Entri Populer

Rabu, 29 Januari 2014

PeDeKaTe tapi LDR #part11

   Tak terkira pukul jam telah menandakan setidaknya hampir sepuluh malam, berdua dari mereka terlihat tak menyadari waktu segitu malamnya. Sudah sangat jelas bahwa mereka sudah jauh mendalami malam itu, benar-benar mendalami sehingga waktu bukan sebuah hal yang menganggu lagi. Perbincangan mereka sangatlah mampu membuat mereka seakan lupa dimana dunia, anggan mereka begitu jauh melayang meninggalkan problema nervous padol yang malam itu seakan punah entah kemana.
   Inilah yang ternyata namanya perasaan yang saling membalas dan terbalaskan, dimana ada suatu umpan yang dilemparkan oleh pemancing dan dilahap oleh target yang diharapkan dan harusnya target itu adalah ikan. Namun lain halnya dengan apa yang sedang terjadi ini, disini bedanya padol sebagai pemberi umpan dengan beberapa rayuan dan usaha yang dikenal pedekate dan karin sebagai target mampu membalas dan menjaga agar usaha padol ini berhasil.
   Padol juga terlihat mampu mengendalikan penyakit groginya yang terbilang mulai bisa ditemukan obatnya, bukan sejenis generik atau tradisional tapi seorang tabib sakti yang sangat teramat ampuh mengobati perkara ini. Hanya dengan sedikit sentuhan dan nasihat-nasihat padol sudah mampu berangsur-angsur kembali normal dari groginya, Mungkinkah juga karin mampu mengobati hal lainnya? Mungkin dan bisa jadi iya tapi lihatlah nanti, sekarang padol tersadar sekarang jam hampir pukul sepuluh lebih.
   Tak mungkin baginya untuk berlama-lama lagi disana karena cowok akan diperhatikan juga waktu malamnya, semakin malam cowok itu diluar patut diperhatikan apa maksud cowok itu diluar. Apakah sicowok memang kerjaannya yang menuntut untuk pulang malam atau hanya dia membuang-buang waktu untuk menghabiskan malam. Jika opsi kedua dipilih cowok maka tak bisa dikatakan cowok ini akan baik bagi kalangan cewek, cowok jenis ini akan membuat hidup para cewek ada diantara garis kemiskinan kesejahteraan ya mungkin digaris netral standar.

       "Karin, ini udah malem banget... Permisi yah"
       "Iya, tapi permisi juga sama ibuk dulu"
       "Hah? Ini nantangin yang betulan kali rin"
       "Emang gitu harusnya padol"
       "Harus gitu gimana...???"
       "Ya harus pamitan sama ibu, ayah juga harus tapi sekarang ayah lagi diluar"
       "Alhamdulillah, cuman ibu inikan"
       "Iya cepetan gih"

  Serentak seluruh saraf dan jantung padol ingin berhenti bekerja setelah mendengar lisan karin tadi, bagaimana mungkin ia harus berpamitan dan bersalaman lagi dengan ibu karin. Sedangkan hal seperti pertemuan tak direncanakan saja ia hampir melepas sadarnya mungkin bisa juga nyawanya. Ini sekali pun terencana apakah padol bisa selamat sentosa mempertahankan dirinya untuk mengendalikan groginya? Ataukah sebatas ini kemampuannya untuk menahan grogi?
   Ia harus menghadapinya untuk belajar lebih lagi dalam hal menghadapi masalah yang harus berulang-ulang ini, dengan apapun caranya dia harusnya mampu dan tak boleh lari perkara ini. Mungkin inilah yang diibaratkan tekad sudah bulat, apapun rintangannya pasti akan terpatahkan dengan sebuah dua buah solusi yaitu yakin dan hadapi. Maka masalah sebesar apapun bentuknya, akan terlewati dan akan berhasil diselesaikan.

       "Ini memang harus salaman rin...???"
       "Iya harus! Kalo gak kamu jangan harap kesini lagi!"
       "Ihh... Kejam abis, janganlah malam ini aja"
       "Gak mau kerumah lagi...???"
       "Huft..."
       "Ayok cepetan..."
       "Iya! Harus berani, ginian aja takut! Gimana mau salaman pas lamaran besok!"

   Dengan langkah gagah tegap serempak bersamaan dengan nafas yang tak pernah berhenti berhembus sedari datang, padol berusaha berjalan kearah ibu karin untuk menunaikan kewajiban untuk menambah kesempatannya langgeng dengan karin.

       "Ibu, emmm... saya pamit dulu udah malam juga ini buk"
       "Ehh, iya nak... Hati-hati dijalan nak, karin anterlah dia ni sampe pagar"

   Seketika karin pun mengerakkan langkahnya menuju arah keluar rumahnya, mengiringi kepulangan padol dari rumahnya. Mungkin bisa jadi tak merelakan malam itu atau mungkin mengharapkan cepat malam itu berlalu? Mungkin hanya tau tentang rasanya malam itu...

       "Padol..."
       "Kenapa karin...???"
       "Enggak, hati-hati ntar dijalannya"
       "Iya pasti"   

     Iniah akhir dari pertemuan malam itu, padol berhasil menyelesaikan seluruh permintaan dan misi dari karin. Bukan main-main, banyak sekali yang harus ia tanggung dan tahan. Mulai dari grogi dan nervous yang berhasil ia kendalikan malam itu, juga ia mampu untuk menahan derasnya keringat dingin dan getaran yang tercipta bergantian malam itu. Memang agak sulit melepas hal yang tercipta malam itu bagi padol, seakan-akan ia ingin selalu memiliki karin disetiap waktu yang ia dapat. Juga bagaimana pun, karin bukanlah miliknya seutuh-utuh kepemilikan. Ia hanyalah pemilik rasa rindu dan puja kepada karin, dan rasa itu mungkin akan tercipta akan semakin tercipta makin dan makin besar ketika nanti jarak akan mencoba merusak hubungan mereka ini.
   Mereka adalah satuan yang bersatu dalam satuan yang dinamakan kejauhan, namun sangat mudah dikalahkan dengan sebuah divisi yang mengontrol pergerakan kemenangan dalam penantian. Semua orang mengenal divisi itu dengan sebutan kepercayaan, tanpa mereka harus takut senjata kejauhan yang dikenal sangat mematikan yaitu rindu. Mereka divisi kepercayaan sangat sulit dikalahkan apabila kumpulan mereka dipelihara dan dirawat, karena hanya divisi merekalah tameng dari semua senjata rindu ketika menyerang.
   Apakah nanti padol sanggup merawat divisi itu, hanya waktu yang terus berputar yang mampu menjawab pertanyaan dungu ini. Sekarang waktu untuknya pulang setelah pamitan tadi, dan sebuah kemenangan sebuah misi yang sangat berat. Senyum padol tak berhenti dari pagar keluar rumah karin sampai kerumahnya, bahkan sulit dibedakan mana padol yang normal dan mana padol yang keracunan senyum terus menerus. Bahkan diperjalanan ia membayangkan racun tersebut, yang sudah masuk merasuk kedalam jaringan inti sarafnya.



   
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar