Pagi itu, sebuah perjalanan yang dengan tema yang baru harus ditulis ulang padol. Bagaimana pun ia akan merasakan sekolah tanpa curi-curi pandang lagi kearah karin, melihat sekitaran parkiran ataupun menanti karin melintas lagi kearah kantin. Seperti halnya adik kelas yang sudah sangat tergila-gila dengan kakak kelasnya, setiap apa yang kakak kelas idolanya lakukan mereka harus update dan jangan sampai terlewatkan tentang idola mereka itu. Sebenarnya pagi itu telah sangat terang, cuman hanya padol yang bermalas-malasan seperti kucing yang menanti majikannya.
Ia lirih curiga handphone diatas meja belajarnya, seperti biasa ia lihat jam terlebih dahulu. Sekitar pukul 06.14 WIB tertera jelas dilayar monitor mengkilap itu, walaupun ia sadar akan hal itu tapi sebenarnya tak ingin mendapatkan jam segitu. Itu sudah sangat larut, ia masih ingin memejamkan matanya. Sulit untuknya bangkit setelah acara yang ia dapatkan semalam, ia masih sangat ingin memimpikan perasaan anti-groginya semalam tadi. Cukup rasanya? Jelas belum untuk memenuhi standar cukup itu, tapi pagi ini semakin jauh meninggalkannya.
Raut muka iklas pucat ia pun menuju arah belakang, dan tak terlupa handuknya. Sepertinya ia akan mandi karena memang pagi sudah sangat terlalu pagi, jika ia terus berlambat-lambatan membiarkan waktu bergulir maka jelas ia akan terlambat pula masuk kelas. Sepertinya hari ini ada ulangan, tapi masih samar-samar dikhayalnya apakah iya ada ulangan hari ini? Terserahlah, yang penting ia harus mandi terlebih dahulu. Mandi dan mandi dan selesai juga, namun entah apa dalam pikirnya sedari tadi. Jam yang terlihat didinding sekarang menunjukkan pukul 06.56 WIB, dan jelas ini darurat.
Seketika padol bergegas kilat, ia kini mau tak mau harus bergerak cepat atau ia terlambat. Entah apa yang terjadi seakan-akan waktu yang terus habis membawa sebuah bom jika akhirnya akan habis, kini padol jelas harus mematikan bom waktu itu. Sudah seperti orang gila saja dia pagi itu, mulai salah memakai baju yang seharusnya baju osis namun yang ia kenakan baju muslim. Kaos yang hampir saja ketika dulu ia mos, sebelah kanan bukan saja beda ukuran tapi juga beda jenis. Kiri kaos putih, namun dikanan kaos untuk bermain sepakbola.
Setelah semua masalah serasa selesai terlaksana, ia pun memacu motornya dengan kecepatan cukup kencang untuk sampai dengan keadaan tak terlambat. Pengalamannya semalam menghisap sadar padol rupanya, ia bahkan tak sadar walaupun waktu pagi telah beranjak tinggi. Ia ingin larut untuk waktu yang lama dalam fantasi angkasa yang kini telah hinggap dalam dirinya, luar dari logikanya mengapa rasa ini sangat tak ingin ia hilangkan ataupun lepaskan.
Sesampai motor pacunya didepan pagar sekolah, memang pintu gerbang masih terbuka lebar. Namun masalah lain muncul, ternyata parkir hari itu penuh dan tak sanggup lagi menampung motor lain untuk dimuat. Memang itulah sistem sekolah padol saat itu, dikarenkan ada mobil-mobil truk yang harus masuk-keluar mengangkut pasir dan juga bata untuk menyelesaikan proyek sekolahnya.
Kini otak padol seresa harus berputar mencari tempat yang menerima lowongan parkir motor rongsokan ini, ya paling tidak bisa sekalian membantu menjualnya.
Setelah ia mencari-cari tempat lowong, ada sebuah tempat dimana karin sering dulu menaruh motornya. Juga dijadikan favorit bagi siswa-siwa yang lain, khusus sekali bagi siswa yang terlambat. Namun ada hal yang sangat padol kurang iklaskan jika parkir motor didaerah sekitaran sana, harus ada uang pungeluaran jika ingin bertengger motor disana. Walaupun harga rupiahnya hanya seribu, bagi padol itu lebih sulit dibandingkan harus membayar uang buku paketnya. Dilogikanya, seribu itu lebih susah dicari dibandingkan dengan uang berjuta milyar.
Tapi sekarang dibandingkan ia kehilangan sebuah tempat untuk motornya ini, ia mau tak mau harus merelakan seribu rupiahnya. Setelah perkara melepas seribu selesai, ia lantas bergegas menuju kekelasnya. Sangat pagi itu ia bertarung dengan waktu, mulai dari ia mandi berpacu dengan deras air dibak mandinya dan juga sekarang ia harus berpacu dengan waktu, ia baru terpikir bahwa hari itu ada pr yang seharusnya ia kerjakan dari rumah namun ia lupa akan pr itu. Mau bagaimana lagi, ia sekarang sudah ada disekolah dan harus mengerjakannya disekolah.
Betul adanya, sekelas sudah seperti kubangan pasar yang sangatlah berantakan. Semua anak kelas kocar-kacir menyalin jawaban dari teman yang sudah selesai, jika satu selesai dijamin kelas akan selesai pula semua. Padol sepertinya harus bergerak cepat atau ia akan semakin kehilangan waktunya, waktu yang tersisa sebenarnya tersedia sangatlah sedikit bahkan mencekik keadaannya. Bisa dikabarkan keadaan saat itu beda tipis dengan pasar ikan, hanya saja disini yang ditawarkan adalah contekan bukan ikan.
Pertama memang semua agaknya mudah, hanya menyalin kebuku tugas dan terus menyalin. Tapi tugas yang paling betul adalah menghapal dan memaparkan isi dari tugas itu nanti kedepan kelas, ini baru diketahui padol dari temannya yang baru ingat juga terhadap tugas itu. Terserah nantilah, yang penting pr harus disalin terlebih dahulu barulah urusan lainnya. Waktu semakin berangsur menuju untuk masuk dijam pertama, namun sepertinya guru yang akan masuk sedikit lambat atau memang sengaja melambat?
"Wooiii ibuk datang ibuk...!!!"
"Serius wooiii, paling juga main-main tuh"
"Ibu masih dikelas depan, cepetan buku aku mana cepet..."
Ternyata guru yang dimaksud memang macet dikelas depan, ia sepertinya memeriksa sesuatu dan itulah kesempatan terakhir untuk berjuang menyelesaikan tugasnya pagi itu. Seketika ibu guru yang dimaksud datang dan seketika itu pula murid-murid kelas berhamburan kembali kebangku mereka masing-masing, bahkan ini terlihat lebih seperti sebuah pemanasan sebelum perang besar yang akan mereka hadapi.
Tugas yang mereka kerjakan sedari tadi itu adalah pidato, dan maksud dari dihapal dan dijabarkan kedepan kelas jelaslah membaca pidato. Tapi tunggu dulu, bukankah semua orang sedari tadi hanya mencontek satu sumber? Hah? Apa yang sebenarnya orang salin dari tadi? Memang jam pertama adalah bahasa indonesia dan mengapa orang mencontek pidato dalam satu sumber? Coba ia ingat-ingat, ia tanyakan keteman sampingnya....
"Boy, tadi nyontek pidato punya siapa...???"
"Gak dol, tadi tuh cuman liat kerangkanya aja gimana. Sudah ngerti baru buat pidato sendiri, gimana ceritanya kita nyalin pidato orang lain... Ntar kan mau maju bacanya, gak mungkinlah..."
Seketika itu padol merasa bodoh sebenar-benar bodoh manusia, lalu percuma sajalah semua yang dari ia salin berdesak penuh peluh sedari tadi. Ini tak berguna lagi sekarang, ia harus memikirkan bagaimana caranya untuk menyelesaikan tugas pidatonya ini sebelum ia dipanggil maju kedepan kelas...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar