Setelah membongkar seluruh isi perut lemarinya, ia jatuh kesebuah hal yang ia sangat suka. Jaket, mengapa ia tidak mengenakan jaket? Dari pada baju, baginya jaket itu seperti pembungkus yang nilainya sangat netral dan pembeda antara pemikiran mewah dan sederhana sebuah style berpakaian seseorang. Dia juga sangat teramat nyaman mengenakan jaket, lalu muncul sebuah bisikkan yang melontarkan "bukankah sederhana itu awalnya dari kenyamanan?"
Padol pun sudah yakin dengan pilihannya, ia akan mengunakan jaket dan baju oblong lusus didalamnya. Inilah kesederhanaan dirinya, dan kenyamanan dirinya. Lalu, bersiaplah ia dengan segera dan juga masih menunjukkan reflek yang cekatan. Setelah semua berlalu, ia melihat-lihat jam ditangannya. Tertera pukul 19.34 disana, jika ia pergi sekarang maka mungkin waktu yang tersedia agak lumayan.
Namun bagaimana pula jika waktu yang lumayan tadi lumayan pula untuknya kesulitan bernafas? Sedari tadi ia terlihat begitu sangat cemas seperti halnya seorang suami yang menanti kelahiran anaknya, mondar-mandir kira kanan depan atas bawah. Ini ternyata diperhatikan oleh ibunya, ya harap diketahui padol ini terbilang dibatasi walau hanya sedikit oleh ibunya. Mungkin karena juga padol belum terlalu dewasa, maka itu juga mungkin yang menyebabkan ibunya berlaku seperti itu.
"Padol...??? Kenapa lalu-lalang sih...???"
"Ah ibu, eee... mmm... gak ada sih bu, cuman pemanasan aja"
"Emang kamu mau olahraga apa malam-malam gini? Senam?"
"Hah...??? Enggak kok bu, cuman hari ini aja yang dingin jadi butuh pemanasan bu"
"Halah kamu mau nipu ibu, ibu tau kok padol kamu kenapa..."
"Emang aku kenapa bu...???"
"Kamu lagi suka sama cewek, iya kan...??? Ngaku deh kamu"
"Alah, apa sih buu -_-"
"Ibu pernah muda padol, jadi waktu itu ayah gak jauh beda sama kamu... Keliatannya tuu dari muka kamu udah mirip dibakar, mulai merah-merah gak jelas"
"Iya bu aku ngaku, ini aku juga mau kerumahnya"
"Hati-hati ya dol, jangan pulang diatas jam sepuluh dengerkan"
Setelah mengiyakan permintaan ibu, padol pun bergerak dengan penuh percaya bahwa malam ini karin akan dia luluhkan. Ia percaya kalau sudah ibunya mendukung, cuman ayahnya belum. Ayah padol memang begitu sulit, ia harus mengerti dengan pekerjaan yang ayahnya dapat. Tapi setidaknya, ibunya sudah setuju dan tanpa lama lagi ia pun sampai didepan pekarangan rumah karin. Dengan nafas sedalam sumur, ia tarik-ulur secepat mungkin untuk memulai penghukuman ini.
"Ini padol yaa...??? Masuk aja dek kedalam"
"Eh iya buk, ini ibunya karin?"
"Iya nak, silahkan-silahkan masuk dulu nak"
Entah apa yang sebenarnya terjadi padol seakan sulit menalarinya, ia seakan tak percaya apa yang ia dapati barusan. Bagaimana ibunya karin begitu mendapatinya dengan keadaan seperti tadi, dan bagaimana padol diketahui oleh ibu karin. Sepertinya ini telah lama diketahui, namun bagi padol ini mungkin awalan yang sangat baik. Cukup lama melangkah, ia pun masuk kedalam rumah karin dengan diiringi ibu karin tadi. Terlihat adik-adik karin ada didepan televisi, mereka sangat terlihat serius padahal yang mereka lihat hanyalah iklan mainan. Tak lama kemudian, keluarlah karin dapur...
"Padol, gak apa-apakan tadi ibu negur kamu...???"
"Oh karin, nggak-nggak..."
"Bentar ya aku...."
"Gak usah tuker baju rin, gitu aja bajunya"
"Hahaha... Enggak padol, aku mau ngambil minum dulu buat kamu..."
Bisakah kalian bayangkan muka padol saat itu, luar biasa pasti hal tersebut sangat memalukan baginya. Wajahnya pun mulai memerah lagi, namun ini merah yang sangat kelihatan. Ia mencoba mendapatkan alirannya kembali, mencoba untuk bertahan diantara kesulitannya untuk menyesuaikan dirinya kembali terhadap kondisi.
"Ini dol, diminum yah"
"Iyalah diminum gak mungkin dikunyahkan"
"Nah, bisa aja kamu"
"Kamu baru masak rin?"
"Nggak juga sih, cuman bantuin ibu dikit soalnya tadi ibu kedepan eh malah ketemu kamu gitu"
Sejauh ini terlihat padol dapat mengikuti jalan dan aliran yang diciptakan oleh karin, begitu juga karin juga sudah mulai terlihat mengenal umpan yang diberikan padol. Namun berdetak sehentak jantung padol, ia terkejut setelah ada abang-abang yang lewat depannya. Sekiranya karin merupakan anak tertua dikeluarganya, tapi tadi itu siapa? Penarasan terbentuk dalam pikiran padol, mampukah ia mengeluarkan suaranya untuk menanyakan kepada karin siapa beliau yang lewat barusan.
Tapi nantilah, ia hiraukan masalah ini dan lebih mencoba untuk mendapatkan cara untuk menyesuaikan diri lebih masuk lagi dalam aliran ini. Ketara sekali padol masih agak kaku malam itu, biasanya ia harus berlepas seperti bebas namun kali ini ia cukup tertekan untuk menyesuaikan dirinya. Memang begitulah dan juga mau bilang, ini juga pertama kali kakinya menjejakkan tapak dirumah seorang wanita, dan wanita ini bukanlah wanita sembarangan baginya.
"Tumben kamu gak grogi'an malam ni dol...???"
"Hah, ahaha tadi udah udah latihan tenaga dalam biar bisa nahan getar"
"Halah mana adalah gituan..."
"Nah ini buktinya aku gak getar-getar lagi"
"Emang bunyi suara hp getar-getar"
Terlihat sekali bahwa karin sebenarnya juga memperhatikan padol, dia bukan sekedar melayani pdkt padol. Juga mungkin ia akan membalas apa yang telah padol usahakan selama ini, memang cukup berat bagi padol selama ini. Mengusahakan sebuah awalan saja begitu sulit, tapi kini mulai kelihatan hasilnya. Karin mulai mencoba menghargai perkara yang selama ini dibuat padol, mungkin bukan saja menghargai ataupun membalas. Bisa saja mungkin lebih dari ini, mungkin suatu saat jawaban ini akan tersingkap.
"Eh karin, yang tadi itu abang kandung gak...???"
"Enggak, dia cuman sepupu dol. Kamu kagetan gitu sih"
"Iyalah kaget, dirapor kamu kan kamu anak pertama......"
"Ehh kamu liatin rapor aku...??? Dimana emang???"
"Kemaren aku ada ngeliat waktu dikantor"
"Ihh bahaya kamu"
"Bahaya bahaya, emang aku bom apa bahaya"
Semakin malam semakin larut, mereka semakin enjoy dengan apa saja hal yang dibawakan padol. Mulai pertanyaan aneh sekalipun bahkan pertanyaan serius nampak karin mampu dengan apik dalam menjawabnya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar