KRITIK
A. Pengertian Kritik
Di dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1997 : 531 ), disebutkan kritik adalah
kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik
buruk terhadap sesuatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Selain itu,
menurut Sutopo (2011) kritik merupakan analisis secara langsung dengan
mempertimbangkan baik buruknya suatu karya, penerangan, dan penghakiman karya.
Kritik meliputi tiga bidang, yaitu teori dan sejarah.
B.
Ciri-ciri Kritik
1) Bertujuan menilai karya.
2) Penilaian didasarkan pada kriteria tertentu.
3) Mengungkapkan kelebihan dan kekurangan karya yang dikritik.
4) Terdapat kesimpulan penilaian kritikus terhadap karya yang
dikritik
C.
Prinsip-prinsip Penulisan Kritik
1) penulis harus
secara terbuka mengemukakan dari sisi mana dia menilai karya sastra tersebut
2) penulis harus
objektif dalam menilai
3) penulis harus
menyertakan bukti dari teks yang dikritiknya
D. Contoh Kritik
Sinopsis Cerpen Ibu
Karangan AA.Navis
Cerpen ini berkisah tentang perjalanan hidup seorang ibu dan anak-anaknya
dengan pengorbanan, kegigihan, kesabaran. Seorang Ibu yang membesarkan dan
mendidik anak-anaknya hingga dewasa dan berumah tangga dan anak- anak yang
bekerja keras untuk membiayai perawatan ibunya yang sakit. Banyak cobaaan yang
harus dihadapi keluarga ini terutama masalah kesulitan ekonomi. Sinopsisnya
seperti berikut ini.
Ibu sangat menyayangi kami, anak-anaknya. Selamanya berat hati ibu jika
berpisah dengan kami atau salah seorang dari kami. Selamanya ibu berusaha agar
kami tetap hidup sekumpul. Juga selamanya ibu menjaga api kegembiraan dalam
tungku hidup kami. Hingga kami selamanya merasakan bahwa surga adalah dikaki ibu.
Akan tetapi, tak lama kemudian, kedua belah kaki ibu dengan tiba-tiba saja
tak dapat digerakkannya lagi. Ibu harus tinggal di tempat tidur. Dan kalau ibu
mau keluar, kami papah bersama-sama. Rupanya akhir hidupnya dimulai dengan
sakit seperti itu. Kami semuanya jadi sedih, jadi cemas..
Ibu memang sudah merasai sekali dalam hidupnya mestinya anak ibu empat
belas. Tapi dua kali keguguran. Dan dua kali pula kehilangan anaknya ketika
masih kecil. jadi, kami bersaudara sepuluh orang sekarang. Akulah yang tertua..
Sakit ibu berlarut-larut. Ketika ibu mulai sakit, aku
panggil dokter. Dokter pada masa itu tak
mau dipanggil ke rumah. Ia hanya menanyakan apa penyakit ibu, lalu diberinya
beberapa macam obat yang diracik sendiri. Sementara itu, di rumah ibu berkeras
hati untuk berlatih berjalan. Kami berdua memapahnya. Ibu mengangkat kakinya
selangkah demi selangkah berkeliling kamar. Tapi yang sebenarnya kaki ibu tidak
mampu digerakkannya lagi. Kadang-kadang ibu minta ditidurkan diruang tengah,
agar ibu dapat melihat isi dari sebuah rumah tangga. Kadang-kadang ibu minta
ditidurkan di langkan dapur,sambil bersandar ke bantal yang ditinggikan,
Akhirnya, masa krisis ibu sampai di puncaknya. Semua
orang sudah kehilangan akal. Sanak keluarga telah ramai berdatangan dari
berbagai kota dan kampung. Ada yang mengaji terus menerus dengan
berganti-ganti, ada yang membisikan kalimat syahadat ke telinga ibu. Semua
adikku telah merah dan sembab matanya, terutama yang perempuan. Beberapa
kerabat yang terdekat pun demikian. Kesedihan mereka itu mengobati hatiku yang sedih.
Tapi aku sama sekali tidak menunjukan kesedihanku dengan sepatutnya. Karena aku
telah rela kalau ibu meninggalkan kami dalam tempo yang singkat.
Aku tak rela sungguh-sungguh di tinggalkan ibu.
Keliaran perasaan dan pikiranku terhadap takdir, kucoba menjinakkannya dengan melumpuhkan otak
dan hatiku dengan mengalihkan perhatianku ke soal lain.
Dan ketika raungan rapat tangis diatas rumah telah
berderai demikian kerasnya, aku tahu sudah bahwa waktu ibu telah sampai. Aku
tak mengucapkan apa-apa, karena otak dan hatiku telah kosong. Aku tak berlari
mendapati ibu yang tak bernyawa lagi itu. Aku hanya pergi menjauhkan diriku
kemana saja kakiku mau membawanya agar aku bisa terhindar dari segala yang
menekan hatiku oleh kedukaan sebab kehilangan ibu. Kalau kedukaan itu
menyelinap juga kedalam hatiku, kucoba membujuknya dengan mengatakan,”ibu lebih
baik lekas meninggal, daripada menderita lebih lama.”
Tak setitik pun air mataku kubiarkan keluar. Malah
setiap kenalan yang kujumpai dijalan, aku masih bisa tersenyum manis padanya.
Tapi ketika kubur itu sudah mulai ditimbuni orang, air mataku tak tertahankan
lagi. Dadaku yang sesak menahan tangis terasa mulai lapang. Tapi hatiku masih
hampa dan otakku kosong. Dan ketika itu, di pusara itu, aku tidak tahu apa yang
hendak kulakukan diatas kubur ibu. Mungkin ibu akan berguling-guling di
atasnya, sebagai protes kepada takdir bahwa ibuku terlalu lekas nyawanya
diambil. Tapi aku hanya sebentar bisa berdiri merenungi kubur ibu, lalu aku
barkata dalam hatiku,”Selamat berbahagialah, Ibu.” Lalu aku pergi cepat-cepat
tanpa berpaling. Melarikan dukaku.
Kritik
Cerpen “ibu” karya AA. Navis ini memang
sebuah sastra (cerpen) yang menarik dan baik. Hal ini dapat dilihat dari
unsur-unsur intrinsik dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Adapun hasil analisisnya sebagai
berikut.
1. Unsur-unsur Intrinsik
a. Tema
Tema atau pokok persoalan cerpen “Ibu” adalah kisah tentang perjalanan hidup sebuah
keluarga dengan pengorbanan, kegigihan, kesabaran. Seorang Ibu yang membesarkan
dan mendidik anak-anaknya hingga dewasa dan berumah tangga dan anak- anak yang
bekerja keras untuk membiayai perawatan ibunya yang sakit.
b. Amanat
a) Jadi
lah anak yang berbakti kepada orang tua seperti yang dilakukan oleh tokoh aku dan
saudaranya.
b) Jika
menjadi orang tua contoh lah seperti tokoh ibu, yang selalu menyayangi,
melindungi, selalu berkorban, sabar, tabah, dan bekerja keras demi kebahagian
anaknya.
c) Jangan mencontoh watak dari
tokoh dokter rumah sakit yang tidak mau membantu sesama dan selalu mementingkan
keuntungan saja jika menolong orang lain. Contohlah watak dari tokoh dokter
bedah yang rela berkorban serta bijaksana dalam menyikapi masalah orang lain.
d) Jangan berbuat seperti tokoh
aku yang tidak dapat mengambil keputusan yang tepat untuk menyelesaikan
masalahnya, pada saat ibunya sakit dan ia hendak membelikan ibunya obat namun
ia mengambil langkah dengan menggelapkan uang organisasi yang membuat orang
lain tidak percaya lagi dan menjahui dirinya.
c. Latar
Latar yang ada dalam cerpen ini adalah latar tempat,
latar waktu, dan latar sosial.
d. Alur
Alur cerpen ini adalah alur campuran karena
rangkaian Peristiwa/urutannya terkadang menceritakan masa mendatang(maju) dan
terkadang menceritakan masa lampau (mundur)
e. Penokohan
Tokoh dalam cerpen ini ada 9 orang, yaitu
tokoh Aku, Ibu, Adik tertua,
Adik perempuan, adik ke empat, adik kelima, adik terkecil, Dokter Rumah Sakit dan Dokter bedah.
2. Nilai-nilai
yang terkandung dalam cerpen ini.
1)
Nilai moral
Aku hanya pergi
menjauhkan diriku kemana saja kakiku mau membawanya agar aku bisa terhindar
dari segala yang menekan hatiku oleh kedukaan sebab kehilangan ibu
2)
Nilai tanggung jawab
. Seorang Ibu yang membesarkan dan mendidik anak-anaknya
hingga dewasa dan berumah tangga dan anak- anak yang bekerja keras untuk
membiayai perawatan ibunya yang sakit.
3)
Nilai kepribadian
“Tapi
aku sama sekali tidak menunjukan kesedihanku dengan sepatutnya. Karena aku
telah rela kalau ibu meninggalkan kami dalam tempo yang singkat”
4)
Nilai keagamaan (religi)
Ada yang mengaji terus menerus
dengan berganti-ganti, ada yang membisikan kalimat syahadat ke telinga ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar