Barang-barangnya hanyalah dua koper baju dan beberapa buku-buku kuliahnya, perabotan jelas akan ditinggalkannya. Tapi tiba-tiba ada suara dari dalam rumah, aku jelas kaget bagaimana bisa ada suara dari dalam rumah. Ternyata ada seorang ibu yang keluar dari rumah Ciel, kelihatannya itu adalah orang yang bekerja dirumahnya sebagai pembantu. Ia terburu-buru ingin memberikan sesuatu kepada Ciel. Aku tak memperhatikan secara sempurna, tangan kanan dan kiriku telah memegang koper dan segera membawanya keluar menuju kemobil, Ciel menghampiriku dengan membawa beberapa buku kuliahnya. Kami mencoba untuk mengaturnya agar semua barang kami termuat didalam bagasi mobil, aku bahkan belum bertanya kepada Ciel sejak kapan ia mendapatkan mobil ini. Urusan mengatur tempat barang-barang pun selesai dan kami pun sekarang siap untuk kerumah dekan, aku diminta Ciel untuk masuk terlebih dahulu sementara ia masuk kedalam rumahnya kembali beberapa saat. Didalam mobil aku memikirkan kalau Ciel adalah orang kaya, tapi dia hanya menceritakan tentang kakaknya sedangkan bercerita tentang orang tuanya adalah hal yang ia selalu hindari.
Didalam mobil ia memutarkan lagu-lagu berbahasa prancis, nadanya bersemangat dan dapat aku mengerti kalau ia memang saat ini sangat bersemangat untuk pindah. Ia sepertinya melupakanku kalau aku ada didalam mobil, baguslah jika seandainya ia tahu maka pasti aku akan mendengar lagi ocehan mimpinya lagi. Aku hanya menikmati bangunan-bangunan tua kota Oxford, sangat kokoh dan begitu kuat menurutku. Apalagi dengan lagu prancis yang sedang berputar ini, aku hanya bisa menikmatinya tanpa tahu arti sebenarnya. Ciel dari tadi fokus menuju jalan kerumah dekan, namun tiba-tiba ia kembali menepuk pundakku. Ah habislah aku, ia pasti akan berbicara tentang mimpi barunya lagi. Tapi kali ini tidak, ia malah menanyakan jam berapa sekarang dan aku lihat ini jam 12.48 tanpa mengingat sesuatu. Kemudian ia mengatakan...
"Bukankah kau sering izin sepuluh menit kalau siang, kau bilang kepada para dosen untuk..."
"Astagfirlah! Sholat Dzuhur..."
"Aku tahu dimana dimana masjid terdekat sini, aku akan menunggumu..."
Ia tersenyum setelah mengatakan itu kepadaku, layaknya ia sangat tulus berniat untuk membantuku. Ia pun memacu mobilnya kesebuah masjid di Oxford, aku juga tahu sebenarnya disini ada masjid karena disinilah aku sholat jum'at. Ia memarkirkan mobilnya disalah satu restoran cepat saji, tempat aku sering mengambil part job seketika ada waktu.
"Aku akan memesan beberapa makanan, selagi kau beribadah... Aku traktir ya?"
"A.. emm... tapi Ciel.."
"Dagingnya bisa diganti sosis, tenang. Sudah sana pergilah cepat waktumu sedikit lagi..."
Aku keluar dari mobil dan menuju masjid, aku lihat kebelakang dan terlihat ia mengambil beberapa uang dari dompetnya. Begitulah Ciel, dia sering sekali mentraktirku makan. Memang diantara siswa dalam kelas akulah yang paling rendah ekonominya, uang yang dikirim orang tuaku akan habis jika aku membeli makanan cepat saji terus. Makanya aku hanya makan roti yang kubakar sendiri dengan resep dari tukang roti bakar depan kostku dulu di Indonesia, barulah malam aku makan nasi karena ibuku selalu mengirim beras. Aku pun sebenarnya membawa perlengkapan memasak nasi kerumah dekan, karena hanya itu perlengkapan yang aku bawa dari Indonesia. Kompor aku pinjam dari kedutaan, karena aku tak begitu suka membeli disini. Setibanya didepan masjid tak lupa aku mengambil wudhu dahulu, lalu masuk masjid dan sholat. Aku berdo'a selalu minta kelancaraan disini dan kesehatan bagi orang tuaku disana. Sekitar lima menit aku sudah selesai sholat, bergegaslah aku menuju mobil Ciel dan dia telah menunggu sambil mengunyah Sandwichnya.
"Ciel, kau mengunyah seperti bayi. Berikan aku tisu..."
"Ada dibelakang, untuk apa..."
Setelah mendapatkan beberapa helai tisu, dan melipatnya agar lebih pas. Aku mencoba untuk membersihkan saos tomat yang ada dipipinya, awalnya dia tetap mengunyah berantakan dan semakin merepotkan karena saosnya semakin berkembang kemana-mana...
"Ciel berhentilah menjadi bayi, atau kau akan membiarkanku menyakiti pipimu...?"
"It's means that you will...???"
Ia telah tahu apa maksudku, aku tarik pipinya dan dia mengaduh kesakitan. Aku sering melakukannya kalau dia keras kepala, tapi kali ini dia sangat menikmati tarikan itu. Dia bahkan hampir membalasnya, tapi aku sudah terlebih dahulu mendapat tangannya dan tanpa sengaja mengarahkan tangannya kearah klakson mobil. Bayangkan saja bagaimana bunyinya, dan ia malah tertawa ketika hal itu terjadi. Aku pun menarik kepalanya untuk kusandarkan kebahuku, kami seperti sedang bermain gulat didalam mobil saja namun dia tak berhenti tertawa. Entah apa yang terjadi padanya hari itu, dan bahkan aku yang menjadi letih terpongah-pongah mengambil nafas. Dia sangat menyukai kelelahanku ini, dasar Ciel. Nampaknya ia letih juga, dan ia mengajakku untuk ke London beberapa saat karena ia ingin membeli sesuatu. Aku pun menyetujuinya, dan mulailah kami bergegas menuju london karena jaraknya bisa ditempuh dengan perjalanan mobil, mulailah kami berjalan dengan senangnya ia pun memacu mobilnya itu.
Didalam perjalanan aku menikmati sekali sandwich dan kopi yang ia belikan saat aku sholat dzuhur tadi, sesekali aku membalas apa yang ia katakan. Sepanjang jalan ia menceritakan ia akan membeli sebuah buku yang sangat langka, bahkan waktu liburan semester dan ia pulang kerumahnya di Paris ia tak menemukannya. Aku penasaran dengan buku yang ia cari, memang ia adalah kutu-buku dan apabila satu buku itu tamat dibacanya maka ia tak akan menyesal menyumbangkan buku itu keperpustakaan di Oxford baik itu perpustakaan umum maupun perpustakaan kampus.
"Ciel kau begitu royal dan aku ingin sekali tahu seberapa kaya keluargamu, aku pernah diberitahukan oleh wakil dekan kita dan beliau mengatakan kau adalah..."
"Jangan dipercaya, aku ini hanyalah dari keluarga pekerja keras dan aku begini karena kakakku yang bekerja sebagai pialang saham selalu memberiku uang perminggu dan itu sudah sangat berlebihan..."
"Dan itu adalah..."
"Bukan, itu bukanlah kaya..."
"Mengapa kau selalu merendah, Ciel?"
"Karena aku belum sekalipun mewujudkan mimpi dihadapan orang yang selalu mendengar impianku ini tanpa menyela dan apa hak yang ada padaku untuk menyombongkan diri???"
"Kata-katamu luar biasa, kurasa kau terlalu banyak membaca buku dongeng pikachu dan mabuk darat mungkin...???"
"Sudah diamlah, sedikit lagi kita akan berhenti sebentar mobil ini juga perlu makanan"
Aku hanya mematuhinya, dan melanjutkan mengunyah sandwich ini dan sepertinya aku kelaparan karena tadi pagi aku lupa sarapan karena ujian. Kurang lebih beberapa menit kami berhenti dan Ciel keluar untuk mengisi minyak mobilnya, aku mencoba untuk mengambil pemutar mp3 mobil ini dan menukarnya dengan lagu berbahasa inggris. Setelah aku mengatur playlistnya dengan cepat aku taruh lagi ditempatnya tadi, kelihatannya playlist tadi lagu yang Ciel tak pernah dengar. Dalam ingatanku lagu favoritnya saja dari Prancis semua dan hanya sedikit lagu berbahasa inggris, entahlah mungkin dia terlalu mencintai nada mayor yang orang prancis ciptakan. Kelihatannya ia sudah selesai dan akan segera masuk kedalam mobil lagi, tapi ia membawa beberapa makanan ringan dan aku pastikan itu untuk snack selama perjalanan. Ternyata ia tak masuk dari pintu tempat ia menyetir tadi, ia menuju kearah pintuku...
"Sebaiknya kau yang menyetir sekarang, aku lelah..."
"Lelah dan lapar, exactly?
"Perhaps..."
Aku pun keluar dan bertukar tempat duduk, kali ini giliranku menyetir dan membiarkan ia beristirahat mungkin baginya koper baju dan beberapa buku sama beratnya dengan memindahkan rumah baginya. Kupacu pedal gas mobil ini dan kembali melanjutkan perjalanan kearah London...
"Ciel, tolong hidupkan mp3 atau aku berhenti..."
"Iya sabar, aku sedang sibuk mengunyah..."
"Tolong, apapun judul lagu yang terputar nanti jangan kau tukar..."
"Iya, lihat saja jalan dan menyetirlah dengan baik..."
Musik pun mulai masuk intro dan kelihatannya ia sangat bingung karena ia tak pernah mendengar musik awal seperti itu dari lagu prancis, dan mulailah ia sangat bingung karena lagunya ternyata bukan lagu dari prancis...
"Kau begitu hebat, kau berhasil menipu seorang sepertiku..."
"Of Course, dan kau terikat janji untuk tidak akan menukar lagunya..."
"Aku akan tidur, menyetirlah dengan baik..."
Ciel pun mengambil syal miliknya yang terlingkar dibangku belakang dan mencoba untuk mengarahkan AC mobil kearahnya, ia pun mencoba untuk tidur sedangkan aku harus tetap menyetir sampai pinggiran kota London karena saat itu kami akan bertukar posisi lagi. London belum begitu aku kenali dan aku juga belum berpengalaman mengendarai mobil disana, dibandingkan Ciel mungkin dia lebih mengerti dibandingkan denganku. Ciel ternyata telah tidur, kami telah berjalan selama lima puluh menit dan mungkin akan sampai beberapa puluh menit kedepan lagi. Aku hanya berharap ini berjalan lancar dan Ciel tetap tertidur, bayangkan saja jika dia mengoceh mimpi lagi sedangkan aku harus menyetir mungkin kosentrasiku tak akan bisa penuh untuk menyetir. Setelah
berjalan hampir cukup lama aku pun menyadari kami sudah sampai dipinggiran kota London, dan ini adalah waktu untuk bertukar posisi lagi.
"Ciel, bangunlah kita sudah dipinggiran kota London... Kau lagi yang menyetir"
"Baiklah, kau mau membeli buku juga...???"
"Kita lihat nanti saja, aku tak begitu menyukai buku sepertimu"
Ia pun mengambil posisi untuk menyetir dan aku pindah keposisi awal, dengan cepat ia memacu mobil kembali untuk masuk kekota London. Aku sangatlah bersyukur karena liburan kali inilah pertama kali kesini, karena dari kemarin aku hanya mengambil part job di Oxford. Sambil mengunyag snack punya Ciel yang masih bersisa aku sangat menikmati suasana siang dikota London, tidak terlalu ramai karena jam makan siang telah selesai. Ciel mencari-cari toko buku dari tadi, dan aku pikir ia telah melewatkan salah satu toko buku ternama disini. Lalu apa yang ia cari? Aku yang tak tahu hanya bisa mengunyah dan menikmati wajah polos Ciel, mungkin ia tak menemukan buku langka yang tadi sepanjang jalan ia ceritakan. Akhirnya mobil Ciel berhenti karena memang lampu merah, ia mengambil handphonenya dan mencoba membuka pesan. Ketika lampu sudah hijau ia pun memacu kembali mobilnya, tapi kami kembali berhenti disebuah toko buku dan ini kelihatannya berisikan buku-buku tua. Kami pun turun, dan aku hanya mengikutinya dengan polos karena aku begitu takjub dengan London.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar