Pagi itu, sebuah perjalanan yang dengan tema yang baru harus ditulis ulang padol. Bagaimana pun ia akan merasakan sekolah tanpa curi-curi pandang lagi kearah karin, melihat sekitaran parkiran ataupun menanti karin melintas lagi kearah kantin. Seperti halnya adik kelas yang sudah sangat tergila-gila dengan kakak kelasnya, setiap apa yang kakak kelas idolanya lakukan mereka harus update dan jangan sampai terlewatkan tentang idola mereka itu. Sebenarnya pagi itu telah sangat terang, cuman hanya padol yang bermalas-malasan seperti kucing yang menanti majikannya.
Ia lirih curiga handphone diatas meja belajarnya, seperti biasa ia lihat jam terlebih dahulu. Sekitar pukul 06.14 WIB tertera jelas dilayar monitor mengkilap itu, walaupun ia sadar akan hal itu tapi sebenarnya tak ingin mendapatkan jam segitu. Itu sudah sangat larut, ia masih ingin memejamkan matanya. Sulit untuknya bangkit setelah acara yang ia dapatkan semalam, ia masih sangat ingin memimpikan perasaan anti-groginya semalam tadi. Cukup rasanya? Jelas belum untuk memenuhi standar cukup itu, tapi pagi ini semakin jauh meninggalkannya.
Raut muka iklas pucat ia pun menuju arah belakang, dan tak terlupa handuknya. Sepertinya ia akan mandi karena memang pagi sudah sangat terlalu pagi, jika ia terus berlambat-lambatan membiarkan waktu bergulir maka jelas ia akan terlambat pula masuk kelas. Sepertinya hari ini ada ulangan, tapi masih samar-samar dikhayalnya apakah iya ada ulangan hari ini? Terserahlah, yang penting ia harus mandi terlebih dahulu. Mandi dan mandi dan selesai juga, namun entah apa dalam pikirnya sedari tadi. Jam yang terlihat didinding sekarang menunjukkan pukul 06.56 WIB, dan jelas ini darurat.
Seketika padol bergegas kilat, ia kini mau tak mau harus bergerak cepat atau ia terlambat. Entah apa yang terjadi seakan-akan waktu yang terus habis membawa sebuah bom jika akhirnya akan habis, kini padol jelas harus mematikan bom waktu itu. Sudah seperti orang gila saja dia pagi itu, mulai salah memakai baju yang seharusnya baju osis namun yang ia kenakan baju muslim. Kaos yang hampir saja ketika dulu ia mos, sebelah kanan bukan saja beda ukuran tapi juga beda jenis. Kiri kaos putih, namun dikanan kaos untuk bermain sepakbola.
Setelah semua masalah serasa selesai terlaksana, ia pun memacu motornya dengan kecepatan cukup kencang untuk sampai dengan keadaan tak terlambat. Pengalamannya semalam menghisap sadar padol rupanya, ia bahkan tak sadar walaupun waktu pagi telah beranjak tinggi. Ia ingin larut untuk waktu yang lama dalam fantasi angkasa yang kini telah hinggap dalam dirinya, luar dari logikanya mengapa rasa ini sangat tak ingin ia hilangkan ataupun lepaskan.
Sesampai motor pacunya didepan pagar sekolah, memang pintu gerbang masih terbuka lebar. Namun masalah lain muncul, ternyata parkir hari itu penuh dan tak sanggup lagi menampung motor lain untuk dimuat. Memang itulah sistem sekolah padol saat itu, dikarenkan ada mobil-mobil truk yang harus masuk-keluar mengangkut pasir dan juga bata untuk menyelesaikan proyek sekolahnya.
Kini otak padol seresa harus berputar mencari tempat yang menerima lowongan parkir motor rongsokan ini, ya paling tidak bisa sekalian membantu menjualnya.
Setelah ia mencari-cari tempat lowong, ada sebuah tempat dimana karin sering dulu menaruh motornya. Juga dijadikan favorit bagi siswa-siwa yang lain, khusus sekali bagi siswa yang terlambat. Namun ada hal yang sangat padol kurang iklaskan jika parkir motor didaerah sekitaran sana, harus ada uang pungeluaran jika ingin bertengger motor disana. Walaupun harga rupiahnya hanya seribu, bagi padol itu lebih sulit dibandingkan harus membayar uang buku paketnya. Dilogikanya, seribu itu lebih susah dicari dibandingkan dengan uang berjuta milyar.
Tapi sekarang dibandingkan ia kehilangan sebuah tempat untuk motornya ini, ia mau tak mau harus merelakan seribu rupiahnya. Setelah perkara melepas seribu selesai, ia lantas bergegas menuju kekelasnya. Sangat pagi itu ia bertarung dengan waktu, mulai dari ia mandi berpacu dengan deras air dibak mandinya dan juga sekarang ia harus berpacu dengan waktu, ia baru terpikir bahwa hari itu ada pr yang seharusnya ia kerjakan dari rumah namun ia lupa akan pr itu. Mau bagaimana lagi, ia sekarang sudah ada disekolah dan harus mengerjakannya disekolah.
Betul adanya, sekelas sudah seperti kubangan pasar yang sangatlah berantakan. Semua anak kelas kocar-kacir menyalin jawaban dari teman yang sudah selesai, jika satu selesai dijamin kelas akan selesai pula semua. Padol sepertinya harus bergerak cepat atau ia akan semakin kehilangan waktunya, waktu yang tersisa sebenarnya tersedia sangatlah sedikit bahkan mencekik keadaannya. Bisa dikabarkan keadaan saat itu beda tipis dengan pasar ikan, hanya saja disini yang ditawarkan adalah contekan bukan ikan.
Pertama memang semua agaknya mudah, hanya menyalin kebuku tugas dan terus menyalin. Tapi tugas yang paling betul adalah menghapal dan memaparkan isi dari tugas itu nanti kedepan kelas, ini baru diketahui padol dari temannya yang baru ingat juga terhadap tugas itu. Terserah nantilah, yang penting pr harus disalin terlebih dahulu barulah urusan lainnya. Waktu semakin berangsur menuju untuk masuk dijam pertama, namun sepertinya guru yang akan masuk sedikit lambat atau memang sengaja melambat?
"Wooiii ibuk datang ibuk...!!!"
"Serius wooiii, paling juga main-main tuh"
"Ibu masih dikelas depan, cepetan buku aku mana cepet..."
Ternyata guru yang dimaksud memang macet dikelas depan, ia sepertinya memeriksa sesuatu dan itulah kesempatan terakhir untuk berjuang menyelesaikan tugasnya pagi itu. Seketika ibu guru yang dimaksud datang dan seketika itu pula murid-murid kelas berhamburan kembali kebangku mereka masing-masing, bahkan ini terlihat lebih seperti sebuah pemanasan sebelum perang besar yang akan mereka hadapi.
Tugas yang mereka kerjakan sedari tadi itu adalah pidato, dan maksud dari dihapal dan dijabarkan kedepan kelas jelaslah membaca pidato. Tapi tunggu dulu, bukankah semua orang sedari tadi hanya mencontek satu sumber? Hah? Apa yang sebenarnya orang salin dari tadi? Memang jam pertama adalah bahasa indonesia dan mengapa orang mencontek pidato dalam satu sumber? Coba ia ingat-ingat, ia tanyakan keteman sampingnya....
"Boy, tadi nyontek pidato punya siapa...???"
"Gak dol, tadi tuh cuman liat kerangkanya aja gimana. Sudah ngerti baru buat pidato sendiri, gimana ceritanya kita nyalin pidato orang lain... Ntar kan mau maju bacanya, gak mungkinlah..."
Seketika itu padol merasa bodoh sebenar-benar bodoh manusia, lalu percuma sajalah semua yang dari ia salin berdesak penuh peluh sedari tadi. Ini tak berguna lagi sekarang, ia harus memikirkan bagaimana caranya untuk menyelesaikan tugas pidatonya ini sebelum ia dipanggil maju kedepan kelas...
Entri Populer
Rabu, 29 Januari 2014
PeDeKaTe tapi LDR #part11
Tak terkira pukul jam telah menandakan setidaknya hampir sepuluh malam, berdua dari mereka terlihat tak menyadari waktu segitu malamnya. Sudah sangat jelas bahwa mereka sudah jauh mendalami malam itu, benar-benar mendalami sehingga waktu bukan sebuah hal yang menganggu lagi. Perbincangan mereka sangatlah mampu membuat mereka seakan lupa dimana dunia, anggan mereka begitu jauh melayang meninggalkan problema nervous padol yang malam itu seakan punah entah kemana.
Inilah yang ternyata namanya perasaan yang saling membalas dan terbalaskan, dimana ada suatu umpan yang dilemparkan oleh pemancing dan dilahap oleh target yang diharapkan dan harusnya target itu adalah ikan. Namun lain halnya dengan apa yang sedang terjadi ini, disini bedanya padol sebagai pemberi umpan dengan beberapa rayuan dan usaha yang dikenal pedekate dan karin sebagai target mampu membalas dan menjaga agar usaha padol ini berhasil.
Padol juga terlihat mampu mengendalikan penyakit groginya yang terbilang mulai bisa ditemukan obatnya, bukan sejenis generik atau tradisional tapi seorang tabib sakti yang sangat teramat ampuh mengobati perkara ini. Hanya dengan sedikit sentuhan dan nasihat-nasihat padol sudah mampu berangsur-angsur kembali normal dari groginya, Mungkinkah juga karin mampu mengobati hal lainnya? Mungkin dan bisa jadi iya tapi lihatlah nanti, sekarang padol tersadar sekarang jam hampir pukul sepuluh lebih.
Tak mungkin baginya untuk berlama-lama lagi disana karena cowok akan diperhatikan juga waktu malamnya, semakin malam cowok itu diluar patut diperhatikan apa maksud cowok itu diluar. Apakah sicowok memang kerjaannya yang menuntut untuk pulang malam atau hanya dia membuang-buang waktu untuk menghabiskan malam. Jika opsi kedua dipilih cowok maka tak bisa dikatakan cowok ini akan baik bagi kalangan cewek, cowok jenis ini akan membuat hidup para cewek ada diantara garis kemiskinan kesejahteraan ya mungkin digaris netral standar.
"Karin, ini udah malem banget... Permisi yah"
"Iya, tapi permisi juga sama ibuk dulu"
"Hah? Ini nantangin yang betulan kali rin"
"Emang gitu harusnya padol"
"Harus gitu gimana...???"
"Ya harus pamitan sama ibu, ayah juga harus tapi sekarang ayah lagi diluar"
"Alhamdulillah, cuman ibu inikan"
"Iya cepetan gih"
Serentak seluruh saraf dan jantung padol ingin berhenti bekerja setelah mendengar lisan karin tadi, bagaimana mungkin ia harus berpamitan dan bersalaman lagi dengan ibu karin. Sedangkan hal seperti pertemuan tak direncanakan saja ia hampir melepas sadarnya mungkin bisa juga nyawanya. Ini sekali pun terencana apakah padol bisa selamat sentosa mempertahankan dirinya untuk mengendalikan groginya? Ataukah sebatas ini kemampuannya untuk menahan grogi?
Ia harus menghadapinya untuk belajar lebih lagi dalam hal menghadapi masalah yang harus berulang-ulang ini, dengan apapun caranya dia harusnya mampu dan tak boleh lari perkara ini. Mungkin inilah yang diibaratkan tekad sudah bulat, apapun rintangannya pasti akan terpatahkan dengan sebuah dua buah solusi yaitu yakin dan hadapi. Maka masalah sebesar apapun bentuknya, akan terlewati dan akan berhasil diselesaikan.
"Ini memang harus salaman rin...???"
"Iya harus! Kalo gak kamu jangan harap kesini lagi!"
"Ihh... Kejam abis, janganlah malam ini aja"
"Gak mau kerumah lagi...???"
"Huft..."
"Ayok cepetan..."
"Iya! Harus berani, ginian aja takut! Gimana mau salaman pas lamaran besok!"
Dengan langkah gagah tegap serempak bersamaan dengan nafas yang tak pernah berhenti berhembus sedari datang, padol berusaha berjalan kearah ibu karin untuk menunaikan kewajiban untuk menambah kesempatannya langgeng dengan karin.
"Ibu, emmm... saya pamit dulu udah malam juga ini buk"
"Ehh, iya nak... Hati-hati dijalan nak, karin anterlah dia ni sampe pagar"
Seketika karin pun mengerakkan langkahnya menuju arah keluar rumahnya, mengiringi kepulangan padol dari rumahnya. Mungkin bisa jadi tak merelakan malam itu atau mungkin mengharapkan cepat malam itu berlalu? Mungkin hanya tau tentang rasanya malam itu...
"Padol..."
"Kenapa karin...???"
"Enggak, hati-hati ntar dijalannya"
"Iya pasti"
Iniah akhir dari pertemuan malam itu, padol berhasil menyelesaikan seluruh permintaan dan misi dari karin. Bukan main-main, banyak sekali yang harus ia tanggung dan tahan. Mulai dari grogi dan nervous yang berhasil ia kendalikan malam itu, juga ia mampu untuk menahan derasnya keringat dingin dan getaran yang tercipta bergantian malam itu. Memang agak sulit melepas hal yang tercipta malam itu bagi padol, seakan-akan ia ingin selalu memiliki karin disetiap waktu yang ia dapat. Juga bagaimana pun, karin bukanlah miliknya seutuh-utuh kepemilikan. Ia hanyalah pemilik rasa rindu dan puja kepada karin, dan rasa itu mungkin akan tercipta akan semakin tercipta makin dan makin besar ketika nanti jarak akan mencoba merusak hubungan mereka ini.
Mereka adalah satuan yang bersatu dalam satuan yang dinamakan kejauhan, namun sangat mudah dikalahkan dengan sebuah divisi yang mengontrol pergerakan kemenangan dalam penantian. Semua orang mengenal divisi itu dengan sebutan kepercayaan, tanpa mereka harus takut senjata kejauhan yang dikenal sangat mematikan yaitu rindu. Mereka divisi kepercayaan sangat sulit dikalahkan apabila kumpulan mereka dipelihara dan dirawat, karena hanya divisi merekalah tameng dari semua senjata rindu ketika menyerang.
Apakah nanti padol sanggup merawat divisi itu, hanya waktu yang terus berputar yang mampu menjawab pertanyaan dungu ini. Sekarang waktu untuknya pulang setelah pamitan tadi, dan sebuah kemenangan sebuah misi yang sangat berat. Senyum padol tak berhenti dari pagar keluar rumah karin sampai kerumahnya, bahkan sulit dibedakan mana padol yang normal dan mana padol yang keracunan senyum terus menerus. Bahkan diperjalanan ia membayangkan racun tersebut, yang sudah masuk merasuk kedalam jaringan inti sarafnya.
Inilah yang ternyata namanya perasaan yang saling membalas dan terbalaskan, dimana ada suatu umpan yang dilemparkan oleh pemancing dan dilahap oleh target yang diharapkan dan harusnya target itu adalah ikan. Namun lain halnya dengan apa yang sedang terjadi ini, disini bedanya padol sebagai pemberi umpan dengan beberapa rayuan dan usaha yang dikenal pedekate dan karin sebagai target mampu membalas dan menjaga agar usaha padol ini berhasil.
Padol juga terlihat mampu mengendalikan penyakit groginya yang terbilang mulai bisa ditemukan obatnya, bukan sejenis generik atau tradisional tapi seorang tabib sakti yang sangat teramat ampuh mengobati perkara ini. Hanya dengan sedikit sentuhan dan nasihat-nasihat padol sudah mampu berangsur-angsur kembali normal dari groginya, Mungkinkah juga karin mampu mengobati hal lainnya? Mungkin dan bisa jadi iya tapi lihatlah nanti, sekarang padol tersadar sekarang jam hampir pukul sepuluh lebih.
Tak mungkin baginya untuk berlama-lama lagi disana karena cowok akan diperhatikan juga waktu malamnya, semakin malam cowok itu diluar patut diperhatikan apa maksud cowok itu diluar. Apakah sicowok memang kerjaannya yang menuntut untuk pulang malam atau hanya dia membuang-buang waktu untuk menghabiskan malam. Jika opsi kedua dipilih cowok maka tak bisa dikatakan cowok ini akan baik bagi kalangan cewek, cowok jenis ini akan membuat hidup para cewek ada diantara garis kemiskinan kesejahteraan ya mungkin digaris netral standar.
"Karin, ini udah malem banget... Permisi yah"
"Iya, tapi permisi juga sama ibuk dulu"
"Hah? Ini nantangin yang betulan kali rin"
"Emang gitu harusnya padol"
"Harus gitu gimana...???"
"Ya harus pamitan sama ibu, ayah juga harus tapi sekarang ayah lagi diluar"
"Alhamdulillah, cuman ibu inikan"
"Iya cepetan gih"
Serentak seluruh saraf dan jantung padol ingin berhenti bekerja setelah mendengar lisan karin tadi, bagaimana mungkin ia harus berpamitan dan bersalaman lagi dengan ibu karin. Sedangkan hal seperti pertemuan tak direncanakan saja ia hampir melepas sadarnya mungkin bisa juga nyawanya. Ini sekali pun terencana apakah padol bisa selamat sentosa mempertahankan dirinya untuk mengendalikan groginya? Ataukah sebatas ini kemampuannya untuk menahan grogi?
Ia harus menghadapinya untuk belajar lebih lagi dalam hal menghadapi masalah yang harus berulang-ulang ini, dengan apapun caranya dia harusnya mampu dan tak boleh lari perkara ini. Mungkin inilah yang diibaratkan tekad sudah bulat, apapun rintangannya pasti akan terpatahkan dengan sebuah dua buah solusi yaitu yakin dan hadapi. Maka masalah sebesar apapun bentuknya, akan terlewati dan akan berhasil diselesaikan.
"Ini memang harus salaman rin...???"
"Iya harus! Kalo gak kamu jangan harap kesini lagi!"
"Ihh... Kejam abis, janganlah malam ini aja"
"Gak mau kerumah lagi...???"
"Huft..."
"Ayok cepetan..."
"Iya! Harus berani, ginian aja takut! Gimana mau salaman pas lamaran besok!"
Dengan langkah gagah tegap serempak bersamaan dengan nafas yang tak pernah berhenti berhembus sedari datang, padol berusaha berjalan kearah ibu karin untuk menunaikan kewajiban untuk menambah kesempatannya langgeng dengan karin.
"Ibu, emmm... saya pamit dulu udah malam juga ini buk"
"Ehh, iya nak... Hati-hati dijalan nak, karin anterlah dia ni sampe pagar"
Seketika karin pun mengerakkan langkahnya menuju arah keluar rumahnya, mengiringi kepulangan padol dari rumahnya. Mungkin bisa jadi tak merelakan malam itu atau mungkin mengharapkan cepat malam itu berlalu? Mungkin hanya tau tentang rasanya malam itu...
"Padol..."
"Kenapa karin...???"
"Enggak, hati-hati ntar dijalannya"
"Iya pasti"
Iniah akhir dari pertemuan malam itu, padol berhasil menyelesaikan seluruh permintaan dan misi dari karin. Bukan main-main, banyak sekali yang harus ia tanggung dan tahan. Mulai dari grogi dan nervous yang berhasil ia kendalikan malam itu, juga ia mampu untuk menahan derasnya keringat dingin dan getaran yang tercipta bergantian malam itu. Memang agak sulit melepas hal yang tercipta malam itu bagi padol, seakan-akan ia ingin selalu memiliki karin disetiap waktu yang ia dapat. Juga bagaimana pun, karin bukanlah miliknya seutuh-utuh kepemilikan. Ia hanyalah pemilik rasa rindu dan puja kepada karin, dan rasa itu mungkin akan tercipta akan semakin tercipta makin dan makin besar ketika nanti jarak akan mencoba merusak hubungan mereka ini.
Mereka adalah satuan yang bersatu dalam satuan yang dinamakan kejauhan, namun sangat mudah dikalahkan dengan sebuah divisi yang mengontrol pergerakan kemenangan dalam penantian. Semua orang mengenal divisi itu dengan sebutan kepercayaan, tanpa mereka harus takut senjata kejauhan yang dikenal sangat mematikan yaitu rindu. Mereka divisi kepercayaan sangat sulit dikalahkan apabila kumpulan mereka dipelihara dan dirawat, karena hanya divisi merekalah tameng dari semua senjata rindu ketika menyerang.
Apakah nanti padol sanggup merawat divisi itu, hanya waktu yang terus berputar yang mampu menjawab pertanyaan dungu ini. Sekarang waktu untuknya pulang setelah pamitan tadi, dan sebuah kemenangan sebuah misi yang sangat berat. Senyum padol tak berhenti dari pagar keluar rumah karin sampai kerumahnya, bahkan sulit dibedakan mana padol yang normal dan mana padol yang keracunan senyum terus menerus. Bahkan diperjalanan ia membayangkan racun tersebut, yang sudah masuk merasuk kedalam jaringan inti sarafnya.
Sabtu, 11 Januari 2014
PeDeKaTe tapi LDR #part9
Dengan keadaan letih berbaur seiringan dengan penat padol pun pulang kearah rumahnya, diperjalanan jalan yang dia lalui memang kearah rumahnya. Namun, dipikirannya sedari awal ia memikirkan bagaimana nanti ia akan berjalan kerumah karin. Istilahnya bukan berjalan atau pun namu, tapi ngepel ehh ngapel sadar padol. Ini seakan menjadi perjuangan yang lebih meningkat lagi level kesusahannya, mungkin tingkat sulit tersulit akan segera ia hadapi. Bukan untuk ditakuti ataupun dihindari, tapi inilah jalan untuk padol menguji seberapa besar nyawanya untuk menghadapi masalah sebesar ini.
Tapi sebesar apapun nyawa yang ia miliki ia tak mampu untuk mengukur seberapa besar grogi yang akan terbentuk nantinya, selama ini saja hanya untuk menatap mata karin ia harus berulang kaki menahan getar tangannya. Apalagi kerumahnya, berbicara dengan jarak dekat dan bahkan bisa dikatakan tak berjarak. Apakah ia sanggup menahan getar kakinya nanti? Ataupun apakah ada waktu untuknya mengeringkan keringat dingin yang ia ramalkan bisa membanjiri seisi rumah karin?
Dia tak akan pernah mengetahui seberapa banyak liter keringat yang akan ia produksi jika ia hanya berpikir-pikir seperti ini, tak ada jalan lain selain datang kerumah karin dan lihat apa reaksi yang akan tercerna. Hanya saja masih banyak yang harus ia pikirkan dibandingkan keringat ataupun getaran yang akan ia dapat, apa yang harus ia pakai saat kerumah karin? Pakaian bagaimana? Apakah harus ia menyewa jas atau hanya pakai sarung kerumah karin? Ini agak sulit untuknya...
Penyebabnya ini adalah pertama kali dan jangan sampai untuk terkahir kalinya ia akan berkunjung kerumah perempuan, ia seakan-akan belum sanggup untuk datang. Dalam khayalnya laki-laki yang datang kerumah perempuan itu hanya ada dalam acara lamaran atau tunangan, namun lain halnya dengan yang ia hadapi. Ia harus sendirian menghadapi wanita yang sanggup membuatnya tidak tidur semalaman suntuk saat ia menunggu balasan sms karin.
Ia ingin kedatangannya ini harus sempurna tanpa celah, maksudnya jangan sampai ada celah untuk tampil rusak. Lalu bagaimana caranya untuk menjadi seperti ini? Ia tiba-tiba ingat sambutan pak mis tadi yang mengatakan belajarlah dari pengalaman, nah itu dia! Padol harus mencari orang yang sudah berpengalaman dalam hal ngapel kerumah cewek, kalau bisa sudah berpengalaman kerumah cewek dalam lamaran :D
Sepintas ia tak bisa memikirkan siapa yang telah terbiasa seperti ini, maklumlah anak sma semuanya labil dan masih terjangkit ALAY.
Sebentar, ia tahu siapa yang harus mintai keterangan lebih lanjut. Maka dengan reflek cukup cekatan ia putar arah motornya menuju rumah orang yang ia pikirkan ini, jaraknya masih dekat namun cukup menghabiskan bensin motornya. Setelah berjalan lebih kurang dua setengah kilometer ia sampai ditempat orang tertera. Yap, sedari tadi ia pikirkan JAYA-lah orang yang telah berpengalaman dalam hal apel-mengapel ini!
"JAYA...!!!"
"Nah, panitia galau datang! Kenapa ni dol, tumben-tumbenan datang kerumah biasanya kalo kerumah orang kalo ada acara ulang tahun aja kan?"
"Hari ni ada yang lebih dari ulang tahun jay, masalah hidup-pingsan jay"
"Emang kenapa pula pingsan? Imunisasi dol?"
"Bukan, udah sebesar ini masih imunisasi -_-"
"Nah terus apaan?"
"Gini, ntar malem aku diajak karin main kerumahnya. Nah aku gak tau harus ngapain"
"Kok gak tau? Ya kamu datanglah kerumahnya"
"Maksudnya bukan itu tapi baju apa yang harus dipakek? Parfum apa'an?"
"Ini mau kerumah cewek apa ke undangan orang nikah?"
"Nah kenapa pula gitu?"
"Gak usah nipu cewek dengan baju mahal ato pun parfum mahal dol, ntar baumu juga kesebar sendiri... Cewek tu suka'an cowok yang jadi dirinya sendiri, jadi gak usah pusing-pusing dol! Simple aja pakek jeans, trus tambah kaos oblong gitu"
Sehentak pikir padol berputar, ternyata benar saja apa kata jaya. Mengapa dia harus berpura-pura untuk semua ini, toh nantinya karin juga tau dia gimana-mana. Tadi diacara dia udah tau kalaupun padol terlalu maksa dia untuk ngerayu, tapi sebenarnya juga kita harus menipu untuk menang walaupun sulit untuk berbuat seperti itu bagi padol.
"WOI...!!! Bangun-bangun coy, melamun apa'an lagi dol?"
"Hah, ohh iya! Makasih jay sarannya! Aku pulang dulu jay, udah sore nah"
"Hati-hati dijalan dol, ntar nabrak gerobak bakso lagi"
Seketika itu juga padol pun memacu motornya kembali kerumah, dia tersadar akan suatu hal. Bahwa kita tak perlu menjadi orang lain hanya untuk mendapat orang lain, jadilah diri sendiri agar nanti orang lain itu mampu kita miliki. Setelah sesampai dirumah, ia seketika tergeletak dikasur empuknya. Sampai-sampai ia tertidur dengan mengimpikan seperti apa dia nantinya dirumah karin, namun kelihatannya ia bukan memimpikan hal itu.
Ia termimpikan hal sebrang, bagaimana jika ia setengah hidupnya gugup nanti malam. Terlihat raut alisnya mulai kembang-mengempis dibawah alam sadarnya, dimimpi ia kelihatan begitu bergetar hanya didepan pintunya. Bergerak pun ia tak sanggup apalagi menahan getaran yg terjadi, sebenarnya juga bukan badan ataupun tangannya melainkan juga hatinya juga bergetar bahkan jantungnya seperti berpacu dengan bom waktu. Serasa ia sedang menghadapi sebuah ujian yang sangat berat dan mungkin sulit untuk ia lalui, dan tiba-tiba "PRANK...!!!" pintu yang sedari tadi terbuka tertutup begitu saja.
Dan itu hanya mimpi, ternyata jendela padol terhempas menutup oleh adiknya. Tanpa sengaja karena ia sedang mencoba menjangkau sesuatu, padol agak sedikit kaget juga. Bagaimana kalau mimpi yang ia alami tadi benar akan terjadi, apa yang akan bisa ia lakukan untuk mengatasi hal ini. Dalam keadaan masih terbaring terlentang, ia masih sempat juga memikirkan hal sepele ini. Memang sebenarnya juga ini pertama kalinya ia harus mencoba kuat tegangan jantungnya untuk malam nanti, ya setidaknya jangan sampai pingsan disana.
Terlihat hari sudah mulai beranjak agak jauh dari terang, semua mulai mengelap setelah tiadanya matahari diatas lukis langit. Padol mencoba untuk sadar bahwa ia harus cepat-cepat mandi atau hari semakin larut. Berjalan luntai-luntai ia pun mencoba mengapai kamar mandi, maklum sulit baginya untuk berjalan normal setelah staminanya cukup terkuras seperti tadi. Setelah cukup terasa segar bagi padol, ia selesaikan mandinya.
Tanpa berpikir lama, ia reflek untuk mencari baju apa yang akan ia kenakan menuju acara malamnya ini. Semua bajunya ia ragu untuk ia kenakan, sangat-sangat meragukan dirinya. Ini memutar nalarnya, apa yang harus ia pilih? Merah tanpa lengan atau biru lengan dan kerah? Seakan-akan ini mulai mencakar tubuhnya satu-persatu, namun apakah baju sederhana terlalu sederhana pula untuk orang yang sangat "dimewahkan" oleh padol...???
Tapi sebesar apapun nyawa yang ia miliki ia tak mampu untuk mengukur seberapa besar grogi yang akan terbentuk nantinya, selama ini saja hanya untuk menatap mata karin ia harus berulang kaki menahan getar tangannya. Apalagi kerumahnya, berbicara dengan jarak dekat dan bahkan bisa dikatakan tak berjarak. Apakah ia sanggup menahan getar kakinya nanti? Ataupun apakah ada waktu untuknya mengeringkan keringat dingin yang ia ramalkan bisa membanjiri seisi rumah karin?
Dia tak akan pernah mengetahui seberapa banyak liter keringat yang akan ia produksi jika ia hanya berpikir-pikir seperti ini, tak ada jalan lain selain datang kerumah karin dan lihat apa reaksi yang akan tercerna. Hanya saja masih banyak yang harus ia pikirkan dibandingkan keringat ataupun getaran yang akan ia dapat, apa yang harus ia pakai saat kerumah karin? Pakaian bagaimana? Apakah harus ia menyewa jas atau hanya pakai sarung kerumah karin? Ini agak sulit untuknya...
Penyebabnya ini adalah pertama kali dan jangan sampai untuk terkahir kalinya ia akan berkunjung kerumah perempuan, ia seakan-akan belum sanggup untuk datang. Dalam khayalnya laki-laki yang datang kerumah perempuan itu hanya ada dalam acara lamaran atau tunangan, namun lain halnya dengan yang ia hadapi. Ia harus sendirian menghadapi wanita yang sanggup membuatnya tidak tidur semalaman suntuk saat ia menunggu balasan sms karin.
Ia ingin kedatangannya ini harus sempurna tanpa celah, maksudnya jangan sampai ada celah untuk tampil rusak. Lalu bagaimana caranya untuk menjadi seperti ini? Ia tiba-tiba ingat sambutan pak mis tadi yang mengatakan belajarlah dari pengalaman, nah itu dia! Padol harus mencari orang yang sudah berpengalaman dalam hal ngapel kerumah cewek, kalau bisa sudah berpengalaman kerumah cewek dalam lamaran :D
Sepintas ia tak bisa memikirkan siapa yang telah terbiasa seperti ini, maklumlah anak sma semuanya labil dan masih terjangkit ALAY.
Sebentar, ia tahu siapa yang harus mintai keterangan lebih lanjut. Maka dengan reflek cukup cekatan ia putar arah motornya menuju rumah orang yang ia pikirkan ini, jaraknya masih dekat namun cukup menghabiskan bensin motornya. Setelah berjalan lebih kurang dua setengah kilometer ia sampai ditempat orang tertera. Yap, sedari tadi ia pikirkan JAYA-lah orang yang telah berpengalaman dalam hal apel-mengapel ini!
"JAYA...!!!"
"Nah, panitia galau datang! Kenapa ni dol, tumben-tumbenan datang kerumah biasanya kalo kerumah orang kalo ada acara ulang tahun aja kan?"
"Hari ni ada yang lebih dari ulang tahun jay, masalah hidup-pingsan jay"
"Emang kenapa pula pingsan? Imunisasi dol?"
"Bukan, udah sebesar ini masih imunisasi -_-"
"Nah terus apaan?"
"Gini, ntar malem aku diajak karin main kerumahnya. Nah aku gak tau harus ngapain"
"Kok gak tau? Ya kamu datanglah kerumahnya"
"Maksudnya bukan itu tapi baju apa yang harus dipakek? Parfum apa'an?"
"Ini mau kerumah cewek apa ke undangan orang nikah?"
"Nah kenapa pula gitu?"
"Gak usah nipu cewek dengan baju mahal ato pun parfum mahal dol, ntar baumu juga kesebar sendiri... Cewek tu suka'an cowok yang jadi dirinya sendiri, jadi gak usah pusing-pusing dol! Simple aja pakek jeans, trus tambah kaos oblong gitu"
Sehentak pikir padol berputar, ternyata benar saja apa kata jaya. Mengapa dia harus berpura-pura untuk semua ini, toh nantinya karin juga tau dia gimana-mana. Tadi diacara dia udah tau kalaupun padol terlalu maksa dia untuk ngerayu, tapi sebenarnya juga kita harus menipu untuk menang walaupun sulit untuk berbuat seperti itu bagi padol.
"WOI...!!! Bangun-bangun coy, melamun apa'an lagi dol?"
"Hah, ohh iya! Makasih jay sarannya! Aku pulang dulu jay, udah sore nah"
"Hati-hati dijalan dol, ntar nabrak gerobak bakso lagi"
Seketika itu juga padol pun memacu motornya kembali kerumah, dia tersadar akan suatu hal. Bahwa kita tak perlu menjadi orang lain hanya untuk mendapat orang lain, jadilah diri sendiri agar nanti orang lain itu mampu kita miliki. Setelah sesampai dirumah, ia seketika tergeletak dikasur empuknya. Sampai-sampai ia tertidur dengan mengimpikan seperti apa dia nantinya dirumah karin, namun kelihatannya ia bukan memimpikan hal itu.
Ia termimpikan hal sebrang, bagaimana jika ia setengah hidupnya gugup nanti malam. Terlihat raut alisnya mulai kembang-mengempis dibawah alam sadarnya, dimimpi ia kelihatan begitu bergetar hanya didepan pintunya. Bergerak pun ia tak sanggup apalagi menahan getaran yg terjadi, sebenarnya juga bukan badan ataupun tangannya melainkan juga hatinya juga bergetar bahkan jantungnya seperti berpacu dengan bom waktu. Serasa ia sedang menghadapi sebuah ujian yang sangat berat dan mungkin sulit untuk ia lalui, dan tiba-tiba "PRANK...!!!" pintu yang sedari tadi terbuka tertutup begitu saja.
Dan itu hanya mimpi, ternyata jendela padol terhempas menutup oleh adiknya. Tanpa sengaja karena ia sedang mencoba menjangkau sesuatu, padol agak sedikit kaget juga. Bagaimana kalau mimpi yang ia alami tadi benar akan terjadi, apa yang akan bisa ia lakukan untuk mengatasi hal ini. Dalam keadaan masih terbaring terlentang, ia masih sempat juga memikirkan hal sepele ini. Memang sebenarnya juga ini pertama kalinya ia harus mencoba kuat tegangan jantungnya untuk malam nanti, ya setidaknya jangan sampai pingsan disana.
Terlihat hari sudah mulai beranjak agak jauh dari terang, semua mulai mengelap setelah tiadanya matahari diatas lukis langit. Padol mencoba untuk sadar bahwa ia harus cepat-cepat mandi atau hari semakin larut. Berjalan luntai-luntai ia pun mencoba mengapai kamar mandi, maklum sulit baginya untuk berjalan normal setelah staminanya cukup terkuras seperti tadi. Setelah cukup terasa segar bagi padol, ia selesaikan mandinya.
Tanpa berpikir lama, ia reflek untuk mencari baju apa yang akan ia kenakan menuju acara malamnya ini. Semua bajunya ia ragu untuk ia kenakan, sangat-sangat meragukan dirinya. Ini memutar nalarnya, apa yang harus ia pilih? Merah tanpa lengan atau biru lengan dan kerah? Seakan-akan ini mulai mencakar tubuhnya satu-persatu, namun apakah baju sederhana terlalu sederhana pula untuk orang yang sangat "dimewahkan" oleh padol...???
Langganan:
Postingan (Atom)