Didepan toko ada jejeran buku yang dipajang dalam lemari kaca, mungkin maksudnya untuk memperlihatkan para pengunjung beberapa yang mereka miliki. Ciel juga terlihat memeriksa lemari itu, bahkan sepertinya dia sangat fokus lebih dari ia fokus saat mengisi soal ujian pagi tadi. Sepertinya ia tak menemukan apa yang ia cari, buku itu kelihatannya sangat langka sampai-sampai ia harus mencarinya ditoko seperti ini. Bisa aku pastikan ini adalah toko yang berisikan buku-buku tua karena didepan saja tertulis "The Oldest books are belong here" entah salah penulisan atau bagaimana aku juga tak mengerti tapi memang bisa aku pastikan begitu karena buku dalam lemari kaca ini saja semuanya seperti sudah setengah abad umurnya, ini bisa dilihat dari cover look yang sangat kusam dan agak berdebu. Apa sebenarnya yang Ciel inginkan, buku setua apa yang ia cari dan apakah buku itu sangat langka? Agak beberapa lama Ciel pun sepertinya bosan karena tidak menemukan buku yang ia cari, ia pun masuk kedalam toko dan langsung menuju kasir padahal ia belum berniat untuk membeli atau juga membayar.
Maksudnya ia menanyakan kepada sikasir toko buku yang ia cari, aku hanya masuk dan melihat-lihat buku lainnya dan buku semua disini semuanya tua dan semakin menua. Ciel kelihatannya kembali kecewa, kali ini sangat berbeda karena mungkin ia telah lelah dan tidak mendapatkan bukunya. Dengan sangat kecewa ia menuju kearah rak buku dongeng, apa yang cari buku dongeng? Aku menghampirinya karena aku takut ia akan mengamuk dan merusak semua buku disini...
"Ciel, tell me buku apa yang sebenarnya kau inginkan..."
Ia sangat sedih dibandingkan sebelumnya, mungkin karena sudah berjalan jauh dan mencari sana-sini alamat toko ini atau adakah sesuatu dengan buku ini dengannya. Aku merasa ia sangat membutuhkan buku, tidak mungkin ada seorang yang mencari sebuah buku sampai sejauh ini kalau tidak memiliki alasan yang sangat kuat dan penting. Bahkan buku ini sangatlah tua jika dibandingkan umurnya, aku sangat merasakan hal ini tapi aku tak ingin menambah rusak suasana untuk menanyakan alasannya mengejar buku langka ini. Karena aku tak pernah melihat dia berusaha sejauh ini hanya karena sebuah buku yang tak tahu aku seberapa penting buku ini untuknya, biarlah dia menikmati dulu sejuknya toko buku ini beserta dongeng yang sedang ada dalam pegangannya.
Kemudian ciel mengambil handphone didalam kantung jaketnya dan menunjukkan sebuah foto buku, seperti buku ini keluaran tahun 1950'an kebawah karena warnanya sangatlah kusam dan sepertinya buku itu adalah cetakan pertama dan tak dilanjutkan lagi cetakannya. Ia kembali menutup ponselnya dan kembali murung, tapi aku rasa kasir tidak akan tahu tentang apa yang ada disini karena urusannya hanyalah ketika orang datang membayar dan mengembalikan uang kembalian para pembeli. Lalu tidakkah orang ber-IQ 145 tidak sadar akan hal ini, aku menuju kasir dan menanyakan dimana sipemilik toko sebenarnya. Kasir mengatakan sipemilik telah lama meninggal dan sekarang hanya ada istrinya dilantai atas toko, lalu aku memintanya untuk memanggil istri pemilik toko untuk turun karena aku pikir kami bisa menemukannya disini. Dengan senyum ramah, sikasir naik kelantai atas dengan aku hanya pasrah menunggu. Ciel masih kecewa dan mengantungkan tangannya dirak buku, ia masih saja memandang kearah buku-buku dongeng tua didepannya itu. Sekitaran dua menit kasir turun bersama seorang nenek tua, dan ia adalah istri dari pemilik toko ini.
Namanya adalah Mrs. Michelle yang biasanya dipanggil Mrs. Mc dan ia kelihatannya sangat rentan dan kira-kira umurnya sekitar 70tahun, ia menyambut kami dengan senyum dan bersemangat. Aku agak ragu untuk menanyakan sebuah buku langka ini kepada Mrs. Mc karena apakah ini akan menganggunya atau malah membuatnya senang karena akan ada bukunya yang terjual, tapi lebih baik aku menanyakan kepadanya tentang buku ini...
"Glad, very happy to come here Mrs. Mc... Do you give me a favor??"
"Sure son, proceed..."
"I've looking for one books.. a rare book exactly, do you ever see this book...??"
Aku mengambil ponsel Ciel dan melihatkannya buku yang sedang kami cari ini, ia sepertinya sangat terkejut setelah melihat buku ini...
"is it really? You looking for this book?"
Dia mengambil sesuatu dari baju hangatnya, dan luar biasa itu adalah buku yang kami cari dan seandainya kalian bisa melihat betapa gilanya ekspresi yang kami ciptakan. Ciel bahkan hampir pingsan karena melihat buku itu, buku yang sudah lama sekali ia cari dan sekarang ada didepan matanya dan hanya terpisah dalam jarak hanya satu ayunan tangan. Aku tersenyum dengan lega, namun Ciel malah menangis mungkin karena terharu. Dia memeluk nenek itu, dan aku semakin tak mengerti apa yang sedang terjadi dan apa hubungan yang menyatukan tangisan, ciel, nenek dan buku ini. Kelihatannya aku akan mengetahui apa alasan ciel sangat bersyukur setelah buku ini ia temukan, ia secara spontan merangkul tangannya kelenganku dan secara manja sekali ia menyandarkan kepalanya dibahuku. Ia sangat letih hanya karena menangis, atau mungkin ada sesuatu yang lepas dari beban batinnya. Untungnya ditoko belum ada pengunjung lain saat ciel menangis, andaikan ada mungkin mereka tak akan lagi mengunjungi toko ini.
Sama denganku, nenek tadi juga heran apa alasan yang membuat ciel begitu mencari buku ini. Padahal buku ini hanya dicetak sekali dan sangatlah tua untuk selera anak-anak seumuran kami, dia masih menangis dan aku hanya bisa menahannya dibahuku. Dia mulai bercerita tentang buku itu, buku yang membuatnya begitu haru menangis tadi. Kata pertamanya adalah teruntuk padaku, ia ingin duduk sambil menyandarkan kepalanya dibahuku dan aku menyetujuinya. Nenek tadi mengajak kami kelantai atas, dan menyiapkan teh hangat untuk kami. Kami berjalan kelantai atas dan dia belum mau melepas lenganku. Nenek tadi dituntun oleh sikasir meniti tangga keatas, dan kami sekali lagi dibuat takjub oleh nenek ini. Ternyata dilantai atas adalah lautan buku-buku tua, luar biasa bahkan nenek ini bisa membuka perpustakaan kalau ia mau. Kami pun duduk disofa dan nenek mengambil dua gelas teh untuk kami, aku hanya bisa menenangkan ciel yang masih menangis.
Kami pun duduk, dan mulai mendengar ciel...
"Buku ini adalah kenanganku ketika aku mendapatkan piagam olimpiade fisika seluruh sekolah menengah akhir di Paris. Ini adalah hadiah dari nenekku, ia mengatakan simpan buku ini dan jangan sampai kau hilangkan. Tapi aku lupa dan ceroboh, aku meninggalkan disuatu hotel saat aku olimpiade tingkat dunia di London. Ketika aku pulang ke Paris, aku lupa kalau aku membawa buku itu ketika aku pulang nenek sudah masuk kerumah sakit..."
Neneknya meninggal, saat buku itu diberikan dan itulah terakhir kali ciel bertemu dengan neneknya dan dia malah menghilangkan buku itu. Dia pun mengatakan pada ayahnya dan mereka menelpon kehotel tempat ciel menginap, mereka mengatakan buku itu sebenarnya mereka temukan dan kami mengumumkan kepada pengunjung namun tak ada yang mengakui memiliki buku itu. Mereka memeriksa daftar buku pengunjung dan ada nama ciel disana, tapi mereka beranggapan bahwa ciel tak akan mungkin bisa kembali kehotel karena ciel dari Prancis. Akhirnya mereka menyimpannya, tapi salah satu pengunjung melihat buku itu dan dan malah memintanya dan karena tak ada kabar dari ciel mereka pun menyerahkan buku tersebut. Itulah penyesalan terbesar dalam hidup ciel, makanya ia bertekad sejak itu untuk bersekolah di Oxford karena lokasinya tak jauh dari London dan berharap suatu saat menemukan kembali buku itu. Nenek pemilik toko buku ini ternyata menangis juga, ia sangat tersentuh dengan perjuangan ciel untuk mendapatkan kembali buku.
Ia kemudian meyerahkan buku itu, judulnya adalah "The Strange Room" karya Claudia Lewis, gambar cover bukunya ada seorang anak balita melihat kedalam sebuah ruangan dari sebuah jendela. Ciel memeluk erat buku itu, aku rasa ia bukan memeluk buku itu tapi memeluk kenangan saat ia bersama neneknya. Setelah kami meminum teh tadi, kami memutuskan untuk kembali ke Oxford sebelum hari terlalu malam karena hari telah menunjukkan pukul 03.42 sambil menyerahkan uang yang jumlahnya cukup besar kepada nenek pemilik toko tadi, namun ia menolaknya karena ia merasa sudah terbayarkan dengan kisah perjuangan ciel mendapatkan buku itu. Namun ciel menaruh uang itu ketangan renta beliau karena ciel merasa bukan membeli bukunya tapi membeli kenangan ketika ciel bersama neneknya dan itu sangatlah mahal, dan nenek pemilik toko menerima uang tersebut dan mendo'akan kami untuk lancar dan tetap bersama. Mungkin dia mengira kami berpacaran, tapi kami hanya membalasnya dengan tersenyum. Kami pun turun kelantai bawah, dan mengucapkan kekasir atas bantuannya hari ini dan kembali sikasir melempar senyum ramahnya.
Ciel sangat senang dan ia memintaku untuk menyetir kejalan pulang, namun ia ingin membeli sesuatu lagi yaitu syal untuk dekan dan istrinya. Lalu ia pun menunjukkan jalan arah kemana aku harus pergi, disepanjang perjalanan ia tak henti-henti memeluk buku itu dengan memejamkan mata. Aku tak berani menganggunya, karena itu mungkin saja adalah kenangan terbaiknya. Setelah berjalan beberapa jauh, kami sampai disebuah toko. Kelihatannya ini akan lama, makanya aku memutuskan untuk sholat Ashar terlebih dahulu selagi dia mencari syal, aku tak membawa mobil karena tadi aku melihat masjid tak jauh dari tempat kami berhenti sekarang. Ciel dgn riangnya masuk ketoko dan aku menuju masjid, karena waktu ashar telah masuk. Untuk mencapai masjid cukup dgn berjalan kaki saja sudah sampai, disamping sehat orang yang berjalan kemasjid dgn niatan ibadah akan berlimpah pahalanya dan juga menikmati pemandangan kota London adalah alasan lainnya.
Setelah menghabiskan waktu sekitaran lima menit aku selesai sholat ashar dan kembali kearah parkiran mobil, ciel kelihatannya belum selesai berbelanja dan aku putuskan saja untuk menunggunya diluar mobil. Sambil meng-check keadaan mobil dan barang yang kami bawa tadi, aku juga sedikit khawatir membawa barang-barang sejauh ini. Setidaknya tadi aku usul untuk menaruh dulu barang dirumah dekan dan barulah berjalan ke London, tapi semuanya terlambat karena ciel selalu lebih cepat dariku dan usul ini pun menguap dgn terlambatnya aku mengutarakan usul ini. Aku beranggapan semuanya baik-baik saja, dan semoga saja lancar saat kembali pulang ke Oxford. Kelihatannya ciel begitu lama hanya untuk membeli syal saja, sedari tadi aku duduk dibangku parkiran sudah lebih dari lima belasan menit dan dia belum juga kembali. Aku curiga kalau tidak hanya membeli syal, mungkin saja dia membeli perkara lain lagi. Ini sudah hampir jam Empat sore ciel, ayolah kita harus kembali ke Oxford dan merapikan kamar kita dirumah dekan.
Ciel datang dan kelihatannya ia tak membawa syal karena yang ia bawa adalah beberapa kantong plastik dan aku pastikan dia melihat diskon didalam toko tadi, bukan namanya ciel kalau ia tak belanja besar ketika ada diskon walau diskon itu hanya sepuluh persen. Kelihatannya ia membeli makanan dan beberapa minuman, tapi untuk apa aku juga tak merasa perlu tahu untuk apa ia membeli itu. Ia memintaku membuka pintu belakang dan menaruh kantong plastik tadi, aku tak mengerti dengan anak ini. Padahal tadi ia menangis dan hampir pingsan, sekarang hormonnya sudah berubah lagi seperti ia menderita kelainan hormon saja. Sekali lagi ia memintaku untuk menyetir, ia sangat letih karena menangis tadi dan juga belanja dan aku tak akan menolaknya kalau sudah begini karena ia menawarkanku sarapan esok pagi sebagai bayarannya.
"Fine ciel, but tomorrow must be a big sandwich"
Ia mengiyakan janjinya, dan kami pun memacu mobil kembali ke Oxford kembali. Aku tak sabar untuk berdiam diri dikamar dekan, dan juga dipenuhi dengan buku-buku sinar gamma untuk dibaca...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar