Tak ada pilihan bagi padol jika memang inginkan penjelasan akan kasus mengapa karin mengerutkan bibirnya, sepertinya karin memang butuh seseorang untuk mendengarkan apa yg dia rasakan. Padol masih juga bermalu, memalingkan nervous memang agak sulit pagi padol. Ini serasa harus ia tunaikan atau karin akan semakin tenggelam dalam kesedihannya, dan juga padol serius harus menunaikan misi ini agar tak semakin larut.
Menarik napas dalam-dalam sudah seakan tiada hentinya padol lakukan, ia tutup matanya menutup pandangannya sejenak. Ia siapkan seluruh materi untuk ia sampaikan nantinya kepada karin, ia rangkaikan sedemikian rapi untuk rayuan bahkan gombalannya nanti untuk menghibur karin. Cukup sudah ia rasakan, ia pikir ia sanggup hanya untuk duduk disebelah karin dan berobral rayuan dalam imajinasi belakanya. Memuji karin yg mampu membuatnya lupa akan hal apapun, dan bahkan karin juga mampu membuatnya lupa akan mengisi ulang pulsanya *ini emang padol yg gak punya uang*.
Sekilas ia pun bersiap, get ready dan ia pun membuka matanya. Hanya saja padol bersusah-susah untuk sadar, kemana perginya karin...??? Atau dia hanya halusinasi melihat karin sedari tadi? mana mungkin sepagi itu dia sudah mabuk? Hah? lalu apa yg terjadi? Padol seperti akan hal anak kecil yg berlari-lari riang namun setelah ia berhenti untuk mengambil napas ia kehilangan orang tuanya, semua sirna layaknya semut yg diinjak sepatu boots. Tapi, tak mungkin juga karin hilang secepat itu.
Diselidikinya setiap jenjang bangku sekitar dudukan karin tadi, ternyata karin sudah berjalan meninggalkan posisi awal. Sepertinya padol kehilangan moment yg mana harusnya ia mampu manfaatkan, ini akan sulit bagi kelangsungan pedekatenya. Baru saja ia lewatkan check point pada game ini, itu artinya waktu ataupun kesempatannya telah berkurang. Sepertinya padol agak kesal, mengapa ia harus memejamkan mata dahulu hanya untuk menghampiri karin dan say hii and what's up...
Dipikirannya sekarang adalah bagaimana ia harus lebih peka lagi akan suatu hal yg mana yg tidak harus ia lewatkan seperti tadi, seperti halnya ia melewatkan peta untuk menuju kuburan harta sikarun. Andai tadi ia datang kesana, mungkin ia akan dapatkan peta tentang arah pikiran yg sedang terjadi dgn karin. Ini mungkin sangat asyik untuk didengar, seperti semudah memainkan games pes 2013/2014 ditumpukan kaset ps dirumahnya. Tapi pr untuk padol buka hal membobol, tapi tentang hal bagaimana ia harus mengatur strategi dulu sebelum ia menjebol hati karin.
Ia hanya terdiam memukau melihat karin memudar semakin jauh dari matanya, besar rasanya ia ingin kejar dan itu hanyalah sebatas hawa nafsu yg mudah untuk menguap. Padol memang agaknya sulit untuk memberhentikan tingkah groginya ini, tak terkira ada seorang datang dari samping
"Padol... Tadi beli snack uangnya udah diganti hotpin?" suara ibuk-ibuk rupanya
"Eee... sudah buk, aman. Ada apa lagi ya buk...?"
"Gini, kamu cari anak untuk taruh snack-snack itu ke tamu... Kamu cari yg sexy atas bawah yah"
"HAH...??? Maksud ibuk...???"
"Udah jgn banyak polosan kamu, cari cepat 2orang... Kalau dapet kirim keruangan si adi tadi ya"
Padol memang manusia super polos lebih dari polosnya kertas hvs, apa yg ibuk tadi maksudkan ia bahkan hanya kosong. Pandangannya masih mengarah kedepan tanpa berusaha mencerna apa yg harus ia lakukan saat dan setelah itu, mungkin itu hanya kiasan si ibuk. Tapi sejujurnya padol agak bingung juga, ia harus cari orang untuk menjelaskan apa yg sebetulnya ibu tadi inginkan. Berjalanlah ia kemana tak tentu arah juga, hanya mutar-memutar sekitar daerah itu juga. Kemudian ia lihat ravi lewat bertenteng dgn seorang yg bisa jadi itu pacarnya.
"Ravi, ravi...! Bentar vi, sinilah..."
"Heh padol, nah aku datang..."
"Gini nah vi, si ibuk tadi minta orang sexy atas bawah nah apa maksud si ibuk tuu...?"
"Oh aku tahu! cari sekarang nggak cewek kriteria gituan...?"
"Tapi yakin tahu vi...?"
"Ikutlah cepet..."
Sementara tempelan yg ia bawa tadi ia tinggal begitu saja, memang ravi dikenal cukup playboy karena memang dia raja segala jenis gombalan, rayuan, puitis, atau apapun semacam itu. Bagi ravi pacar itu semudah sms orang dan mengatakan kalau ia suka padanya dgn sedikit maka sekilas akan ada pacar baru untuk ravi, ya sudahlah ravi memang manusia yg dasarnya memang tak pernah puas. Sekejap mereka telah tiba disekitaran kelas dua, ravi lihat dan periksa untuk menyesuaikan terlebih dahulu sesuai atau tidakkah orang sekitaran situ dgn kriteria tadi.
Dapatlah ada satu yg masuk dalam apa yg ia inginkan, kalau menurut ravi oke maka padol akan polos pula akan mengatakan oke....
"Dol yg baju batik biru dol, gimana...?"
"Jujur ini nggak ngerti apa sih maksudnya vi sexy atas bawah"
"Anak smp pun nggak segini parahlah dol polosnya, maksud si ibuk itu sexy bodynya"
"Oh, harus mirip body motor gitu ya vi?"
"Body biola atau nggak gitar spanyol koplak, body motor -_-"
"Oh, eee batik biru...? Bukannya itu mantan si adi vi? siapa sih... oh si yesi tuh anak kelas kita"
"Nah, adi kan ketua konsumsi gak...?"
"Iya emang kenapa vi...?"
"Biarlah, si yesi sama adi flashback"
"Bukan... bukan, belum pacaran tapi ini siapa yg suka ya? Adi apa yesi?"
"Sama-sama suka palingan, aku kesana dululah dol, satu lagi tugas dirimu oke!"
"Okelah..."
Sementara ravi menuju kearah yesi, padol malah diam terbius ditempat yang ternyata ia lihat karin ada didepan beberapa meter didepannya. Satu hal, ia lupakan menyiapkan diri jika hal ini terjadi. Padol makan nervous, dia tak tahu apa yg harus ia lakukan. Apa yg harus ia katakan saja ia bingung, padahal karin berjalan semakin memangkas jarak antaranya dengan padol. Jika diberi kesempatan untuk lari pasti ia akan lari, tapi karin sudah didepan jarak nafas dalamnya.
"Padol, kenapa bengong gitu..."
"Eehh, karin eehh nggak kamu... kamu... kaa.. m.. uuu..."
"Emang aku kenapa sih padol"
"Ka.. m... uu... beda hari ini!"
"Beda apanya sih, ihh kamu keringatan gitu sih..?"
"Kamu beda karin, beda semuanya hari ini"
"Iya iya udah dulu ya padol, mau ikut makan gak...?"
"Udah kok"
"Ya udah, aku pergi dulu ya padol"
Polosnya padol ternyata selamat akan logikanya yg masih hidup tadi, ia masih mampu jujur namun dalam kesempatan sebenarnya ia sedikit merayu. Padol masih terbius dgn karin, dgn segala yg karin lakukan tadi seperti halnya sulap yg padol tak tahu bagaimana ia mendatangkan rasa yg tercipta dalam diri padol barusan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar