Sekitar satu setengah jam kami sudah sampai di Oxford kembali, kelihatannya ciel sangat nyenyak tidur diperjalanan dan masih saja memeluk buku itu. Aku berhenti sejenak untuk minum air mineral, dan membangunkannya karena aku tak tahu dimana rumah dekan jelasnya. Awalnya ia tak mau bangun, mungkin ia mendapat mimpi indah dengan kenangan neneknya hanya karena memeluk buku itu. Tapi kalau aku tak berhasil membangunkannya maka alamat dekan ini tak akan ditemukan, karena aku hanya tahu jalan menuju masjid dan kampus dan kebeberapa restoran cepat saji disini. Aku dengan perlahan mulai bingung sendiri, tapi aku juga bingung bagaimana harus menemukan rumah dekan tanpa bantuan ciel yang sedang menjadi korban tidur lelap dan karena hari sudah sangat berani untuk meninggalkan terang dan menuju gelap pilihan yang ada hanyalah membangunkan ciel ini atau hari akan sampai malam.
Perlahan aku mencoba untuk mengerakkan bahunya namun ia tak memberi respon, dan akhirnya aku memukul pundaknya namun hanya bermaksud untuk membangunkannya. Ia kelihatan dengan sigap saat bangun dan mengusap matanya seraya menjangkau kacamatanya didashboard mobil, kelihatannya dia tahu apa tujuanku membangunkannya. Ia pun mengambil ponselnya dan memberikannya padaku, kelihatannya ia menyuruhku untuk membuka GPS dan itulah yang ia katakan dan juga mengatakan dimana rumah dekan berada. Searching pun dimulai dan kelihatanlah rumah dekan berada dimana, dan jaraknya dari kami sekarang tidaklah terlalu jauh namun juga memakan waktu. Mulailah aku memacu kembali mobil dan bergerak sesuai dengan petunjuk yang tergambar dilayar ponsel ciel, sementara dia hanya berusaha untuk sadar dari tidurnya dengan terus mengusap matanya.
Beberapa tikungan harus aku lewati, dan jalan demi jalan mulai mengantarkan kami pada rumah dekan. Sekitaran alun-alun taman mulailah jalan rumah dekan mudah untuk disusuri dibandingkan tadi karena terlalu banyak tikungan, tapi kali ini hanya beberapa dan lebih banyak jalan lurusnya. Hanya kurang dari sepuluh menit kami sampai didepan rumah dimana GPS ini berhenti memberi sinyal, apakah betul ini rumah dekan kami pun tak tahu karena belum pernah kesini sebelumnya karena kamu terlalu sibuk dengan tugas. Aku turun dari mobil lalu ciel memburuku dari belakang, aku harus mengetuk pintu dahulu barulah bertanya apakah ini rumah dekan atau tidak. Sampailah didepan rumah ini dan perlahan kuketuk pintu depan, kelihatannya ada yang memberi suara dari dalam rumah dan ternyata seorang anak remaja laki-laki yang membuka pintu. Ia langsung mempersilahkan kami masuk padahal kami belum saling mengenal, namun dari dalam rumah pula datang dekan dan kami pun bersalaman. Ia menanyakan dimana barang-barang kami dan meminta kami untuk langsung saja membawanya kedalam rumah, adik remaja tadi menolongku membawakan koper-koper kami dan ciel hanya membawa beberapa bukunya.
Kami menuju lantai atas, dan pas sekali ada dua kamar yang kosong serentak aku menaruh koper-koper dan kembali lagi kebawah mengambil beberapa barang lagi yang tersisa dan akhirnya selesai semua dan kami memilih mana barang antara punyaku dan ciel karena jelas kami akan berlainan kamar. Saat kami hampir selesai adik remaja tadi berpamitan padaku untuk pulang, lalu kepada ciel juga dan turun kebawah. Aku memilih kamar sebelah kanan dan ciel yang kirinya mungkin ia takut terlalu dekat dengan tangga, dan kami pun mulai mengatur barang kami ini. Hari semakin menuju gelap, aku hampir selesai dengan urusan ini dan ciel menuju kebawah sambil membawa handuk mungkin dia ingin mandi. Tapi ia juga membawa dua buah kado, setelah ia melewati tangga aku tak bisa melihatnya lagi dan karena urusanku dengan kamar ini selesai aku beristirahat dengan merebahkan badan keranjang kasur abu-abu ini. Serasa tulangku agak susah lurus, karena kebanyakan aku yang menyetir mobil dari tadi padahal ini adalah murni rencana ciel.
Aku sepertinya harus kebawah, melihat apa yang dilakukan ciel dengan dua kado itu dan bergegaslah aku menusuri tangga dan sampai juga dilantai bawah. Terlihat ciel tersenyum saat dekan membuka kado itu, ternyata isinya adalah syal yang ia beli tadi di London dan ternyata benar itu ciel niatkan untuk dekan. Aku pun bergabung dengan kebahagiaan itu, istri dekan juga ciel berikan rupanya dan mereka benar-benar menyukai apa yang ciel berikan itu. Mungkin dekan dan istrinya sudah lama tidak mendapatkan kado seperti ini karena anaknya yang dalam pikiranku seakan tak perduli dengan dekan, walaupun memang dekan ini berkehidupan cukup tapi yang mereka butuhkan adalah perhatian walaupun mereka sudah renta setua ini. Walaupun usia mereka sudah bisa dikatakan karatan namun hati mereka tak akan pernah menuju penuaan dan mereka tetap butuh perhatian, hanya syal sekalipun ciel tahu bahwa ini akan sangat memberi kehangatan untuk dekan yang sepi akan hal itu.
Aku kembali kelantai atas, mengambil handukku juga karena kulihat didapur ada dua kamar mandi. Entah mengapa dan apa tujuannya sehingga ada dua kamar mandi dirumah ini, tapi yang jelas aku sudah sangat gerah dan ingin segera mandi karena jam sudah hampir masuk enam sore. Turun lagi kelantai bawah dan tidak ada lagi dekan dan istrinya dibawah, hanya ada ciel yang sedang meminum air mineral dan lalu menyadari keberadaanku. Ia pun langsung menuju kamar mandi sebelah kanan sambil tersenyum manis kepadaku, haha ada apa sebenarnya dengan anak itu dan apa yang menyebabkan dia bisa sangat senang bagaikan ini haru terbaik dalam hidupnya. Entahlah, hanya dia yang tahu apa yang sedang ia rasakan dan apa yang menyebabkan itu semua. Aku pun masuk kekamar mandi sebelah kiri dari pada mencari jawaban atas pertanyaan yang diciptakan oleh ciel, biarlah nanti semua itu akan terbuka dengan sendirinya. Serasa begitu segar mandi disini karena mungkin juga aku sudah terlalu gerah dan letih makanya begitu segar rasanya, dan ini mungkin sangatlah lebih dari segar.
Tak beberapa lama kemudian aku selesai mandi, sepertinya aku terlebih dahulu selesai dibandingkan ciel yang memang mungkin wanita butuh waktu lebih banyak untuk mandi. Bergegaslah aku menuju kekamarku dan menganti dengan pakaianku, seperti biasa aku hanya memakai celana panjang dan baju kaos yang kubawa dari Indonesia lalu aku memunaikan sholat Maghrib dikamar. Tak lama setelah aku selesai menunaikan sholat ada yg mengetuk pintuku...
"Ridhoo... Cepatlah, kita harus makan kebawah"
"Iya aku akan bergegas"
Ciel rupanya, ia mengingatkan kepadaku untuk cepat kebawah karena makanan sudah siap dan ketika aku sampai dimeja makan aku sangatlah terkejut. Mereka ternyata sudah menyiapkan begitu banyak makanan, ada berbagai macam dan tentu saja mataku tertuju kepada makanan yg bukan daging karena aku seorang vegetarian. Ada roti, salad, keju, jagung, kentang, dan telur dadar, mereka menawarkanku beberapa daging tapi dengan halus aku katakan aku seorang vegetarian. Ini adalah alasan yg sehat menurutku, takutnya mereka akan beranggapan lain jika aku mengatakan aku seorang muslim. Kami pun makan dengan lahap apalagi ciel, tak henti-hentinya ia tersenyum sambil makan semua makanan yang tersedia. Intinya ciel sangatlah ceria malam itu, bahkan ini adalah hari yg penuh senyuman ciel bagiku.
Aku selesai duluan, dan permisi untuk kekamar dengan alasan ingin merapikan beberapa alatku yg masih berantakan. Sementara itu ciel membantu membereskan perlengkapan makan kami tadi, cukup lama aku dikamar ciel memanggilku kembali. Ia memintaku keluar dan membantunya, ternyata ia tak dikamarnya tapi diruang tamu. Ia memintaku untuk membantunya mengoreksi hasil ujian kelas dekan, bukan kelas kami tentunya. Banyak sekali, kalau dihitung mungkin jumlahnya ada 200kertas jawaban ujian dan semuanya adalah essay. Kami diberi kepercayaan mengoreksi tersebut dengan panduan kertas jawaban dari dekan, ia berpesan kalau kurang pas beri saja nilai 1 dan kalau pas dengan kertas paduannya beri nilai 3. Ternyata ini adalah kertas ujian dari kelas lain, sepertinya ini kertas ujian mahasiswa yang baru masuk kedalam kelas.
Ciel begitu teliti, sedangkan aku hanya mencari kata kuncinya kalau ada maka aku beri nilai 3 kalau tidak ya 1 saja sudah beruntung. Kelihatannya ini sudah sangat larut, kelihatan sekali karena dingin sudah berbeda. Dekan sudah tidur karena lampu kamarnya sudah mati, aku lihat jam didinding rumah telah menunjukkan pukul 23.45. Sebenarnya ketika aku permisi selesai untuk sholat isya tadi, dekan telah mengatakan kepada kami tidurlah walaupun itu belum selesai namun kami merasa sudah terlanjur dan harus menyelesaikan pekerjaan ini. Akhirnya!!! Selesai juga tugasku, dan aku lirih kearah ciel ia tertidur dimeja ruang tamu dengan pulas. Aku tak mau membangunkannya, namun ada dua buah kertas yg belum ternilai dan akulah yg menyelesaikannya. Setelah itu, aku merapikan lagi semua kertas jawaban tadi dan mencoba membangunkan ciel. Ia tak bangun juga, dan aku putuskan membawanya dengan mengangkatnya dengan kedua tanganku.
Sampai dikamarnya, aku selimuti dia dan saat itulah ia terbangun...
"Thanks..."
"Hmm... Have a nice dream ciel"
Setelah itu aku pun pindah kekamarku, ia begitu cantik saat mengatakan thanks tadi....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar