Entri Populer

Sabtu, 01 Maret 2014

Materi kelas XII Kritik



KRITIK

A.    Pengertian Kritik
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1997 : 531 ), disebutkan kritik adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap sesuatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Selain itu, menurut Sutopo (2011) kritik merupakan analisis secara langsung dengan mempertimbangkan baik buruknya suatu karya, penerangan, dan penghakiman karya. Kritik meliputi tiga bidang, yaitu teori dan sejarah.

B.   Ciri-ciri Kritik
1)     Bertujuan menilai karya.
2)    Penilaian didasarkan pada kriteria tertentu.
  3)    Mengungkapkan kelebihan dan kekurangan karya yang      dikritik.
4)    Terdapat kesimpulan penilaian kritikus terhadap karya         yang dikritik

C.    Prinsip-prinsip Penulisan Kritik
1) penulis harus secara terbuka mengemukakan dari sisi mana dia menilai karya sastra tersebut
     2) penulis harus objektif dalam menilai
3) penulis harus menyertakan bukti dari teks yang dikritiknya

D.    Contoh Kritik

Sinopsis Cerpen Ibu Karangan AA.Navis
Cerpen ini berkisah tentang perjalanan hidup seorang ibu dan anak-anaknya dengan pengorbanan, kegigihan, kesabaran. Seorang Ibu yang membesarkan dan mendidik anak-anaknya hingga dewasa dan berumah tangga dan anak- anak yang bekerja keras untuk membiayai perawatan ibunya yang sakit. Banyak cobaaan yang harus dihadapi keluarga ini terutama masalah kesulitan ekonomi. Sinopsisnya seperti berikut ini.
Ibu sangat menyayangi kami, anak-anaknya. Selamanya berat hati ibu jika berpisah dengan kami atau salah seorang dari kami. Selamanya ibu berusaha agar kami tetap hidup sekumpul. Juga selamanya ibu menjaga api kegembiraan dalam tungku hidup kami. Hingga kami selamanya merasakan bahwa  surga adalah dikaki ibu.
Akan tetapi, tak lama kemudian, kedua belah kaki ibu dengan tiba-tiba saja tak dapat digerakkannya lagi. Ibu harus tinggal di tempat tidur. Dan kalau ibu mau keluar, kami papah bersama-sama. Rupanya akhir hidupnya dimulai dengan sakit seperti itu. Kami semuanya jadi sedih, jadi cemas..
Ibu memang sudah merasai sekali dalam hidupnya mestinya anak ibu empat belas. Tapi dua kali keguguran. Dan dua kali pula kehilangan anaknya ketika masih kecil. jadi, kami bersaudara sepuluh orang sekarang. Akulah yang tertua..
Sakit ibu berlarut-larut. Ketika ibu mulai sakit, aku panggil  dokter. Dokter pada masa itu tak mau dipanggil ke rumah. Ia hanya menanyakan apa penyakit ibu, lalu diberinya beberapa macam obat yang diracik sendiri. Sementara itu, di rumah ibu berkeras hati untuk berlatih berjalan. Kami berdua memapahnya. Ibu mengangkat kakinya selangkah demi selangkah berkeliling kamar. Tapi yang sebenarnya kaki ibu tidak mampu digerakkannya lagi. Kadang-kadang ibu minta ditidurkan diruang tengah, agar ibu dapat melihat isi dari sebuah rumah tangga. Kadang-kadang ibu minta ditidurkan di langkan dapur,sambil bersandar ke bantal yang ditinggikan,
Akhirnya, masa krisis ibu sampai di puncaknya. Semua orang sudah kehilangan akal. Sanak keluarga telah ramai berdatangan dari berbagai kota dan kampung. Ada yang mengaji terus menerus dengan berganti-ganti, ada yang membisikan kalimat syahadat ke telinga ibu. Semua adikku telah merah dan sembab matanya, terutama yang perempuan. Beberapa kerabat yang terdekat pun demikian. Kesedihan mereka itu mengobati hatiku yang sedih. Tapi aku sama sekali tidak menunjukan kesedihanku dengan sepatutnya. Karena aku telah rela kalau ibu meninggalkan kami dalam tempo yang singkat.
Aku tak rela sungguh-sungguh di tinggalkan ibu. Keliaran perasaan dan pikiranku terhadap takdir,  kucoba menjinakkannya dengan melumpuhkan otak dan hatiku dengan mengalihkan perhatianku ke soal lain.
Dan ketika raungan rapat tangis diatas rumah telah berderai demikian kerasnya, aku tahu sudah bahwa waktu ibu telah sampai. Aku tak mengucapkan apa-apa, karena otak dan hatiku telah kosong. Aku tak berlari mendapati ibu yang tak bernyawa lagi itu. Aku hanya pergi menjauhkan diriku kemana saja kakiku mau membawanya agar aku bisa terhindar dari segala yang menekan hatiku oleh kedukaan sebab kehilangan ibu. Kalau kedukaan itu menyelinap juga kedalam hatiku, kucoba membujuknya dengan mengatakan,”ibu lebih baik lekas meninggal, daripada menderita lebih lama.”
Tak setitik pun air mataku kubiarkan keluar. Malah setiap kenalan yang kujumpai dijalan, aku masih bisa tersenyum manis padanya. Tapi ketika kubur itu sudah mulai ditimbuni orang, air mataku tak tertahankan lagi. Dadaku yang sesak menahan tangis terasa mulai lapang. Tapi hatiku masih hampa dan otakku kosong. Dan ketika itu, di pusara itu, aku tidak tahu apa yang hendak kulakukan diatas kubur ibu. Mungkin ibu akan berguling-guling di atasnya, sebagai protes kepada takdir bahwa ibuku terlalu lekas nyawanya diambil. Tapi aku hanya sebentar bisa berdiri merenungi kubur ibu, lalu aku barkata dalam hatiku,”Selamat berbahagialah, Ibu.” Lalu aku pergi cepat-cepat tanpa berpaling. Melarikan dukaku.

Kritik
Cerpen “ibu” karya AA. Navis ini memang sebuah sastra (cerpen) yang menarik dan baik. Hal ini dapat dilihat dari unsur-unsur intrinsik dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
 Adapun hasil analisisnya sebagai berikut.

1. Unsur-unsur Intrinsik
a. Tema
Tema atau pokok persoalan cerpen “Ibu” adalah kisah tentang perjalanan hidup sebuah keluarga dengan pengorbanan, kegigihan, kesabaran. Seorang Ibu yang membesarkan dan mendidik anak-anaknya hingga dewasa dan berumah tangga dan anak- anak yang bekerja keras untuk membiayai perawatan ibunya yang sakit.
b. Amanat
a)  Jadi lah anak yang berbakti kepada orang tua seperti yang  dilakukan oleh tokoh aku dan saudaranya.
b) Jika menjadi orang tua contoh lah seperti tokoh ibu, yang selalu menyayangi, melindungi, selalu berkorban, sabar, tabah, dan bekerja keras demi kebahagian anaknya.
c) Jangan mencontoh watak dari tokoh dokter rumah sakit yang tidak mau membantu sesama dan selalu mementingkan keuntungan saja jika menolong orang lain. Contohlah watak dari tokoh dokter bedah yang rela berkorban serta bijaksana dalam menyikapi masalah orang lain.
d)           Jangan berbuat seperti tokoh aku yang tidak dapat mengambil keputusan yang tepat untuk menyelesaikan masalahnya, pada saat ibunya sakit dan ia hendak membelikan ibunya obat namun ia mengambil langkah dengan menggelapkan uang organisasi yang membuat orang lain tidak percaya lagi dan menjahui dirinya.
c. Latar
Latar yang ada dalam cerpen ini adalah latar tempat, latar waktu, dan latar sosial.
d. Alur
Alur cerpen ini adalah alur campuran karena rangkaian Peristiwa/urutannya terkadang menceritakan masa mendatang(maju) dan terkadang menceritakan masa lampau (mundur)
e. Penokohan
Tokoh dalam cerpen ini ada 9 orang, yaitu tokoh Aku, Ibu, Adik tertua, Adik perempuan, adik ke empat, adik kelima, adik terkecil, Dokter Rumah Sakit dan Dokter bedah.

2.      Nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen ini.

1)      Nilai moral
Aku hanya pergi menjauhkan diriku kemana saja kakiku mau membawanya agar aku bisa terhindar dari segala yang menekan hatiku oleh kedukaan sebab kehilangan ibu
             
2)      Nilai tanggung jawab
.                       Seorang Ibu yang membesarkan dan mendidik anak-anaknya hingga dewasa dan berumah tangga dan anak- anak yang bekerja keras untuk membiayai perawatan ibunya yang sakit.

3)      Nilai kepribadian
                   “Tapi aku sama sekali tidak menunjukan kesedihanku dengan sepatutnya. Karena aku telah rela kalau ibu meninggalkan kami dalam tempo yang singkat”

4)      Nilai keagamaan (religi)
              Ada yang mengaji terus menerus dengan berganti-ganti, ada yang membisikan kalimat syahadat ke telinga ibu.
                            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar