Dengan keadaan letih berbaur seiringan dengan penat padol pun pulang kearah rumahnya, diperjalanan jalan yang dia lalui memang kearah rumahnya. Namun, dipikirannya sedari awal ia memikirkan bagaimana nanti ia akan berjalan kerumah karin. Istilahnya bukan berjalan atau pun namu, tapi ngepel ehh ngapel sadar padol. Ini seakan menjadi perjuangan yang lebih meningkat lagi level kesusahannya, mungkin tingkat sulit tersulit akan segera ia hadapi. Bukan untuk ditakuti ataupun dihindari, tapi inilah jalan untuk padol menguji seberapa besar nyawanya untuk menghadapi masalah sebesar ini.
Tapi sebesar apapun nyawa yang ia miliki ia tak mampu untuk mengukur seberapa besar grogi yang akan terbentuk nantinya, selama ini saja hanya untuk menatap mata karin ia harus berulang kaki menahan getar tangannya. Apalagi kerumahnya, berbicara dengan jarak dekat dan bahkan bisa dikatakan tak berjarak. Apakah ia sanggup menahan getar kakinya nanti? Ataupun apakah ada waktu untuknya mengeringkan keringat dingin yang ia ramalkan bisa membanjiri seisi rumah karin?
Dia tak akan pernah mengetahui seberapa banyak liter keringat yang akan ia produksi jika ia hanya berpikir-pikir seperti ini, tak ada jalan lain selain datang kerumah karin dan lihat apa reaksi yang akan tercerna. Hanya saja masih banyak yang harus ia pikirkan dibandingkan keringat ataupun getaran yang akan ia dapat, apa yang harus ia pakai saat kerumah karin? Pakaian bagaimana? Apakah harus ia menyewa jas atau hanya pakai sarung kerumah karin? Ini agak sulit untuknya...
Penyebabnya ini adalah pertama kali dan jangan sampai untuk terkahir kalinya ia akan berkunjung kerumah perempuan, ia seakan-akan belum sanggup untuk datang. Dalam khayalnya laki-laki yang datang kerumah perempuan itu hanya ada dalam acara lamaran atau tunangan, namun lain halnya dengan yang ia hadapi. Ia harus sendirian menghadapi wanita yang sanggup membuatnya tidak tidur semalaman suntuk saat ia menunggu balasan sms karin.
Ia ingin kedatangannya ini harus sempurna tanpa celah, maksudnya jangan sampai ada celah untuk tampil rusak. Lalu bagaimana caranya untuk menjadi seperti ini? Ia tiba-tiba ingat sambutan pak mis tadi yang mengatakan belajarlah dari pengalaman, nah itu dia! Padol harus mencari orang yang sudah berpengalaman dalam hal ngapel kerumah cewek, kalau bisa sudah berpengalaman kerumah cewek dalam lamaran :D
Sepintas ia tak bisa memikirkan siapa yang telah terbiasa seperti ini, maklumlah anak sma semuanya labil dan masih terjangkit ALAY.
Sebentar, ia tahu siapa yang harus mintai keterangan lebih lanjut. Maka dengan reflek cukup cekatan ia putar arah motornya menuju rumah orang yang ia pikirkan ini, jaraknya masih dekat namun cukup menghabiskan bensin motornya. Setelah berjalan lebih kurang dua setengah kilometer ia sampai ditempat orang tertera. Yap, sedari tadi ia pikirkan JAYA-lah orang yang telah berpengalaman dalam hal apel-mengapel ini!
"JAYA...!!!"
"Nah, panitia galau datang! Kenapa ni dol, tumben-tumbenan datang kerumah biasanya kalo kerumah orang kalo ada acara ulang tahun aja kan?"
"Hari ni ada yang lebih dari ulang tahun jay, masalah hidup-pingsan jay"
"Emang kenapa pula pingsan? Imunisasi dol?"
"Bukan, udah sebesar ini masih imunisasi -_-"
"Nah terus apaan?"
"Gini, ntar malem aku diajak karin main kerumahnya. Nah aku gak tau harus ngapain"
"Kok gak tau? Ya kamu datanglah kerumahnya"
"Maksudnya bukan itu tapi baju apa yang harus dipakek? Parfum apa'an?"
"Ini mau kerumah cewek apa ke undangan orang nikah?"
"Nah kenapa pula gitu?"
"Gak usah nipu cewek dengan baju mahal ato pun parfum mahal dol, ntar baumu juga kesebar sendiri... Cewek tu suka'an cowok yang jadi dirinya sendiri, jadi gak usah pusing-pusing dol! Simple aja pakek jeans, trus tambah kaos oblong gitu"
Sehentak pikir padol berputar, ternyata benar saja apa kata jaya. Mengapa dia harus berpura-pura untuk semua ini, toh nantinya karin juga tau dia gimana-mana. Tadi diacara dia udah tau kalaupun padol terlalu maksa dia untuk ngerayu, tapi sebenarnya juga kita harus menipu untuk menang walaupun sulit untuk berbuat seperti itu bagi padol.
"WOI...!!! Bangun-bangun coy, melamun apa'an lagi dol?"
"Hah, ohh iya! Makasih jay sarannya! Aku pulang dulu jay, udah sore nah"
"Hati-hati dijalan dol, ntar nabrak gerobak bakso lagi"
Seketika itu juga padol pun memacu motornya kembali kerumah, dia tersadar akan suatu hal. Bahwa kita tak perlu menjadi orang lain hanya untuk mendapat orang lain, jadilah diri sendiri agar nanti orang lain itu mampu kita miliki. Setelah sesampai dirumah, ia seketika tergeletak dikasur empuknya. Sampai-sampai ia tertidur dengan mengimpikan seperti apa dia nantinya dirumah karin, namun kelihatannya ia bukan memimpikan hal itu.
Ia termimpikan hal sebrang, bagaimana jika ia setengah hidupnya gugup nanti malam. Terlihat raut alisnya mulai kembang-mengempis dibawah alam sadarnya, dimimpi ia kelihatan begitu bergetar hanya didepan pintunya. Bergerak pun ia tak sanggup apalagi menahan getaran yg terjadi, sebenarnya juga bukan badan ataupun tangannya melainkan juga hatinya juga bergetar bahkan jantungnya seperti berpacu dengan bom waktu. Serasa ia sedang menghadapi sebuah ujian yang sangat berat dan mungkin sulit untuk ia lalui, dan tiba-tiba "PRANK...!!!" pintu yang sedari tadi terbuka tertutup begitu saja.
Dan itu hanya mimpi, ternyata jendela padol terhempas menutup oleh adiknya. Tanpa sengaja karena ia sedang mencoba menjangkau sesuatu, padol agak sedikit kaget juga. Bagaimana kalau mimpi yang ia alami tadi benar akan terjadi, apa yang akan bisa ia lakukan untuk mengatasi hal ini. Dalam keadaan masih terbaring terlentang, ia masih sempat juga memikirkan hal sepele ini. Memang sebenarnya juga ini pertama kalinya ia harus mencoba kuat tegangan jantungnya untuk malam nanti, ya setidaknya jangan sampai pingsan disana.
Terlihat hari sudah mulai beranjak agak jauh dari terang, semua mulai mengelap setelah tiadanya matahari diatas lukis langit. Padol mencoba untuk sadar bahwa ia harus cepat-cepat mandi atau hari semakin larut. Berjalan luntai-luntai ia pun mencoba mengapai kamar mandi, maklum sulit baginya untuk berjalan normal setelah staminanya cukup terkuras seperti tadi. Setelah cukup terasa segar bagi padol, ia selesaikan mandinya.
Tanpa berpikir lama, ia reflek untuk mencari baju apa yang akan ia kenakan menuju acara malamnya ini. Semua bajunya ia ragu untuk ia kenakan, sangat-sangat meragukan dirinya. Ini memutar nalarnya, apa yang harus ia pilih? Merah tanpa lengan atau biru lengan dan kerah? Seakan-akan ini mulai mencakar tubuhnya satu-persatu, namun apakah baju sederhana terlalu sederhana pula untuk orang yang sangat "dimewahkan" oleh padol...???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar