekedar melayani pdkt padol. Juga mungkin ia akan membalas apa yang telah padol usahakan selama ini, memang cukup berat bagi padol selama ini. Mengusahakan sebuah awalan saja begitu sulit, tapi kini mulai kelihatan hasilnya. Karin mulai mencoba menghargai perkara yang selama ini dibuat padol, mungkin bukan saja menghargai ataupun membalas. Bisa saja mungkin lebih dari ini, mungkin suatu saat jawaban ini akan tersingkap.
"Eh karin, yang tadi itu abang kandung gak...???"
"Enggak, dia cuman sepupu dol. Kamu kagetan gitu sih"
"Iyalah kaget, dirapor kamu kan kamu anak pertama......"
"Ehh kamu liatin rapor aku...??? Dimana emang???"
"Kemaren aku ada ngeliat waktu dikantor"
"Ihh bahaya kamu"
"Bahaya bahaya, emang aku bom apa bahaya"
Semakin malam semakin larut, mereka semakin enjoy dengan apa saja hal yang dibawakan padol. Mulai pertanyaan aneh sekalipun bahkan pertanyaan serius nampak karin mampu dengan apik dalam menjawabnya...
Jumat, 20 Desember 2013
PeDeKaTe tapi LDR #part8
Sementara semua acara selesai, ternyata tidak untuk panitia. Sampah ternyata meninggalkan masalah lain bagi mereka, ini kelihatannya serius. Terlihat banyak tapi kalau dilihat, mungkin kalau dikerjakan akan terlihat agak sedikit dan selesai. Mulailah panitia menampung sampah kedalam tempatnya, mereka ada dimana-mana rupanya. Ada yg lupa, padol ternyata masih duduk santai dgn karin. Ia duduk dihamparan rumput liar depan kelas yg tamannya terbuka, kini padol agak cair rupanya
"Mana hapenya, sini dikirimin lagu tadi..."
"Ini, lagu apa sih...?"
"Pokoknya kerenlah, romance"
"Udah bisa kekirim lagunya...?"
"Gak bisa ini dari tadi, hapenya pendinglah..."
"Makanya jgn kepo padol, ininya aja belum aktif..."
"Iya aku berantakan disamping kamu..."
"Alah gombal kamu, ini kok tumben kamu gak nervous..?"
"Dari tadi kok, cuman disamping kamu ada rasa nyaman gitu rin"
"Udah gak usah gombal, jgn dipaksa padol"
"Aku seriusan rin, kamu tu sumber percaya aku"
Dari tadi karin hanya makan senyum, padol juga dari tadi nelan liurnya berulang-ulang kali melihat senyum yg dari tadi ia tunggu akhirnya terukir berkat usaha gombal yg ia pelajari sejak 2hari kemarin. Sepertinya juga padol mulai cair dan ikut dalam suasananya, ia mencoba merasakan hawa yg terhasilkan dari kebersamaan itu. Semua orang cukup mengerti akan beberapa hal, tapi lain hal dgn padol. Jika memang ia untuk kita, maka tak perlu kita berusaha untuk mendapatkannya. Lakukan dgn apa yg sebisa mungkin tanpa perlu ada yg dipaksakan.
Ini serasa hujan ditengah badai pasir baginya, sejuk ini pun belum pasti akan terasa dipengunungan manapun. Ini sejuk yg luar biasa, ini sejuk belum mampu untuk ia lupakan. Sepertinya begitu, ia sangat meresapi walaupun dari tadi hanya terdiam. Mungkin dari tadi memang ini yg ia inginkan, berdua bersama tanpa ada batas dan grogi lagi.
"Eh kamu kan panitia? Kamu gak bantu bersih-bersih tu?"
"Bentar lagi lah, lagunya juga belum kekirim ini..."
"Ntar kamu kena marah pula, udah ntar malem kerumah aja sekalian main..."
"Hah? seriusan nih?"
"Iya, kalo gak pun gak masalah kok"
"Ntar aku kerumah kamu malah gak mau keluar gimana?"
"Ya enggak gitu jugalah padol, pokoknya kalo bisa datang ya"
Ini tantangan untuk padol, sanggupkah ia? Karin pun pulang setelah berpamitan dgn padol tanpa bisa padol tahan lagi. Biarlah ia pulang, sekarang ia harus membantu panitia lainnya untuk membersihkan sampah yg bertelur dimana-mana. Jelaslah bahwa jumlah sampah yg ada melebihi panitia yg ada, mungkin ini akan menyulitkan bagi padol. Lebih-lebih padol, bagaimana dgn adi yg sok higienis. Jgn menyentuh sampah, tersentuh barang yg tak jelas mungkin ia akan mencuci tgn dgn tujuh macam air.
Walaupun begitu, sebagai panitia kita harus tetap bertanggung jawab dgn apa yg telah dipercayakan kepada kita. Jangan sampai amanah yg telah dipercayakan kepada kita sirna begitu saja hanya karena perkara simple seperti ini. Tapi tetap adi cukup bertingkah lagi,
"Haduh sampahnya yaAllah, ampuni hamba yaAllah hamba menyentuh sesuatu yg kotor yaAllah..."
"Idih, mirip ayam mau dikurban aja kamu di..."
"Gila liat tuh sampah, ya ampun berlendir *hueks*"
"Itu bukan lendir buto ijo -_- itu plastik es..."
"Ehh itu warnanya aja kemerah-merahan gitu *hueks*"
"Itu memang es sirup merah rasa melon -_-"
"Bukannya merah biasanya sirup apel atau fanta biasanya...?"
"Nah kalo tahu kenapa sok jijik gitu...? Mungkin itu es kamu yg kamu buang kesitu...?"
"Haiss mana mungkin, eh tapi iya kemarin mesan sirup warna merah"
"Ya udah pungut tuh mantanmu..."
"HAH!!! Itu sampah bukan mantan aku kampret"
"Di kamu gak ingat bibir kamu kemarin nyentuh pipet? Itu kan sama aja dgn ciuman adidos!"
"HAH!!! Gila, kenapa aku baru sadar... YaAllah ampuni hamba yaAllah hamba khilaf"
"Ntar pulang harus mandi wajib, sekarang pungut tuh"
Mau tak mau adi dgn acara sok higienisnya harus memungut "mantannya" tadi, yg suka tak suka karena tuntutan kewajiban sebagai panitia. Ini terlihat seperti mengambil kotoran ayam atau sapi, padahal tangannya sudah dibalut tiga buah kantong hitam. Entah bagaimana jika sampah lain, sampahnya saja serasa terasa berdosa ia pungut. Tapi karena dipaksa-paksa bertubi-tubi sedari tadi akhir, dgn sekedarnya ia hanya ambil sampah yg ada. Bahkan, untuk memasukkan kedalam tong sampah ia bisa three point *sebenarnya melempar*
Terlihat padol memperhatikan sesuatu, karin rupanya. Dari tadi mereka saling mengumpan dan memberi pandangan, ini seperti permainan bagi mereka dan hanya mereka yg memainkan tanpa akan ada yg kalah maupun menang. Jikalau pun ada yg kalah dan menang mereka akan tetap sama-sama tersenyum lagi, atau semacam orang yg sedang menghisap ganja yg sedari tadi hanya senyum kerjaannya. Yah begitulah cinta yg ada di sma, hanya berani dikejauhan dan bila dekat akan setengah mati menahan getaran grogi.
"Mana hapenya, sini dikirimin lagu tadi..."
"Ini, lagu apa sih...?"
"Pokoknya kerenlah, romance"
"Udah bisa kekirim lagunya...?"
"Gak bisa ini dari tadi, hapenya pendinglah..."
"Makanya jgn kepo padol, ininya aja belum aktif..."
"Iya aku berantakan disamping kamu..."
"Alah gombal kamu, ini kok tumben kamu gak nervous..?"
"Dari tadi kok, cuman disamping kamu ada rasa nyaman gitu rin"
"Udah gak usah gombal, jgn dipaksa padol"
"Aku seriusan rin, kamu tu sumber percaya aku"
Dari tadi karin hanya makan senyum, padol juga dari tadi nelan liurnya berulang-ulang kali melihat senyum yg dari tadi ia tunggu akhirnya terukir berkat usaha gombal yg ia pelajari sejak 2hari kemarin. Sepertinya juga padol mulai cair dan ikut dalam suasananya, ia mencoba merasakan hawa yg terhasilkan dari kebersamaan itu. Semua orang cukup mengerti akan beberapa hal, tapi lain hal dgn padol. Jika memang ia untuk kita, maka tak perlu kita berusaha untuk mendapatkannya. Lakukan dgn apa yg sebisa mungkin tanpa perlu ada yg dipaksakan.
Ini serasa hujan ditengah badai pasir baginya, sejuk ini pun belum pasti akan terasa dipengunungan manapun. Ini sejuk yg luar biasa, ini sejuk belum mampu untuk ia lupakan. Sepertinya begitu, ia sangat meresapi walaupun dari tadi hanya terdiam. Mungkin dari tadi memang ini yg ia inginkan, berdua bersama tanpa ada batas dan grogi lagi.
"Eh kamu kan panitia? Kamu gak bantu bersih-bersih tu?"
"Bentar lagi lah, lagunya juga belum kekirim ini..."
"Ntar kamu kena marah pula, udah ntar malem kerumah aja sekalian main..."
"Hah? seriusan nih?"
"Iya, kalo gak pun gak masalah kok"
"Ntar aku kerumah kamu malah gak mau keluar gimana?"
"Ya enggak gitu jugalah padol, pokoknya kalo bisa datang ya"
Ini tantangan untuk padol, sanggupkah ia? Karin pun pulang setelah berpamitan dgn padol tanpa bisa padol tahan lagi. Biarlah ia pulang, sekarang ia harus membantu panitia lainnya untuk membersihkan sampah yg bertelur dimana-mana. Jelaslah bahwa jumlah sampah yg ada melebihi panitia yg ada, mungkin ini akan menyulitkan bagi padol. Lebih-lebih padol, bagaimana dgn adi yg sok higienis. Jgn menyentuh sampah, tersentuh barang yg tak jelas mungkin ia akan mencuci tgn dgn tujuh macam air.
Walaupun begitu, sebagai panitia kita harus tetap bertanggung jawab dgn apa yg telah dipercayakan kepada kita. Jangan sampai amanah yg telah dipercayakan kepada kita sirna begitu saja hanya karena perkara simple seperti ini. Tapi tetap adi cukup bertingkah lagi,
"Haduh sampahnya yaAllah, ampuni hamba yaAllah hamba menyentuh sesuatu yg kotor yaAllah..."
"Idih, mirip ayam mau dikurban aja kamu di..."
"Gila liat tuh sampah, ya ampun berlendir *hueks*"
"Itu bukan lendir buto ijo -_- itu plastik es..."
"Ehh itu warnanya aja kemerah-merahan gitu *hueks*"
"Itu memang es sirup merah rasa melon -_-"
"Bukannya merah biasanya sirup apel atau fanta biasanya...?"
"Nah kalo tahu kenapa sok jijik gitu...? Mungkin itu es kamu yg kamu buang kesitu...?"
"Haiss mana mungkin, eh tapi iya kemarin mesan sirup warna merah"
"Ya udah pungut tuh mantanmu..."
"HAH!!! Itu sampah bukan mantan aku kampret"
"Di kamu gak ingat bibir kamu kemarin nyentuh pipet? Itu kan sama aja dgn ciuman adidos!"
"HAH!!! Gila, kenapa aku baru sadar... YaAllah ampuni hamba yaAllah hamba khilaf"
"Ntar pulang harus mandi wajib, sekarang pungut tuh"
Mau tak mau adi dgn acara sok higienisnya harus memungut "mantannya" tadi, yg suka tak suka karena tuntutan kewajiban sebagai panitia. Ini terlihat seperti mengambil kotoran ayam atau sapi, padahal tangannya sudah dibalut tiga buah kantong hitam. Entah bagaimana jika sampah lain, sampahnya saja serasa terasa berdosa ia pungut. Tapi karena dipaksa-paksa bertubi-tubi sedari tadi akhir, dgn sekedarnya ia hanya ambil sampah yg ada. Bahkan, untuk memasukkan kedalam tong sampah ia bisa three point *sebenarnya melempar*
Terlihat padol memperhatikan sesuatu, karin rupanya. Dari tadi mereka saling mengumpan dan memberi pandangan, ini seperti permainan bagi mereka dan hanya mereka yg memainkan tanpa akan ada yg kalah maupun menang. Jikalau pun ada yg kalah dan menang mereka akan tetap sama-sama tersenyum lagi, atau semacam orang yg sedang menghisap ganja yg sedari tadi hanya senyum kerjaannya. Yah begitulah cinta yg ada di sma, hanya berani dikejauhan dan bila dekat akan setengah mati menahan getaran grogi.
PeDeKaTe tapi LDR #part7
Acara dimulai dgn rangkaian-rangkaian sambutan dari beberapa orang yg menurut padol hanya orang biasa-biasa saja, tamu yg datang juga padol rasa tidak terlalu mencolok biji matanya. Terlebih-lebih masuk kehatinya, karena dari kemarin hatinya sudah terisi penuh oleh karin. Acara juga kelihatannya masih datar-datar saja, tapi tiba-tiba hotpin menarik padol kekelas bawah sambil membawa kaca ukuran besar dan juga kertas seperti kertas hapalan agama...
"Mau kemana padol... tarik-tarik mirip layangan dasar!"
"Ikut aja gak usah nolak, nah disini..." padol dibawa hotpin kedalam sebuah kelas yg acak sekali
"Tolong pegang kaca ini, nah pegang juga ni kertas diatas kepalamu..."
"Ini mau ngapain sih...? Hukuman mati...?"
Ternyata hotpin berusaha mengatur dirinya terlebih dahulu sebelum manggung memberikan beberapa kata sok sedih untuk melepaskan kakak kelas yg akan terbang kemana-mana. Pertama padol lihat hotpin mengunakan ekspresi yg cukup serius, namun lama-lama kaku membeku. Padol coba memberikan masukan cukup freak.
"Haduh hot, mukamu kaku mirip kambing mau disunat..."
"Jadi harus gimana...?"
"Pegang ni kaca..." sekali ini padol yg praktek
"Liat ni, jgn terpaku pada kaca... Tapi terpakulah pada dinding"
"Seriusan kampret -_-"
"Maksudnya, jgn terpaku pada dirimu hot... Tapi enjoy dgn suasana"
"Suasananya aja serius gitu gimana gak kaku"
"Bawa enjoy, dengarkan angin memanggilmu... dengarkan suara hanya suaramu, gitu kata ibu sri"
"Itu materi pidato macan panuan -_-"
"Tapi ya udah cobak dulu, sapa tahukan berhasil hot, latihan bagaimana caranya membuat melemaskan muka kita yg kaku, ni kita harus berubah sejelek mungkin terus ubah pula muka kita secepat mungkin dgn gaya keren..."
"Maksudnya gimana ini dol...?"
"Ikutin nah, oke!"
Padol bersegera membentuk muka idiotnya, dan itu hotpin akui sebagai muka yg paling idiot yg pernah tercipta. Dengan gaya membuka mulut menunggu lalat masuk dan mata dgn tatapan kosong seperti orang kurang tidur, lalu tiba-tiba padol menutup mukanya agak beberapa detik kemudian ia buka lalu mukanya berubah lagi menjadi sok cool dan itu geli menurut hotpin. Tapi dari tadi hotpin tak sadar tapi tetap ia coba untuk nikmati saja karnaval muka si padol ini.
Sementara giliran hotpin untuk maju tinggal beberapa jengkal menit lagi, padol tahu caranya. Ia telah mencoba menirukan muka orang idiot dan meminta hotpin untuk menirunya dan bodohnya mengapa hotpin mau menirunya...??? *walaupun hotpin kebanyakan ketawanya* Tapi giliran untuk penghakiman hotpin sudah sampai, ia harus bersegera berpidato dan apapun yg terjadi terjadilah.
Dipanggung hotpin sepertinya aman dan lancar seperti halnya hujan tanpa awan, ya begitulah sampai pada akhirnya ia pun turun. Ternyata ada kipas angin dibelakang dan dia mencoba mengikuti aliran angin tersebut menuruti saran padol, dan ternyata padol cukup bisa memotivasi orang. Selesailah acara untuk hotpin maka selesailah acara resmi dan mulailah bergiliran acara hiburan yg dinanti semua orang.
Dimulai dari NUSANTARA BERDENDANG yg mana seluruh lagu provinsi di Indonesia dinyanyikan oleh pengisi acara lengkap dgn baju daerahnya juga, semua orang terlelap dalam spekta acara pembukaan itu. Padol hanya mengerti lagu daerahnya Jambi, selebih dari itu semua daerah hanya dianggapnya provinsi dari planet lain yg ia tak ketahui.
Semua panitia yg telah tertunjuk ternyata yg mengisi acara awal ini, ada yg menyanyi dan ada yg menari latar. Padahal padol juga bisa menari tapi hanya satu style, gangnam style! dan itu pun harus 27kali latihan baru bisa meniru satu pergerakan. Acara lanjutan harus dipending dulu karena semua panitia agak terlihat kerepotan, maka dari itu acara yg telah siap harus dimajukan. Ternyata acara yg siap adalah beberapa guru menyumbangkan lagunya
"Acara selanjutnya semua kelas tiga kalau bisa maju kepanggung, ini acara kita buat acara ini semeriah mungkin kawan! Ya, acara selanjutnya kepada kepala sekolah kia untuk maju untuk menyedekahkan sekedarnya kicauan ya kalau bisa dangdut pak..." tak lamanya bapak telah naik diatas panggung
"Oke saya gak mau nyanyi kalo gak ada yg nemanin disini... Tolong, Bunga maju disini bantu pimpin jogetan masal ini..." sesaat bunga telah naik keatas panggung
"Semua kelas tiga maju dulu semua, kita tahan bapak mis sampai dangutan kita selesai..."
Adalah kepala sekolah yg terlebih dahulu menyiapkan suaranya, Pak Mis. Kemudian pak mis maju kepanggung dan ternyata ia mengingkan seorang yg cukup famiiar dalam menyanyi apalagi dangdut yaitu bunga. Setelah bunga naik kepanggung lagu pun digemakan dan responnya positif jutaan milliar rupanya, banyak orang secara tak sadar walaupun badan mereka mengeliat. Ini anehnya, rupanya semua kelas tiga maju dan bahkan sampai panggung tak sanggup menampung mereka.
Ya bagi mereka ini memang yg pertama dan terakhir perpisahan di SMA, walau kurang kelihatan meriah. Mereka ingin merasakan sulit untuk melepaskan setiap jenjang yg telah mereka dapatkan di sma, disitulah mereka memasuki masa peralihan dari anak ingusan menuju pribadi yg akan tahan sebelum menjadi dewasa. Terlihat mereka memang tak ingin pergi dari sma, mereka semua terlihat belum siap.
Tiba diakhir acara yg mengharuskan mereka berjabat tangan untuk yg terakhir kalinya dgn seluruh orang yg ada di sma. Ribuan suara dan macam bentuk tangisan terukir disini, saat terakhir disini dimana mereka merajut semua mimpi indah itu. Semua terlihat menangis, tak satu pun yg mampu lagi menahan air matanya. Selesailah rangkaian acara perpisahan itu dgn haru membiru, serasa menyesal untuk semua ini namun langkah tak harus tertahan dan wajib untuk dilanjutkan...
"Mau kemana padol... tarik-tarik mirip layangan dasar!"
"Ikut aja gak usah nolak, nah disini..." padol dibawa hotpin kedalam sebuah kelas yg acak sekali
"Tolong pegang kaca ini, nah pegang juga ni kertas diatas kepalamu..."
"Ini mau ngapain sih...? Hukuman mati...?"
Ternyata hotpin berusaha mengatur dirinya terlebih dahulu sebelum manggung memberikan beberapa kata sok sedih untuk melepaskan kakak kelas yg akan terbang kemana-mana. Pertama padol lihat hotpin mengunakan ekspresi yg cukup serius, namun lama-lama kaku membeku. Padol coba memberikan masukan cukup freak.
"Haduh hot, mukamu kaku mirip kambing mau disunat..."
"Jadi harus gimana...?"
"Pegang ni kaca..." sekali ini padol yg praktek
"Liat ni, jgn terpaku pada kaca... Tapi terpakulah pada dinding"
"Seriusan kampret -_-"
"Maksudnya, jgn terpaku pada dirimu hot... Tapi enjoy dgn suasana"
"Suasananya aja serius gitu gimana gak kaku"
"Bawa enjoy, dengarkan angin memanggilmu... dengarkan suara hanya suaramu, gitu kata ibu sri"
"Itu materi pidato macan panuan -_-"
"Tapi ya udah cobak dulu, sapa tahukan berhasil hot, latihan bagaimana caranya membuat melemaskan muka kita yg kaku, ni kita harus berubah sejelek mungkin terus ubah pula muka kita secepat mungkin dgn gaya keren..."
"Maksudnya gimana ini dol...?"
"Ikutin nah, oke!"
Padol bersegera membentuk muka idiotnya, dan itu hotpin akui sebagai muka yg paling idiot yg pernah tercipta. Dengan gaya membuka mulut menunggu lalat masuk dan mata dgn tatapan kosong seperti orang kurang tidur, lalu tiba-tiba padol menutup mukanya agak beberapa detik kemudian ia buka lalu mukanya berubah lagi menjadi sok cool dan itu geli menurut hotpin. Tapi dari tadi hotpin tak sadar tapi tetap ia coba untuk nikmati saja karnaval muka si padol ini.
Sementara giliran hotpin untuk maju tinggal beberapa jengkal menit lagi, padol tahu caranya. Ia telah mencoba menirukan muka orang idiot dan meminta hotpin untuk menirunya dan bodohnya mengapa hotpin mau menirunya...??? *walaupun hotpin kebanyakan ketawanya* Tapi giliran untuk penghakiman hotpin sudah sampai, ia harus bersegera berpidato dan apapun yg terjadi terjadilah.
Dipanggung hotpin sepertinya aman dan lancar seperti halnya hujan tanpa awan, ya begitulah sampai pada akhirnya ia pun turun. Ternyata ada kipas angin dibelakang dan dia mencoba mengikuti aliran angin tersebut menuruti saran padol, dan ternyata padol cukup bisa memotivasi orang. Selesailah acara untuk hotpin maka selesailah acara resmi dan mulailah bergiliran acara hiburan yg dinanti semua orang.
Dimulai dari NUSANTARA BERDENDANG yg mana seluruh lagu provinsi di Indonesia dinyanyikan oleh pengisi acara lengkap dgn baju daerahnya juga, semua orang terlelap dalam spekta acara pembukaan itu. Padol hanya mengerti lagu daerahnya Jambi, selebih dari itu semua daerah hanya dianggapnya provinsi dari planet lain yg ia tak ketahui.
Semua panitia yg telah tertunjuk ternyata yg mengisi acara awal ini, ada yg menyanyi dan ada yg menari latar. Padahal padol juga bisa menari tapi hanya satu style, gangnam style! dan itu pun harus 27kali latihan baru bisa meniru satu pergerakan. Acara lanjutan harus dipending dulu karena semua panitia agak terlihat kerepotan, maka dari itu acara yg telah siap harus dimajukan. Ternyata acara yg siap adalah beberapa guru menyumbangkan lagunya
"Acara selanjutnya semua kelas tiga kalau bisa maju kepanggung, ini acara kita buat acara ini semeriah mungkin kawan! Ya, acara selanjutnya kepada kepala sekolah kia untuk maju untuk menyedekahkan sekedarnya kicauan ya kalau bisa dangdut pak..." tak lamanya bapak telah naik diatas panggung
"Oke saya gak mau nyanyi kalo gak ada yg nemanin disini... Tolong, Bunga maju disini bantu pimpin jogetan masal ini..." sesaat bunga telah naik keatas panggung
"Semua kelas tiga maju dulu semua, kita tahan bapak mis sampai dangutan kita selesai..."
Adalah kepala sekolah yg terlebih dahulu menyiapkan suaranya, Pak Mis. Kemudian pak mis maju kepanggung dan ternyata ia mengingkan seorang yg cukup famiiar dalam menyanyi apalagi dangdut yaitu bunga. Setelah bunga naik kepanggung lagu pun digemakan dan responnya positif jutaan milliar rupanya, banyak orang secara tak sadar walaupun badan mereka mengeliat. Ini anehnya, rupanya semua kelas tiga maju dan bahkan sampai panggung tak sanggup menampung mereka.
Ya bagi mereka ini memang yg pertama dan terakhir perpisahan di SMA, walau kurang kelihatan meriah. Mereka ingin merasakan sulit untuk melepaskan setiap jenjang yg telah mereka dapatkan di sma, disitulah mereka memasuki masa peralihan dari anak ingusan menuju pribadi yg akan tahan sebelum menjadi dewasa. Terlihat mereka memang tak ingin pergi dari sma, mereka semua terlihat belum siap.
Tiba diakhir acara yg mengharuskan mereka berjabat tangan untuk yg terakhir kalinya dgn seluruh orang yg ada di sma. Ribuan suara dan macam bentuk tangisan terukir disini, saat terakhir disini dimana mereka merajut semua mimpi indah itu. Semua terlihat menangis, tak satu pun yg mampu lagi menahan air matanya. Selesailah rangkaian acara perpisahan itu dgn haru membiru, serasa menyesal untuk semua ini namun langkah tak harus tertahan dan wajib untuk dilanjutkan...
Langganan:
Postingan (Atom)